TLii | Aceh Timur — Sebuah tenda besar bernuansa merah berdiri kokoh di tengah lapangan hijau saat peringatan Tragedi Idi Cut–Arakundo digelar pada Sabtu, 14 Februari 2026. Di bawah langit cerah dan barisan pohon kelapa, masyarakat berkumpul untuk mengenang peristiwa kelam yang terjadi pada 14 Februari 1998, tragedi yang meninggalkan luka mendalam bagi rakyat Aceh.

Peringatan berlangsung di Lapangan Bola Kaki Idi Cut yang dipenuhi kursi berwarna merah dan biru tersusun rapi di bawah tenda utama. Puluhan peserta hadir dan mengikuti rangkaian acara dengan khidmat sebagai bentuk penghormatan terhadap memori masa konflik.
Suasana acara terasa tenang dan penuh refleksi. Rangkaian kegiatan diisi dengan pembukaan oleh pembawa acara, sambutan sejumlah tokoh, serta pembacaan doa bersama. Tim media Timelines turut hadir di lokasi untuk mendokumentasikan jalannya kegiatan dan menyampaikan laporan langsung dari lapangan.
Peringatan ini tidak hanya dimaksudkan untuk mengenang tragedi masa lalu, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi generasi saat ini. Sejumlah peserta menilai, pemahaman terhadap peristiwa 1998 penting untuk menjaga kesadaran sejarah sekaligus memperkuat nilai perdamaian yang kini dirasakan masyarakat Aceh.
Bagi warga yang hadir, tanggal 14 Februari bukan sekadar catatan kalender. Tanggal tersebut menjadi simbol perjuangan, kehilangan, dan ketabahan. Pada 2026 ini, memori itu kembali dihidupkan—bukan untuk membuka luka lama, melainkan sebagai pengingat bahwa kedamaian hari ini dibangun dari perjalanan sejarah yang panjang dan penuh tantangan.
Acara berakhir menjelang siang dengan pesan yang tetap menguat: tragedi yang pernah menimpa rakyat Aceh tidak boleh dilupakan. Dari ingatan kolektif itulah, generasi mendatang diharapkan dapat terus belajar menjaga kedamaian dan nilai-nilai kemanusiaan. (Saf)





































