TLii|Aceh|LHOKSEUMAWE— Praktik doping dan teknik pernapasan dalam (deep breathing) kerap menjadi perbincangan di dunia olahraga, khususnya dalam cabang bela diri. Keduanya sama-sama berkaitan dengan peningkatan performa atlet, namun memiliki perbedaan yang sangat mendasar.
Hal tersebut disampaikan oleh Abu Siwah, selaku Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) Muay Thai Aceh sekaligus Ketua Umum Dewan Pandekar Atjeh. Ia menegaskan bahwa pemahaman yang benar sangat penting agar atlet tidak salah langkah dalam meningkatkan kemampuan mereka.
Menurut Abu Siwah, doping merupakan penggunaan zat terlarang untuk meningkatkan performa secara instan.
Sementara itu, pernapasan dalam adalah teknik alami yang digunakan atlet untuk mengatur oksigen, meningkatkan daya tahan, serta menjaga fokus saat bertanding.
Penjelasan ini disampaikan saat Abu Siwah melakukan latihan pernapasan dalam di Jambo Silet Siwah Busoe pada Sabtu malam, 3 April 2026.
Ia menjelaskan, doping dilarang keras karena melanggar aturan olahraga internasional, merusak sportivitas, serta membahayakan kesehatan. Zat yang digunakan dalam doping seperti steroid anabolik, stimulan, narkotika, hingga manipulasi darah dan genetik dapat memicu berbagai risiko serius, mulai dari hipertensi, gangguan jantung, kerusakan hati dan ginjal, hingga gangguan mental.
“Penggunaan doping bisa berujung pada sanksi berat, termasuk diskualifikasi dari pertandingan. Bahkan dalam beberapa kasus, dapat menyebabkan kematian,” ujarnya.
Sebaliknya, teknik pernapasan dalam justru dianjurkan karena memberikan manfaat secara alami dan aman bagi tubuh. Latihan ini membantu meningkatkan suplai oksigen, memperkuat daya tahan, serta menjaga kestabilan emosi atlet di tengah tekanan pertandingan.
Abu Siwah juga menambahkan bahwa pernapasan dalam mampu meningkatkan hormon dopamin (hormon kebahagiaan), menekan hormon kortisol (stres), serta merangsang produksi endorfin yang berfungsi sebagai pereda nyeri alami.
“Sebagai atlet, kita harus menjunjung tinggi sportivitas. Gunakan metode latihan yang sehat seperti pernapasan yang benar, bukan cara instan seperti doping,” tegasnya.
Dengan demikian, para atlet bela diri diharapkan dapat lebih bijak dalam memilih metode peningkatan performa, dengan tetap mematuhi aturan serta menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

































