Tragedi Tambang Emas Aceh Jaya, LANA Desak Penegakan Hukum Tanpa Tebang Pilih

JEJAK INFORMASI

- Redaksi

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:16 WIB

50306 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meulaboh — LANA ( Lembaga Aspirasi Nasional Atjeh )  meminta aparat penegak hukum melakukan penyelidikan secara menyeluruh terhadap tragedi meninggalnya tiga penambang emas yang diduga beraktivitas di lokasi pertambangan emas ilegal di Kabupaten Aceh Jaya.



LANA menilai, peristiwa yang merenggut nyawa para pekerja tambang tersebut tidak boleh berhenti hanya sebagai catatan musibah.

Kematian tiga warga tersebut harus menjadi momentum bagi aparat untuk membuka secara terang seluruh persoalan yang berada di balik aktivitas pertambangan yang diduga tidak memiliki izin tersebut.

Ketua LANA, Teuku Laksamana, menyampaikan bahwa dalam praktik pertambangan ilegal, biasanya terdapat rantai aktivitas yang melibatkan banyak pihak, mulai dari pemodal, pengelola lapangan, penyedia alat berat, pekerja, hingga pihak yang diduga menerima atau menampung hasil tambang.

“Peristiwa ini harus menjadi pintu masuk untuk mengungkap siapa saja yang berada di balik aktivitas tersebut. Jangan sampai hanya pekerja di lapangan yang menjadi korban, sementara pihak yang memperoleh keuntungan terbesar tidak pernah tersentuh proses hukum,” ujar Teuku Laksamana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT



Menurut LANA, negara memiliki kewajiban memastikan setiap aktivitas pertambangan berjalan sesuai aturan hukum yang berlaku. Jika suatu kegiatan pertambangan dilakukan tanpa izin dan mengakibatkan korban jiwa, maka aparat penegak hukum perlu mengusut kemungkinan adanya unsur pidana, termasuk dugaan kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

LANA meminta Kepolisian Resor Aceh Jaya, Kepolisian Daerah Aceh, serta instansi terkait untuk membentuk langkah investigasi terpadu guna mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.

Penyelidikan, kata LANA, tidak hanya terkait penyebab longsor atau kecelakaan di lokasi tambang, tetapi juga harus mencakup aspek legalitas kegiatan pertambangan, sistem kerja, standar keselamatan, hingga pihak-pihak yang bertanggung jawab atas operasional di lokasi tersebut.

“Apabila ditemukan adanya pelanggaran hukum, baik terkait pertambangan, keselamatan kerja, maupun lingkungan hidup, maka proses hukum harus dilakukan secara transparan dan tidak boleh tebang pilih,” tegasnya.

LANA juga menyoroti bahwa aktivitas pertambangan ilegal memiliki risiko besar terhadap keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Minimnya pengawasan serta tidak terpenuhinya standar keselamatan kerja dapat menyebabkan pekerja berada dalam kondisi yang sangat berbahaya.

Tragedi ini, lanjut LANA, menjadi pengingat bahwa persoalan pertambangan ilegal bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut perlindungan nyawa manusia, kepastian hukum, serta tanggung jawab negara terhadap masyarakat.

Selain meminta pengusutan hukum, LANA turut menyampaikan rasa duka cita mendalam kepada keluarga korban. Pemerintah daerah diharapkan memberikan perhatian dan pendampingan kepada keluarga yang ditinggalkan akibat kejadian tersebut.

Namun demikian, LANA menegaskan bahwa bantuan terhadap korban tidak boleh menghentikan proses pengungkapan akar masalah.

“Keluarga korban membutuhkan keadilan dan kepastian. Jangan sampai tragedi ini berlalu tanpa ada evaluasi dan pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab,” kata Teuku Laksamana.

LANA berharap kejadian di Aceh Jaya menjadi perhatian serius bagi seluruh pihak agar aktivitas pertambangan ilegal dapat ditertibkan. Penegakan hukum yang tegas diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dan menimbulkan korban jiwa lainnya.

Lembaga Aspirasi Nasional Atjeh (LANA) menyatakan mendukung langkah aparat dalam menegakkan hukum secara profesional, objektif, dan berkeadilan demi melindungi masyarakat serta menjaga lingkungan Aceh.

 

#LANA#Misteri#tambang#ilegal

Berita Terkait

SMSI Aceh Besar dan Rutan Jantho Perkuat Sinergi
Hujan Mengguyur, Ribuan Warga Tetap Bertahan di Malam Penutupan Milad Samudera Pasai ke-800
Ribuan Warga Meriahkan Jalan Santai 800 Tahun Samudera Pasai, Hadiah Kulkas hingga Mesin Cuci Menanti
Stan Kecamatan Tanah Luas Hidupkan Milad 800 Samudera Pasai dengan Sajian Khas dan Nuansa Adat
Di Balik Pesta Rakyat, Siapa yang Membayar? Begini Penjelasan Jubir Pemkab Aceh Utara
10 SMK Aceh Utara Unjuk Karya di Milad Samudera Pasai ke-800, Produk Siswa Jadi Sorotan
800 Tahun Samudera Pasai, Disperindagkop UKM Aceh Utara Pamerkan Kekuatan Ekonomi Rakyat
Stan Kecamatan Lhoksukon Hidupkan Rasa dan Identitas Lokal di Milad 800 Tahun Samudera Pasai

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 01:13 WIB

BNCT: Harhubnas Momentum Perkuat Konektivitas Antardaerah Dan Arus Barang

Kamis, 17 September 2026 - 23:41 WIB

Kanwil Ditjenpas Sumut Silaturahmi dengan Danpas Brimob I Korbrimob Polri, Perkuat Sinergitas dan Pengamanan Pemasyarakatan

Kamis, 17 September 2026 - 23:34 WIB

Kanwil Ditjenpas Sumut Dorong Penguatan Pengawasan Klien Reintegrasi Melalui Sosialisasi dan FGD Kelayan Binter Bapas Medan

Kamis, 17 September 2026 - 21:41 WIB

kepala Bapas Kls 1 Medan Kriston   Napitupulu A.Md.IP., S.H.,Perkuat Kolaborasi Pembimbingan Klien Pemasyarakatan melalui Kelayan Binter

Kamis, 17 September 2026 - 21:32 WIB

Polsek Siantar Martoba Selesaikan Dugaan Perkelahian di Jalan Rondahaim Dengan Problem Solving 

Kamis, 17 September 2026 - 21:28 WIB

Kapolda Sumut Lantik Sejumlah Pejabat Baru, Tekankan Profesionalisme dan Responsivitas

Kamis, 17 September 2026 - 21:14 WIB

Bapas Medan Gandeng Camat, Lurah, TNI-Polri, Tokoh Agama dan Pokmas Lipas Dalam FGD Kelayan Binter

Kamis, 17 September 2026 - 20:54 WIB

Pastikan Kesiapan Sarana Kesehatan, Kalapas Perempuan Kls IIA Medan Kontrol Area Klinik

Berita Terbaru