Bedah Buku Generasi Hijauku: Merawat Alam, Menjaga Identitas, Menumbuhkan Kesadaran 

REDAKSI

- Redaksi

Rabu, 18 Maret 2026 - 06:17 WIB

50214 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gayo Lues, 1 Februari 2026 — Upaya membangun kesadaran ekologis tidak cukup hanya dengan seruan moral atau kampanye sesaat. Dibutuhkan ruang literasi yang mampu menghubungkan pengetahuan, nilai, dan tindakan. Hal inilah yang mengemuka dalam kegiatan Bedah Buku Generasi Hijauku (Episode 1) yang menghadirkan Syahputra Ariga, Ketua Umum Perkumpulan Mahasiswa Gayo Lues Se-Indonesia (PMGI), sebagai pemateri utama.

Dalam pemaparannya, Syahputra Ariga menegaskan bahwa buku Generasi Hijauku tidak sekadar berbicara tentang lingkungan sebagai objek konservasi, melainkan memposisikan alam sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Gayo. “Alam bukan hanya sumber daya ekonomi, tetapi ruang hidup yang membentuk cara berpikir, bertindak, dan berelasi. Ketika alam rusak, yang hilang bukan hanya fungsi ekologis, tetapi juga jati diri kolektif,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Diskusi mengupas bagaimana perubahan cara pandang manusia terhadap alam—dari identitas menjadi komoditas—telah melahirkan berbagai krisis lingkungan. Kerusakan hutan, krisis air, konflik satwa, hingga pertanian yang tidak berkelanjutan dipahami sebagai “luka alam” yang berakar dari luka sosial: keserakahan, ketimpangan, dan hilangnya etika hidup.

Buku ini juga menyoroti memudarnya nilai-nilai adat Gayo seperti Kemali, Sumang, dan Edet yang dahulu berfungsi sebagai pagar moral dalam menjaga relasi manusia dengan alam. Syahputra Ariga menekankan bahwa krisis lingkungan tidak bisa dilepaskan dari krisis nilai. “Adat tidak boleh diposisikan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai nilai hidup yang kontekstual dan relevan dengan tantangan hari ini,” katanya.

Dalam konteks modernitas, diskusi menempatkan pemuda Gayo pada posisi strategis. Arus teknologi, media sosial, dan budaya global tidak dipandang sebagai ancaman mutlak, melainkan tantangan yang harus direspons dengan kesadaran identitas. Pemuda dituntut mampu berinovasi tanpa tercerabut dari akar budaya dan nilai ekologis. Modernitas yang tercerabut dari nilai, menurut buku ini, justru berpotensi mempercepat kerusakan alam dan krisis sosial.

Isu kopi Gayo menjadi salah satu bahasan penting. Kopi tidak hanya dipahami sebagai komoditas unggulan, tetapi simbol relasi manusia dengan tanah. Ketika dikelola tanpa etika ekologis, tanah menjadi lelah dan rentan rusak. Sebaliknya, praktik kopi berkelanjutan dapat menjadi jalan kemandirian ekonomi sekaligus pelestarian alam. Diskusi juga menyoroti lemahnya posisi tawar petani dalam rantai ekonomi kopi dan pentingnya membangun ekonomi hijau yang adil.

Lebih jauh, Generasi Hijauku menekankan pendidikan hijau sebagai jalan panjang perubahan. Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai proses di ruang kelas, tetapi juga melalui keluarga, komunitas, dan ruang-ruang literasi. “Literasi adalah jantung perubahan. Dengan membaca, berdiskusi, dan menulis, kesadaran ekologis tumbuh secara kritis, bukan dogmatis,” ujar Syahputra Ariga.

Dimensi spiritual turut menjadi landasan penting dalam diskusi. Menjaga alam dipahami sebagai bagian dari iman dan amanah Tuhan. Alam adalah ayat kehidupan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi tanpa batas. Namun, tantangan terbesar adalah ketika pesan moral dan agama sering kali kalah oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.

Menutup diskusi, buku ini mengajak pembaca melampaui wacana menuju tindakan nyata. Menjadi “Generasi Hijau” berarti berani memulai dari langkah kecil—dari kesadaran diri, komunitas, hingga gerakan kolektif. Seperti ditegaskan pemateri, “Kita bisa mengamalkan semua nilai itu apabila kita yakin dengan iman, mengusahakan dengan ilmu, dan menyampaikan dengan amal. Maka yakin, usaha sampai.”

Bedah buku ini menjadi penegasan bahwa literasi bukan hanya soal membaca teks, tetapi membaca realitas. Menjaga alam berarti menjaga manusia, budaya, dan harapan generasi masa depan. (Sahputra Ariga).

Berita Terkait

Dugaan Pengutipan Bantuan di Gampong Cebrek Disorot, Kadinsos Aceh Utara Tegaskan Apa Pun Alasannya Tidak Boleh!
Bhayangkari Gelar Khitanan Massal, Donor Darah, dan Santunan bagi Anak di Pidie Jaya
Maulid di Yayasan Srikandi Lhokseumawe, 21 Anak Yatim Terima Santunan, Siswa Ikuti Lomba Islami
Dikonfirmasi soal Dana SPP, Kepala SMA Negeri 3 Kutacane Diduga Blokir Nomor Wartawan, Transparansi Dipertanyakan
66 Unit Alat Berat Perkuat Rehab-Rekon Pidie Jaya, Bupati Sibral Jemput Dukungan Pusat
82 Masjid di Aceh Besar Umumkan Khatib dan Imam Shalat Jumat, 16 Oktober 2026
Penelusuran Jejak Sejarah Multietnis dan Bahasa Daerah Generasi Z di Kota Langsa
DPR Aceh Dukung Penuh Pembangunan Jembatan Mbarung dan Natam di Aceh Tenggara

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:50 WIB

Kapolres Pematangsiantar Bersama Jajaran Gelar Sholat Jumat Keliling, Pererat Silaturahmi dan Ajak Warga Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:46 WIB

Sat Lantas Polres Pematangsiantar Edukasi TK Tertib Berlalu Lintas Sejak Usia Dini 

Jumat, 16 Oktober 2026 - 22:02 WIB

Program Tumbuh Bersama,PT Pelindo Regional I Dorong Peningkatan Kualitas SDM melalui Pembangunan Sekolah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:50 WIB

Green Policing, Kapolres Toba Ajak Masyarakat Tanam Pohon: “Alam Jaga Kita, Kita Jaga Alam”

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:40 WIB

Bapas Palangka Raya Gali Kesiapan Lingkungan, Dukung Keberhasilan Reintegrasi Sosial Klien Pemasyarakatan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:29 WIB

Kepala Bapas Theo Adrianus Tegaskan Pelayanan Optimal Kedepankan Profesionalisme dan Nilai Kemanusiaan Kondisi Khusus

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:16 WIB

Penuh Kehangatan, BKOW Sumatera Utara Berbagi Kasih Dengan Warga Binaan Lapas Perempuan Kls IIA Medan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:12 WIB

Polres Pelabuhan Belawan Grebek Sarang Narkoba di Marelan, 1 Pengedar dan 3 Pengguna Diamankan

Berita Terbaru