TLii|Aceh|ACEH UTARA – Delapan abad perjalanan Samudera Pasai diperingati Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dengan aksi yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., atau yang lebih dikenal dengan sapaan Ayah Wa, menggelar penanaman 800 pohon sekaligus memberikan santunan kepada 800 anak yatim.
Aksi tersebut berlangsung Jumat (11/9/2026) di kawasan Kompleks Makam Sultanah Nahrasiyah, Kecamatan Samudera. Lokasi bersejarah itu dipilih sebagai bagian dari rangkaian Milad ke-800 Samudera Pasai yang tengah digelar di Aceh Utara.
Bagi pemerintah daerah, peringatan 800 tahun bukan sekadar mengenang masa kejayaan sebuah kerajaan Islam yang pernah menjadi pusat perdagangan dan peradaban. Momentum tersebut juga diarahkan untuk melahirkan kegiatan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat sekaligus meninggalkan pesan bagi generasi berikutnya.
Sebanyak 800 bibit pohon menjadi bagian dari gerakan penghijauan yang dicanangkan Ayah Wa. Penanaman perdana dilakukan secara simbolis di kawasan makam, sementara bibit lainnya diarahkan untuk penghijauan di sejumlah lokasi yang dinilai membutuhkan penambahan vegetasi.
Langkah itu diharapkan tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari kepedulian terhadap keberlangsungan alam dan upaya mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
Di tengah suasana peringatan sejarah tersebut, perhatian juga diarahkan kepada anak-anak yatim. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyalurkan santunan kepada 800 anak yatim yang berasal dari berbagai wilayah kecamatan.
Ayah Wa menegaskan bahwa usia 800 tahun Samudera Pasai harus dimaknai lebih jauh daripada sekadar perayaan.
“Delapan ratus tahun adalah perjalanan sejarah yang sangat panjang bagi Samudera Pasai. Melalui penanaman 800 pohon, kita menanam kebaikan untuk masa depan lingkungan dan anak cucu kita. Sementara santunan bagi 800 anak yatim merupakan komitmen kita untuk berbagi keberkahan dan menjaga kepedulian sosial,” ujar Ayah Wa.
Pemilihan makam Sultanah Nahrasiyah juga memiliki makna tersendiri. Situs tersebut menjadi salah satu bukti penting keberadaan peradaban Samudera Pasai. Batu nisan Sultanah Nahrasiyah dengan ornamen kaligrafi Arab menjadi peninggalan yang hingga kini terus dikaitkan dengan jejak sejarah Islam di kawasan tersebut.
Dari tempat yang menyimpan jejak masa lalu itu, pesan yang dibawa dalam peringatan Milad ke-800 Samudera Pasai diarahkan pada masa depan. Sejarah tidak hanya dipelajari dan diceritakan, tetapi juga dijadikan pijakan untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan serta sesama.
Kegiatan penghijauan dan santunan tersebut turut mendapat perhatian masyarakat yang hadir dalam rangkaian peringatan. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara berharap semangat delapan abad Samudera Pasai dapat memperkuat kesadaran warga untuk menjaga warisan sejarah, merawat alam, sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial.
Delapan abad Samudera Pasai pun tidak berhenti sebagai angka dalam catatan sejarah. Dari kawasan makam Sultanah Nahrasiyah, peringatan itu diterjemahkan melalui dua pesan sederhana: menanam untuk masa depan dan berbagi untuk sesama.


































