(foto istimewa sang penulis Muhammad idhar)
Penulis: Muhammad idhar
Di atas genting, ia mulai mengeja nama-nama
yang sempat kita lupakan pada kemarau yang panjang.
Rintik itu bukan sekadar air yang jatuh,
ia adalah surat cinta dari awan yang lelah memendam beban,
akhirnya tumpah, mencari pelukan pada debu-debu jalanan.
Hujan tak pernah bertanya ke mana ia harus pulang.
Ia hanya tahu cara membasuh luka-luka daun,
menidurkan bising kota dalam simfoni yang menderu,
dan menghidupkan aroma tanah sebuah parfum kenangan
yang memaksa kita kembali menengok jendela.
Ada yang melihatnya sebagai tangis,
ada yang merayakannya sebagai napas baru.
Namun di balik kaca yang berembun ini,
hujan adalah jeda yang sengaja Tuhan selipkan
agar manusia berhenti sejenak,
mendengar detak jantungnya sendiri
di sela-sela suara gemericik yang tak kunjung usai.


































