Aceh Tenggara – Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Aceh Tenggara dalam sepekan terakhir menyebabkan debit air Sungai Alas (Lawe Matang) meningkat drastis. Akibatnya, fasilitas transportasi penghubung Kecamatan Badar dan Kecamatan Darul Hasanah kembali mengalami kerusakan setelah diterjang luapan sungai pada Sabtu malam, 26 September 2026 sekitar pukul 04.00 WIB.

Luapan Sungai Alas Lawe Matang mengakibatkan tanggul penahan banjir yang sebelumnya dibangun untuk melindungi badan jalan mengalami amblas dan rusak parah. Tidak hanya itu, jembatan darurat yang menjadi akses utama masyarakat juga ikut tersapu derasnya arus sungai.
Camat Darul Hasanah, Hayadun, SP, saat dikonfirmasi mengatakan, fasilitas transportasi yang menghubungkan Kecamatan Badar dan Darul Hasanah kembali mengalami kerusakan akibat luapan Sungai Lawe Matang.

“Fasilitas transportasi yang menghubungkan Kecamatan Badar dan Darul Hasanah kini kembali tersapu akibat luapan Sungai Lawe Matang. Tanggul penahan banjir yang sebelumnya dikerjakan menggunakan alat berat excavator bersama masyarakat melalui gotong royong, dalam sekejap kembali rusak akibat derasnya arus sungai,” ujar Hayadun.
Menurutnya, derasnya arus Sungai Alas tidak hanya menghancurkan tanggul penahan, tetapi juga menghanyutkan jembatan darurat yang selama ini menjadi satu-satunya akses masyarakat. Saat ini, badan jalan yang sebelumnya menjadi jalur transportasi telah kembali menjadi aliran sungai.

Akibat kondisi tersebut, aktivitas masyarakat Kecamatan Darul Hasanah Kabupaten Aceh Tenggara mengalami hambatan. Pemerintah kecamatan berharap setelah debit air sungai surut, pemerintah dapat segera menurunkan alat berat untuk melakukan penanganan darurat, memperbaiki tanggul penahan air, serta membangun kembali jembatan sementara.
“Atas nama pemerintah Kecamatan Darul Hasanah, saya meminta seluruh masyarakat agar tetap bersabar. Kita jangan cepat menyalahkan pemerintah, karena kondisi ini merupakan dampak dari musim hujan dan faktor alam. Setelah air surut, pemerintah pasti akan segera melakukan penanganan terhadap kerusakan akibat gerusan Sungai Alas Lawe Matang,” jelas Hayadun.
Ia menambahkan, proses rehabilitasi aliran sungai bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat karena membutuhkan kajian dan penanganan yang tepat agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Hayadun menyebut, kejadian ini hampir sama dengan yang terjadi pada November 2025 lalu, ketika aliran Sungai Alas kembali berubah arah. Sebagian aliran masih berada di bawah jembatan yang bertahan, sementara sebagian lainnya kembali mengalir deras di sekitar kawasan permukiman warga Tanjung Muda dan Simpang Empat Tanjung.
Ia juga mengimbau masyarakat Kabupaten Aceh Tenggara, khususnya warga Kecamatan Darul Hasanah, agar tetap meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim penghujan.
“Fenomena alam memberikan tanda-tanda yang harus kita perhatikan. Kita sebagai manusia harus selalu mawas diri dan berhati-hati agar dapat terhindar dari bencana. Semua yang ada di alam ini merupakan ciptaan Allah SWT yang harus kita jaga dan syukuri,” tutup Hayadun.
(Mamas Beroeh)


































