Rimpu: adalah suatu tradisi budaya khas daerah bima dan dimensi busana bercadar siwe mbojo. Perempuan bima!!

REDAKSI

- Redaksi

Minggu, 28 April 2024 - 13:36 WIB

50171 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TLii l NTB l kota/kabupaten bima l www.timelinesinews.com-Rimpu adalah memakai sarung dengan melingkarkannya pada kepala dimana yang terlihat hanya wajah pemakainya dengan menggunakan sarung. Tradisi kebudayaan rimpu, yang merupakan salah satu hasil kebudayaan masyarakat Bima.

Umumnya, kaum perempuan memakai rimpu untuk menutup auratnya, sebagaimana ajaran Islam mengajarkan bahwa setiap kaum perempuan yang sudah aqil balik harus menutup auratnya di hadapan orang yang bukan muhrimnya.

Dalam masyarakat Simpasai diwujudkan dengan memakai sarimpu sebagai bentuk ketaatannya kepada Allah SWT. Budaya rimpu mulai dikenal sejak masuknya Islam di Bima yang dibawa oleh tokoh-tokoh agama dari Gowa Makassar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meskipun di masyarakat Gowa sendiri tidak mengenal budaya rimpu sehingga budaya rimpu merupakan hasil dari kebudayaan kaum perempuan di Bima khususnya di Simpasai. Budaya “rimpu” telah hidup dan berkembang sejak masyarakat Bima ada.

Rimpu merupakan cara berbusana yang mengandung nilai-nilai khas yang sejalan dengan kondisi daerah yang bernuansa Islam (Kesultanan atau Kerajaan Islam). Apa dan bagaimana budaya rimpu pada masyarakat perempuan bima akan diulas dalam tulisan ini.

Bima dikenal dengan nama Mbojo yang berasal dari kata babuju yaitu tanah yang tinggi yang merupakan busut jantan yang agak besar, tempat bersemayamnya raja-raja ketika dilantik dan disumpah, yang terletak di kamopung Dara. Sedangkan namn Bima, merupakan nama leluhur raja-raja Bima yang pertama.

Dulunya, Bima merupakan kerajaan terpenting di Pulau Sumbawa maupun Di kawasan Sunda Kecil pada Kurun waktu abad ke 17-19. Kerajaan Bima dalam perkembangannya banyak melakukan hubungan dengan Makasar. Bima terletak di tengah-tengah jalur maritim yang melintasi Kepulauan Indonesia, sehingga menjadi tempat persinggahan penting dalam jaringan perdagangan dari Malaka ke Maluku.

Sejumlah peninggalan purbakala dan prasasti serta kutipan dari teks Jawa Kuna seperti Nagarakertagama dan Pararaton membuktikan bahwa pelabuhan Bima telah disinggahi sekitar abad ke 10 Waktu orang Portugis menjelajahi Kepulauan Nusantara, Biama telah menjadi pusat perdagangan yang berarti.

Pada dasawarsa kedua abad ke 16. Sejarah dan tradisi dibima tidak terlepas dari tradisi budaya bugis, dikarenakan suku mbojo, suku bugis, suku gowa, dan Makassar. Empat suku tersebut merupakan tradisi budaya. Atau sebagai tanda ketaatannya kepada allah swt.

Bima-mbojo adalah merupakan wilayah yang terletak pada pulau sumbawa provinsi nusa tenggara barat (NTB), bima juga dikenal sebagai tanah sumbur. Yang dimana masyarakat bima selain dari memperingati hari rimpu mantika. Dana mbojo. Tanah bima dikenal sebagai dana ma mbari.

Kembali pada persoalan rimpu, Rimpu merupakan salah satu ciri khas adat seni busana perempuan bercadar yang ada di bima. Tidak terlepas dari situ saja, rimpu juga membentuk Karismatik dan kepribadian seseorang, pada abad 18 masehi.

Namun setelah di refiu kembali, ternyata rimpu, kata lain dari cadar, atau wanita bercadar. Sebagai bentuk citra diri seorang perempuan bima mbojo. Melihat pada tata letak geografis sejarah mbojo bima. Bima merupakan daerah yang di kenal paling keras namun berwibawah, sehingga pada abad pertengahan 20, bima memiliki sumber daya tarik untuk daerah lain luar dari daerah bima.

Rimpu mempunyai tiga makna:
1. Perempuan bercadar
2. Ketaatan kepada tuhan
3. Membentuk citra diri

Tiga poin itu adalah sebagai landasan atau filosofis, sehingga dikenal rimpu, berarti menutupi dan kebijaksanaan seseorang.

Di tulis oleh: HAMDIN PUTRA PARADO

Berita Terkait

Isteri Gubernur, Marlina Muzakir Turun ke Dapur TAGANA, Ikut Bungkus Nasi untuk Korban Banjir Aceh Selatan
Ops Patuh Toba 2026, Sat Lantas Polres Pelabuhan Belawan Gelar Ramp Check Angkutan Umum
KAI Sumut Perkuat Mitigasi Risiko Cuaca, Utamakan Keselamatan dan Kenyamanan Pelanggan 358 Pohon Dipangkas, 1.650 Meter Saluran Air Disiapkan untuk Antisipasi Cuaca Ekstrem
Sinergi Rutan Tanjung dan Kemenag Wujudkan Pembinaan Kepribadian Optimal Berkelanjutan Tanamkan Keimanan Kedamaian Perubahan Positif
Kalapas Kelas IIA Binjai Mochamad Mukaffi Hadiri Kunker Kapolda Sumut Irjen Sonny Irawan di Mako Polres Binjai
Tingkatkan Kepedulian Kesehatan, Lapas Narkotika Samarinda Latih 58 WBP Menjadi Kader Kesehatan
Perkuat Sinergi Keamanan, Kalapas Narkotika Samarinda Kunjungi Polresta Samarinda
Rapat Koordinasi Pembentukan Panitia Susun Rangkaian Kegiatan Bahas Teknis Agar Tertib Khidmat Penuh Sukacita

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 21:06 WIB

Perkuat Sinergi Keamanan, Kalapas Narkotika Samarinda Kunjungi Polresta Samarinda

Senin, 2 November 2026 - 19:43 WIB

Lapas Narkotika Samarinda Perkuat Integritas dan Solidaritas Melalui Apel Pagi Senin

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 00:36 WIB

Lapas Narkotika Samarinda Gelar Sidang TPP, Bahas 34 Usulan Warga Binaan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 00:29 WIB

Jumat Berkah, Lapas Narkotika Samarinda Salurkan 75 Kg Beras untuk Masyarakat RT 22 Samarinda Utara

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:26 WIB

Dukung Ketahanan Pangan, Lapas Narkotika Samarinda Panen Kangkung Hasil Pembinaan Kemandirian Warga Binaan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:19 WIB

Majelis Taklim Jadi Sarana Pembinaan Kepribadian Warga Binaan Lapas Narkotika Samarinda

Rabu, 28 Oktober 2026 - 23:14 WIB

Kalapas Narkotika Samarinda Ikuti Pelantikan Pimpinan Tinggi Kemenimipas dan Kick Off Hari Bakti ke-2 Tahun 2026 Secara Virtual

Rabu, 28 Oktober 2026 - 23:08 WIB

Peringati Hari Sumpah Pemuda ke-98, Lapas Narkotika Samarinda Kobarkan Semangat Patriotik, Gigih, dan Berempati

Berita Terbaru