TIMELINES iNEWS Investigasi | BANDA ACEH – Dinas Kesehatan Aceh melaporkan bahwa hingga Oktober 2025 tercatat 2.085 kasus HIV kumulatif melalui sistem SIHA 2.1. Temuan kasus baru pada Januari–September 2025 mencapai 285 orang (238 laki-laki, 47 perempuan). Peningkatan angka ini disebut sebagai dampak dari perluasan skrining, edukasi, dan penguatan layanan, bukan indikasi melonjaknya penularan.
Aceh kini memiliki 114 layanan HIV, dengan RSUD Zainoel Abidin sebagai rujukan utama. Dan Puskesmas Meraxa Kota Banda Aceh, Edukasi pencegahan mulai diperluas ke kampus dan pesantren.
Namun, Kabid P2P Dinkes Aceh, Dr. Imam Murahman, menyoroti rendahnya dukungan APBA yang hanya Rp 24,16 juta pada 2025, jauh dari kebutuhan untuk skrining, pelatihan, edukasi, pemantauan ARV, dan viral load. Selama ini program bergantung pada APBN dan Global Fund. Upaya advokasi ke DPRA juga disebut belum membuahkan hasil.
Pada sesi diskusi, Dr. Imam kembali mengingatkan bahwa HIV tidak menular melalui kontak sosial, udara, makan bersama, kolam renang, atau gigitan nyamuk. Stigma masih menjadi hambatan besar.
Dinkes mengajak media dan seluruh sektor untuk memperkuat komunikasi publik. Staf P2P menambahkan bahwa PMI Kota Banda Aceh merupakan fasilitas donor darah dengan pemeriksaan paling lengkap, sehingga dapat mendeteksi kasus lebih awal.
Menutup kegiatan, Kabid P2P mengajak seluruh dinas dan media untuk bersinergi dalam pencegahan dan pengobatan HIV, sekaligus menjadi contoh bagi remaja Aceh.
LSM yang aktif terlibat antara lain Medan Plus, KUPAS, Putroe Sejati Aceh, KDS Rising Nanggroe, Yayasan Indra Patra, RK Singkil, Galatea, dan Jaringan Indonesia Positif.*[]
































