TLii|Aceh|Lhokseumawe — Di tengah tekanan hidup modern yang kian kompleks, mulai dari tuntutan akademik, derasnya arus media sosial hingga minimnya aktivitas fisik, latihan pernapasan dalam atau deep breathing dinilai menjadi kebutuhan mendasar bagi generasi muda. Teknik sederhana ini kini tidak lagi sekadar metode relaksasi, melainkan bagian penting dalam menjaga keseimbangan mental, kesehatan tubuh, hingga performa olahraga. ( Rabu /08/2026)
Penjelasan tersebut disampaikan langsung oleh Bimpres Muaythai Aceh sekaligus Ketua Dewan Pendekar Silet Tradisional Aceh, Abu Siwah dalam sesi pembinaan yang digelar pada Rabu sore, di markas Alam siwah Busoe Muay Thai Busoe Tok pase Gampong Keude Aceh kota Lhokseumawe.
Dari perspektif psikologi, deep breathing terbukti mampu menekan tingkat stres dan kecemasan yang kerap menghantui kalangan remaja. Aktivasi sistem saraf parasimpatik melalui teknik ini membantu tubuh masuk ke kondisi lebih tenang, sehingga pikiran menjadi lebih fokus dan emosi lebih terkontrol—sebuah kemampuan penting di era digital yang penuh distraksi ( Buyar Fokus).
Secara medis, pernapasan dalam juga memberi dampak signifikan terhadap fungsi tubuh. Teknik ini membantu menurunkan hormon stres seperti kortisol, menstabilkan tekanan darah dan detak jantung, serta meningkatkan kapasitas paru-paru dan meningkatkan imunitas tubuh dari segala serangan wabah penyakit.
Dalam jangka panjang, metode ini juga berkontribusi mencegah gangguan seperti hipertensi hingga kelelahan kronis (burnout).
Dalam dunia olahraga, kontrol napas merupakan fondasi utama performa atlet.
Pernapasan yang teratur serta dalam mampu meningkatkan daya tahan, menjaga efisiensi energi, serta mempercepat pemulihan pasca latihan. Hampir seluruh cabang olahraga, termasuk bela diri, menjadikan teknik napas sebagai bagian inti latihan.
“Pernapasan itu bukan sekadar tarik dan buang napas. Ini adalah kunci kendali diri.
Dalam bela diri, siapa yang mampu mengatur napasnya, dia mampu mengatur emosinya, tenaganya, bahkan pikirannya. Generasi muda harus memahami ini sejak dini,” ujar Abu Siwah.
Ia juga menegaskan pentingnya pembinaan sejak usia muda agar teknik ini tidak hanya dipahami, Tetapi di Jiwai dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau sejak awal sudah dilatih, maka mental akan lebih siap , fisik lebih kuat dan saat bertanding tidak mudah goyah. Ini bukan teori, tapi sudah terbukti di lapangan,” tambahnya.
Di tengah gaya hidup serba instan, deep breathing hadir sebagai solusi sederhana namun berdampak besar. Tanpa membutuhkan peralatan apapun dan bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja teknik ini menjadi langkah preventif yang efektif untuk menjaga kesehatan mental dan fisik.
Dengan demikian, latihan pernapasan dalam bukan lagi sekadar teknik relaksasi, melainkan keterampilan dasar kehidupan yang perlu ditanamkan sejak dini demi menciptakan generasi muda yang tangguh, sehat, dan berdaya saing tinggi.
SILET NANGGROE TIWAH BUSOE MUAYTHAI BUSOE-DEWAN PANDEKAR ATJEH.


































