Mahkamah Syar’iyah Tegas: Tak Ada Alasan “Suka Sama Suka” Jika Korbannya Anak: Ini Kata Ketua MS Blangkejeren

REDAKSI

- Redaksi

Sabtu, 21 Juni 2025 - 19:13 WIB

50128 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TLii | ACEH – Blangkejeren, 21 Juni 2025 — Ketua Mahkamah Syar’iyah Blangkejeren, Taufik Rahayu Syam, S.HI., M.S.I, mengimbau masyarakat Gayo Lues untuk lebih memahami dan mematuhi ketentuan hukum jinayat yang ada di Aceh, terdapat beberapa kesalah fahaman dan ketidakmengertian terkait pelaksanaan hukum jinayat, sebagai contoh beberapa elemen masyarakat mempertanyakan terkait kasus perertubuhan pria dan wanita yang divonis Mahkamah Syar’iyah Blangkejeren sebagai kasus pemerkosaan bukan perzinahan.

Dalam keterangannya kepada media Seputar Gayo Lues, Taufik menerangkan bahwa beberapa putusan Mahkamah Syar’iyah Blangkejeren memvonis persetubuhan antara pria dan wanita dengan vonis pemerkosaan, menurutnya hal ini disebabkan karena pihak wanita masih dibawa umur alias belum mencapai usia 18 tahun, keputusan Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Blangkejeren ini dilandaskan pula pada Yurisprudensi Mahkamah Agung yang terdapat dalam Putusan Nomor 2 PK/Ag/JN/2024. Kaidah yurisprudensi ini secara tegas menyatakan bahwa:

> “Persetubuhan orang dewasa dengan anak, meskipun dilakukan atas dasar suka sama suka, tetap dihukumi sebagai pemerkosaan (statutory rape), dan pelakunya dijatuhi ‘uqubat ta’zir berupa hukuman penjara. Pengecualian hanya berlaku jika pelaku juga adalah anak.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Taufik menegaskan bahwa legal rasioning ketentuan tersebut didasarkan karena anak dinilai belum memiliki kapasitas hukum (tamayyuz dan baligh) untuk memberikan persertujuan untuk berhubungan seksual. Oleh karena itu orang dewasa yang berhubungan seksual dengan Anak dinilai

telah melakukan tindakan eksploitasi seksual terhadap anak, meskipun tidak ada unsur paksaan atau ancamaan.

> “Secara hukum syar’iyah, anak belum memiliki kapasitas hukum untuk memberikan persetujuan yang sah dalam hubungan seksual. Maka, setiap perbuatan itu tetap dianggap sebagai jarimah (tindak pidana) pemerkosaan dan akibatnya ia (pelaku) akan mendapat uqubat jarimah pemerkosaan yakni penjara minimal 150 bulan dan maksimal 200 bulan,” jelasnya dari ruang kerjanya di Mahkamah Syar’iyah Blangkejeren.

Sebagai informasi, Yurisprudenai Mahkamah Agung yang menyatakan persetubuhan dengan anak merupakan pemerkosaan merupakan putusan yang lahir dari proses hukum yang panjang, perkara ini bermula dari perkara jinayat di Mahkamah Syar’iyah Tapaktuan atas nama Terdakwa Safrisah bin Samsul Bahri, melawan Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Aceh Selatan, dengan rincian sebagai berikut:

Tingkat Pertama: MS Tapaktuan No. 7/JN/2022/MS.Ttn

Banding: MS Aceh No. 44/JN/2022/MS.Aceh

Kasasi: MA RI No. 4K/Ag/JN/2023

Peninjauan Kembali (PK): MA RI No. 2 PK/Ag/JN/2024

Majelis Hakim yang menangani perkara di tingkat PK ini – sehingga putusan tersebut dipilih menjadi yurisprudensi adalah: Dr. H. Yasardin, S.H., M.Hum, Dr. H. Abdul Manaf, M.H dan Dr. H. Imron Rosadi, S.H., M.H

Taufik Rahayu Syam mengajak seluruh elemen masyarakat — mulai dari tokoh adat, tokoh agama, hingga para guru dan kepala desa — untuk bersama-sama memberikan edukasi dan perlindungan terhadap anak-anak di lingkungan masing-masing.

> “Kita tidak hanya menegakkan hukum, tapi juga menjaga martabat anak-anak kita dari kehancuran masa depan. Jangan ada lagi pembiaran, apalagi justifikasi yang melemahkan perlindungan terhadap anak,” tegasnya.

Sebagai langkah lanjut, Taufik meminta instansi terkait di Kabupaten Gayo Lues untuk menggencarkan program sosialisasi hukum jinayat ke gampong-gampong, lembaga pendidikan, dan komunitas remaja untuk memberikan pemahaman lebih terkait pelaksanaan hukum jinayat di Aceh, khususnya di Kabupaten Gayo Lues.

Laporan: Kang Juna – Seputar Gayo Lues

Berita Terkait

Rutan kls I Labuhan Deli Ikuti Pelantikan Pimti dan Kick Off Hari Bakti Kemenimipas.
Wabup Toba: Kita Butuh Generasi Patriotik, Gigih, dan Berempati untuk Indonesia Maju
Apresiasi diberikan pada Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 Kabupaten Langkat atas Kontribusi Pembinaan Masyarakat
Lapas Pemuda Kelas III Langkat Peringati Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 Usung Tema Patriotik Gigih Berempati
Lapas Perempuan Medan Ikuti Uji Petik Pengumpulan Data Terkait Usul Perubahan Pidana
Kalapas Endang Sriwati Pimpin Upacara Bacakan Amanat Menpora Erick Thohir Jaga Api Persatuan Kolaborasi dan Inovasi Indonesia Maju
Upacara Sumpah Pemuda ke-98 di Langsa, Patriotisme dan Persatuan Jadi Pesan Utama
Semangat Sumpah Pemuda, BNNP Aceh Ungkap Ladang Ganja Seluas 18 Hektare di Aceh Utara

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:06 WIB

Lapas Perempuan Kelas IIA Pekanbaru Ikut Dukung Komitmen Pengamanan Pembinaan WBP dan Pencegahan Gangguan Kamtib

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:27 WIB

Lapas Perempuan Kelas IIA Pekanbaru 26 Oktober 2026 Pastikan WBP Bersih dari HP Ilegal Wujudkan Lapas Aman Tertib

Jumat, 23 Oktober 2026 - 19:35 WIB

Kalapas Endang Sriwati Dampingi Kegiatan Bersama Ibu Asuh dan Petugas Klinik Wujud Pelayanan Humanis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 19:26 WIB

Lapas Perempuan Pekanbaru Komitmen Wujudkan Lingkungan Pemasyarakatan Sehat Aman dan Peduli Kesehatan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 19:45 WIB

Kalapas Endang Sriwati Hadiri Monev Capaian Kinerja Kanwil Ditjenpas Riau

Selasa, 20 Oktober 2026 - 16:54 WIB

Lapas Perempuan Pekanbaru Komitmen Kembangkan Program Pembinaan Berkelanjutan Bermanfaat Nyata

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:34 WIB

Lapas Perempuan Pekanbaru Komitmen Pelayanan Humanis dan Responsif Dukung Pembinaan

Senin, 12 Oktober 2026 - 06:40 WIB

Paminal Periksa Kombes Silvester Kasus PLN Batam Kini Disorot: KPK Harus Bertindak?

Berita Terbaru