Lhokseumawe, 28 April 2026 — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi solusi peningkatan asupan gizi siswa justru menuai kritik tajam di wilayah Ulee Jalan, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Distribusi makanan ke sejumlah sekolah dasar dikeluhkan warga karena dinilai jauh dari standar kelayakan—bahkan disebut tidak mencerminkan prinsip makanan bergizi.

Sorotan paling mencolok datang dari temuan nasi berwarna tak lazim. Di satu sekolah, nasi yang dibagikan kepada siswa tampak kebiruan. Sementara di sekolah lain, nasi berwarna ungu.

Kondisi ini memantik tanda tanya besar di kalangan orang tua: apakah makanan tersebut menggunakan bahan pewarna, dan apakah aman dikonsumsi anak-anak?
“Ini bukan soal warna saja, tapi soal isi. Kalau sekadar tampilan aneh mungkin bisa dijelaskan, tapi kalau gizinya tidak jelas, ini berbahaya,” ujar seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya.

Keluhan warga tak berhenti di situ. Sejak awal pelaksanaan MBG, berbagai persoalan disebut sudah muncul—mulai dari buah yang dibagikan tanpa dicuci bersih hingga dugaan makanan basi yang tetap disalurkan kepada siswa. Bahkan, lauk berupa sayur acar dilaporkan dalam kondisi yang tidak layak konsumsi.

Lebih jauh, masyarakat juga menyoroti proses penyediaan makanan yang dinilai tidak profesional. Dapur MBG yang kini beroperasi di kawasan Ulee Jalan—berdekatan dengan permukiman dan warung kopi—dinilai tidak menunjukkan standar higienitas yang meyakinkan.
Perpindahan lokasi dapur dari tempat sebelumnya juga menimbulkan pertanyaan soal kesiapan fasilitas dan pengawasan.
Alih-alih menjadi program unggulan yang memperbaiki status gizi anak, MBG di Ulee Jalan justru dikhawatirkan berpotensi membawa risiko kesehatan. Sejumlah warga bahkan menilai makanan yang diberikan tidak hanya diragukan kelayakannya, tetapi juga tidak memenuhi unsur gizi seimbang sebagaimana tujuan awal program.
“Kalau begini, bukan menambah gizi, malah bisa jadi sumber penyakit. Ini harus dihentikan sementara untuk evaluasi total,” tegas warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak penyelenggara MBG terkait perubahan warna nasi maupun standar bahan yang digunakan. Ketiadaan penjelasan ini semakin memperkuat desakan publik agar dilakukan investigasi menyeluruh.
Masyarakat kini menuntut transparansi dan pengawasan ketat dari instansi terkait.
Program yang menyasar anak-anak, menurut mereka, tidak boleh dijalankan secara serampangan—karena yang dipertaruhkan bukan sekadar anggaran, melainkan kesehatan generasi masa depan. (Ramazani).

































