TLii | SUMUT | PT PRIMA MULTI TERMINAL
27/05/2026
Belawan Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan rantai pasok internasional akibat perlambatan perdagangan dunia, aktivitas logistik di Sumatera Utara mulai menunjukkan tren pemulihan. Arus peti kemas di Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung tercatat mengalami pertumbuhan sepanjang empat bulan pertama tahun 2026, didorong meningkatnya distribusi domestik dan aktivitas ekspor dari kawasan industri di Sumatera.

PT Pmt mencatat volume arus peti kemas hingga April 2026 mencapai 227.799 TEUs atau tumbuh sekitar 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut dinilai menjadi sinyal positif pulihnya pergerakan barang di wilayah barat Indonesia di tengah tantangan pelemahan permintaan global dan perubahan pola perdagangan internasional.
Pertumbuhan terbesar berasal dari aktivitas domestik di Terminal 1 Belawan dengan volume mencapai 203.443 TEUs atau meningkat 7 persen secara tahunan. Distribusi barang konsumsi, bahan baku industri, hingga kebutuhan manufaktur disebut masih terjaga seiring stabilnya konsumsi masyarakat dan aktivitas industri nasional.
Sementara itu, pertumbuhan paling signifikan terjadi pada segmen internasional di Terminal 2 Kuala Tanjung. Volume peti kemas internasional tercatat mencapai 11.630 TEUs atau melonjak hingga 182 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi bertambahnya layanan pelayaran internasional serta meningkatnya aktivitas ekspor komoditas dan produk hilirisasi dari kawasan industri di Sumatera.
Tidak hanya peti kemas, aktivitas bongkar muat nonpeti kemas di Terminal Kuala Tanjung juga menunjukkan kenaikan signifikan.
Hingga April 2026 tercatat sebanyak 319.210 ton barang nonpeti kemas dibongkar muat atau meningkat 197 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan tersebut mencerminkan mulai tumbuhnya distribusi komoditas curah dan kebutuhan industri di kawasan hinterland Sumatera.
Direktur Operasi dan Teknik PT Prima Multi Terminal, Wahyudi, mengatakan tren tersebut mencerminkan mulai pulihnya kepercayaan pelaku usaha terhadap aktivitas perdagangan dan distribusi barang di wilayah Sumatera.
“Pergerakan arus peti kemas menunjukkan industri dan perdagangan mulai kembali tumbuh.
Meski situasi global masih dinamis, kebutuhan distribusi domestik tetap kuat dan ekspor mulai meningkat, terutama dari sektor industri pengolahan dan komoditas,” ujar Wahyudi.
Menurutnya, pelabuhan saat ini menghadapi tantangan baru akibat pergeseran jalur logistik global, penyesuaian jaringan pelayaran internasional, hingga dampak ketegangan geopolitik yang memengaruhi biaya distribusi dan waktu pengiriman barang.
Karena itu, efisiensi operasional menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing pelabuhan nasional. PMT mencatat rasio effective time terhadap berthing time (ET/BT) di Terminal Belawan mencapai 86,22 persen. Sementara di Kuala Tanjung, rasio ET/BT internasional mencapai 75,94 persen dan domestik sebesar 66,85 persen.
Perbaikan layanan dilakukan melalui optimalisasi peralatan bongkar muat, penataan lapangan penumpukan, serta penguatan koordinasi operasional antarterminal dan pengguna jasa.
Selain fokus pada produktivitas, aspek keselamatan kerja juga menjadi perhatian perusahaan. PMT memperkuat implementasi program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melalui inspeksi berkala, standardisasi alat operasional, serta peningkatan kompetensi tenaga kerja guna menjaga target nihil kecelakaan kerja.
Wahyudi menambahkan, keandalan pelabuhan akan semakin menentukan daya saing industri dan kelancaran distribusi nasional.
“Pelabuhan bukan hanya titik bongkar muat, tetapi bagian penting dari rantai pasok industri. Ketika layanan makin efisien dan andal, maka biaya logistik bisa ditekan dan daya saing ekspor ikut meningkat,” pungkasnya.
Dengan posisi strategis di jalur perdagangan internasional Selat Malaka, Pelabuhan Belawan dan Pelabuhan Kuala Tanjung diproyeksikan terus berkembang sebagai simpul logistik utama di wilayah barat Indonesia, terutama dalam mendukung penguatan industri hilirisasi dan ketahanan rantai pasok nasional, Terangnya.
(***)



























