Tragedi Tambang Emas Aceh Jaya, LANA Desak Penegakan Hukum Tanpa Tebang Pilih

JEJAK INFORMASI

- Redaksi

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:16 WIB

50338 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meulaboh — LANA ( Lembaga Aspirasi Nasional Atjeh )  meminta aparat penegak hukum melakukan penyelidikan secara menyeluruh terhadap tragedi meninggalnya tiga penambang emas yang diduga beraktivitas di lokasi pertambangan emas ilegal di Kabupaten Aceh Jaya.



LANA menilai, peristiwa yang merenggut nyawa para pekerja tambang tersebut tidak boleh berhenti hanya sebagai catatan musibah.

Kematian tiga warga tersebut harus menjadi momentum bagi aparat untuk membuka secara terang seluruh persoalan yang berada di balik aktivitas pertambangan yang diduga tidak memiliki izin tersebut.

Ketua LANA, Teuku Laksamana, menyampaikan bahwa dalam praktik pertambangan ilegal, biasanya terdapat rantai aktivitas yang melibatkan banyak pihak, mulai dari pemodal, pengelola lapangan, penyedia alat berat, pekerja, hingga pihak yang diduga menerima atau menampung hasil tambang.

“Peristiwa ini harus menjadi pintu masuk untuk mengungkap siapa saja yang berada di balik aktivitas tersebut. Jangan sampai hanya pekerja di lapangan yang menjadi korban, sementara pihak yang memperoleh keuntungan terbesar tidak pernah tersentuh proses hukum,” ujar Teuku Laksamana.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT



Menurut LANA, negara memiliki kewajiban memastikan setiap aktivitas pertambangan berjalan sesuai aturan hukum yang berlaku. Jika suatu kegiatan pertambangan dilakukan tanpa izin dan mengakibatkan korban jiwa, maka aparat penegak hukum perlu mengusut kemungkinan adanya unsur pidana, termasuk dugaan kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

LANA meminta Kepolisian Resor Aceh Jaya, Kepolisian Daerah Aceh, serta instansi terkait untuk membentuk langkah investigasi terpadu guna mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.

Penyelidikan, kata LANA, tidak hanya terkait penyebab longsor atau kecelakaan di lokasi tambang, tetapi juga harus mencakup aspek legalitas kegiatan pertambangan, sistem kerja, standar keselamatan, hingga pihak-pihak yang bertanggung jawab atas operasional di lokasi tersebut.

“Apabila ditemukan adanya pelanggaran hukum, baik terkait pertambangan, keselamatan kerja, maupun lingkungan hidup, maka proses hukum harus dilakukan secara transparan dan tidak boleh tebang pilih,” tegasnya.

LANA juga menyoroti bahwa aktivitas pertambangan ilegal memiliki risiko besar terhadap keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Minimnya pengawasan serta tidak terpenuhinya standar keselamatan kerja dapat menyebabkan pekerja berada dalam kondisi yang sangat berbahaya.

Tragedi ini, lanjut LANA, menjadi pengingat bahwa persoalan pertambangan ilegal bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut perlindungan nyawa manusia, kepastian hukum, serta tanggung jawab negara terhadap masyarakat.

Selain meminta pengusutan hukum, LANA turut menyampaikan rasa duka cita mendalam kepada keluarga korban. Pemerintah daerah diharapkan memberikan perhatian dan pendampingan kepada keluarga yang ditinggalkan akibat kejadian tersebut.

Namun demikian, LANA menegaskan bahwa bantuan terhadap korban tidak boleh menghentikan proses pengungkapan akar masalah.

“Keluarga korban membutuhkan keadilan dan kepastian. Jangan sampai tragedi ini berlalu tanpa ada evaluasi dan pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab,” kata Teuku Laksamana.

LANA berharap kejadian di Aceh Jaya menjadi perhatian serius bagi seluruh pihak agar aktivitas pertambangan ilegal dapat ditertibkan. Penegakan hukum yang tegas diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dan menimbulkan korban jiwa lainnya.

Lembaga Aspirasi Nasional Atjeh (LANA) menyatakan mendukung langkah aparat dalam menegakkan hukum secara profesional, objektif, dan berkeadilan demi melindungi masyarakat serta menjaga lingkungan Aceh.

 

#LANA#Misteri#tambang#ilegal

Berita Terkait

SMSI Aceh Besar Audiensi dengan Bupati, Pelantikan Dirangkai Maulid dan Penganugerahan Tokoh
Wisuda ke-37, PNL Kukuhkan 1.134 Lulusan, 639 Raih Cumlaude
Hampir Setahun Pasca Bencana, Jenazah Warga Uyem Beriring Masih Harus Diseberangkan Dengan Perahu Karet: Di mana Kehadiran Pemerintah?
Momentum Sumpah Pemuda, Illiza Tunjuk Sulthan Muhammad Yus sebagai Jubir Pemko Banda Aceh
Polda Aceh Berhasil Musnahkan 18 Hektare Ladang Ganja di Aceh Utara
Semangat Sumpah Pemuda, BNNP Aceh Ungkap Ladang Ganja Seluas 18 Hektare di Aceh Utara
“Tak Sekadar Janji, Azhari M. Nur Haji Maop Tunjukkan Kepedulian Nyata, Bantu Kursi Roda untuk Warga Idi Tunong”
Tak Sekadar Seremoni, SDN 2 Dewantara Wujudkan Maulid Nabi dengan Santunan 13 Anak Yatim

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 21:06 WIB

Perkuat Sinergi Keamanan, Kalapas Narkotika Samarinda Kunjungi Polresta Samarinda

Senin, 2 November 2026 - 19:43 WIB

Lapas Narkotika Samarinda Perkuat Integritas dan Solidaritas Melalui Apel Pagi Senin

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 00:36 WIB

Lapas Narkotika Samarinda Gelar Sidang TPP, Bahas 34 Usulan Warga Binaan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 00:29 WIB

Jumat Berkah, Lapas Narkotika Samarinda Salurkan 75 Kg Beras untuk Masyarakat RT 22 Samarinda Utara

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:26 WIB

Dukung Ketahanan Pangan, Lapas Narkotika Samarinda Panen Kangkung Hasil Pembinaan Kemandirian Warga Binaan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:19 WIB

Majelis Taklim Jadi Sarana Pembinaan Kepribadian Warga Binaan Lapas Narkotika Samarinda

Rabu, 28 Oktober 2026 - 23:14 WIB

Kalapas Narkotika Samarinda Ikuti Pelantikan Pimpinan Tinggi Kemenimipas dan Kick Off Hari Bakti ke-2 Tahun 2026 Secara Virtual

Rabu, 28 Oktober 2026 - 23:08 WIB

Peringati Hari Sumpah Pemuda ke-98, Lapas Narkotika Samarinda Kobarkan Semangat Patriotik, Gigih, dan Berempati

Berita Terbaru