EDITORIAL : Saman Di Titik Persimpangan, Warisan Dunia yang Belum Menyejahterakan Tuan Rumahnya

REDAKSI

- Redaksi

Selasa, 19 Agustus 2025 - 14:41 WIB

50186 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Redaksi TIMELINES INEWS INVESTIGASI

Tarian Saman kini berada di persimpangan jalan. Sejak dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO pada 2011, gaung Saman menggema hingga ke mancanegara. Namun ironisnya, sorotan dunia itu belum berbanding lurus dengan kesejahteraan pelakunya di tanah kelahiran: Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Di dalam daerah, seniman Saman masih berjuang menembus akses pentas dan fasilitas, sementara di luar daerah Saman dielu-elukan sebagai ikon Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam sebuah bincang santai bersama Kang Juna di Dinas Pariwisata Gayo Lues, Syamsul Bahri, S.Pd, M.AP — Dewan Pakar Saman sekaligus Plt. Kepala Dinas Perindagkop — secara lugas menyatakan bahwa akses seniman lokal terhadap even nasional apalagi internasional masih sangat terbatas. “Kalau kita ingin Saman benar-benar menjadi ikon daerah yang mendunia, maka sinergi harus dibangun. Tidak cukup hanya mengandalkan APBD,” ujarnya.

Syamsul menekankan perlunya menggandeng DPR RI, pemerintah pusat, bahkan pihak swasta untuk membuka jalan investasi berbasis budaya. Festival budaya dan pameran internasional harus dimanfaatkan tidak hanya untuk pamer kebudayaan, tetapi juga menghadirkan manfaat konkret ekonomi kreatif.

Gagasan Besar, Perjalanan Panjang

Lebih jauh, Syamsul menghidupkan kembali gagasan lama tentang Saman Center — sebuah pusat pelestarian, riset, dan promosi Saman — yang digaungkan sejak 2014, namun tak kunjung berdiri. Padahal, keberadaan Saman Center dinilai mampu menjadi “mesin” kebudayaan sekaligus ekonomi baru bagi masyarakat Gayo Lues.

“Lebih dari sepuluh tahun wacana ini bergulir, tetapi belum juga terealisasi. Padahal ia bisa menjadi magnet pariwisata, pusat kajian, hingga ruang kreasi seniman Saman,” kata Syamsul. Pertanyaannya: apa lagi yang kita tunggu?

 

Generasi Muda Menjauh?

Keprihatinan lain datang dari Plt. Kadis Pariwisata Mursyidi, yang menyebutkan bahwa minat generasi muda terhadap Saman kian menurun. Bukan karena tarian ini tidak menarik, tetapi karena nilai filosofisnya tidak lagi dipahami.

Senada, Kabid Kebudayaan Sabirin mengingatkan Saman bukan sekadar tarian serempak, tetapi sarat pesan moral: persatuan, disiplin, spiritualitas, dan karakter. Jika Saman hanya dipertahankan pada level gerakan tanpa pewarisan makna, maka ia akan menjadi “cangkang kosong” yang perlahan mati.

Kasat Pol PP Gayo Lues, Syabri, bahkan mengingatkan bahwa merawat Saman harus dimulai dari merawat adat-istiadat Gayo itu sendiri: “Kalau adat pudar, maka Saman kehilangan roh.”

Rekomendasi Kebijakan

Sebagaimana Kabupaten Gayo Lues pernah mencatat sejarah keberhasilan melalui program 1000 Hafiz Quran — dengan menghadirkan pendidikan hafalan Qur’an tambahan di luar jam sekolah — kepemimpinan daerah saat ini juga seyogianya mengambil langkah inovatif di bidang kebudayaan. Pemerintah daerah perlu menjadikan seni tari Saman sebagai muatan lokal wajib di seluruh sekolah negeri maupun swasta, disertai kurikulum yang mengajarkan filosofi, syair, hingga praktik latihan gerakan. Dengan model pelatihan rutin mirip kelas Tahfiz, Gayo Lues tak hanya dikenal sebagai gudang penghafal Al-Qur’an, tetapi juga lumbung generasi pelestari budaya — perpaduan luhur antara kecerdasan spiritual dan kekuatan jati diri.

 

Menagih Keberanian

Redaksi meyakini, ini saatnya momentum pengakuan UNESCO diterjemahkan menjadi aksi berpihak. Pemerintah daerah musti berani mengambil lompatan kebijakan: mendirikan Saman Center, memasukkan pendidikan Saman berbasis filosofi ke sekolah-sekolah, membuka pintu kolaborasi lintas lembaga, sekaligus merancang roadmap hilirisasi ekonomi Saman.

Lebih dari sekadar pelestarian, yang kini dibutuhkan adalah keberanian menjadikan budaya sebagai sumber kesejahteraan — tanpa menghilangkan marwahnya.

 

Karena Warisan Tanpa Kesejahteraan adalah Kepedihan

UNESCO mungkin telah memberikan pengakuan dunia. Tetapi pengakuan terbesar datang dari generasi muda yang bangga melanjutkan tradisi, serta dari seniman Saman yang hidupnya sejahtera berkat warisan leluhur. Saman kini menunggu langkah konkret, bukan sekadar seremoni. Agar ia tetap bertahan bukan karena status warisan dunia, tetapi karena menjadi denyut nadi masyarakat Gayo Lues — hari ini, esok, dan selamanya.

Berita Terkait

7 Urus Surat Pengadilan, 20 Lulus Administrasi Baitul Mal Gayo Lues: Pansel Sebut Bisa Diganti SKCK
Bantah Isu TV Donasi Bencana, Mantan Kalapas Blangkejeren Layangkan Hak Jawab dan Somasi ke Habaraya News
Dugaan Pengelolaan Dana BOKB Rp28 Miliar di Aceh Tenggara Disorot, LP2iM Minta Transparansi
Kampung Akang Siwah Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Mengusung Tema “Cinta Rasul, Kuatkan Iman, Tebarkan Kebaikan”
Mahasiswa PSDKU USK Gayo Lues & himagalus salurkan bantuan untuk korban kebakaran di kampung ayu
Temu Ramah Kapolres Gayo Lues Bersama Insan Pers, Ajak Perkuat Sinergi, Tegaskan Komitmen “SIGAP”
Pemkab Gayo Lues Gelar Operasi Pasar Murah di 11 Kecamatan, Ini Jadwal dan Lokasinya
Kampung Akang Siwah kecamatan Blangpegayon Raih Penghargaan Kinerja Terbaik dari Bupati Gayo Lues

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 18:04 WIB

Zero Narkoba”, Lapas Perempuan Pekanbaru Pastikan Pegawai dan WBP Bersih Lewat Tes Urine

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 11:21 WIB

Apresiasi Prestasi WBP”, Lapas Perempuan Pekanbaru Tutup PORSENAP dengan Pembagian Hadiah

Jumat, 28 Agustus 2026 - 20:12 WIB

Dukung Program Akselerasi, Lapas Perempuan Pekanbaru Bekali WBP Keterampilan Pertanian

Jumat, 28 Agustus 2026 - 19:54 WIB

Maulid Nabi di Lapas Perempuan Pekanbaru: Momentum Perbaiki Diri dan Perkuat Iman WBP

Kamis, 27 Agustus 2026 - 20:34 WIB

Panen Hasil Kerja Keras, Warga Binaan Lapas Perempuan Pekanbaru Buktikan Semangat Kemandirian

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:03 WIB

Rumah Gizi Lapas Perempuan Pekanbaru Jadi Ruang Edukasi dan Perlindungan Anak Warga Binaan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 01:28 WIB

Melalui Panen Kangkung, Lapas Perempuan Pekanbaru Bekali WBP Keterampilan dan Kemandirian

Rabu, 19 Agustus 2026 - 20:48 WIB

Lapas Perempuan Pekanbaru Rutin Periksa Kesehatan Warga Binaan

Berita Terbaru

BMA Sebut Muzaki Terbesar di Aceh

ACEH

Bank Aceh Salurkan Zakat Perusahaan Rp11,94 Miliar

Rabu, 2 Sep 2026 - 00:58 WIB