Budaya Tidur Siang “Eh Leuho” di Sabang, Warisan Kearifan Lokal yang Menarik Perhatian Turis

REDAKSI

- Redaksi

Jumat, 6 September 2024 - 22:04 WIB

50178 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TLii | ACEH | Sabang – Budaya unik tidur siang atau yang dikenal dengan sebutan “eh leuho” di Kota Sabang, Provinsi Aceh, telah menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis yang berkunjung ke pulau ini. Kebiasaan di mana sebagian besar toko dan pelayanan umum tutup pada siang hari, mulai dari pukul 12.00 hingga 16.00 WIB, kerap memancing rasa penasaran sekaligus tanggapan beragam dari wisatawan.

Pulau yang juga dikenal dengan nama Pulau Weh ini menyisakan hanya beberapa tempat seperti rumah makan, bengkel, kedai kopi, dan destinasi wisata yang tetap buka di siang hari, namun dengan layanan terbatas. Bagi masyarakat lokal, tradisi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, bagi pengunjung yang belum terbiasa, kebiasaan tersebut kerap mengejutkan dan menimbulkan kesulitan, terutama dalam mencari layanan publik di tengah hari.

Beberapa turis menyampaikan ketidaknyamanan mereka, terutama karena harus menyesuaikan diri dengan jam operasional yang tidak biasa. Bagi sebagian pengunjung, hal ini dianggap dapat menurunkan produktivitas serta mengganggu jadwal belajar siswa dan mahasiswa, karena tak sejalan dengan norma kerja yang berlaku di tempat lain. Selain itu, ada juga yang mengkritik bahwa kebiasaan ini bisa menciptakan kesan malas di kalangan masyarakat Sabang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejarah Panjang Budaya “Eh Leuho”

Budaya “eh leuho” sendiri memiliki akar sejarah yang panjang. Dimulai pada tahun 1965, ketika Sabang masih menjadi pelabuhan bebas Indonesia, warga lokal harus bekerja pada malam hari untuk membongkar dan memuat barang dari kapal-kapal yang menyeberang ke Banda Aceh. Akibat aktivitas bongkar muat di malam hari, masyarakat setempat memilih untuk beristirahat pada siang hari guna memulihkan tenaga untuk melanjutkan pekerjaan di malam berikutnya. Kebiasaan ini kemudian menjadi tradisi turun-temurun yang masih dijalankan hingga sekarang.

Paralel dengan Budaya Tidur Siang di Spanyol

Menariknya, budaya tidur siang tidak hanya ada di Sabang, tetapi juga di Spanyol dengan tradisi yang disebut “siesta”. Di Spanyol, siesta dimulai sebagai kebiasaan para petani yang beristirahat di tengah hari untuk menghindari teriknya panas. Seiring waktu, kebiasaan ini semakin berkembang setelah Perang Saudara Spanyol, ketika warga sering memiliki dua pekerjaan dan memanfaatkan waktu siang untuk mengisi ulang energi sebelum melanjutkan pekerjaan berikutnya.

Meskipun demikian, budaya siesta di Spanyol perlahan mulai ditinggalkan akibat tekanan kerja yang semakin padat di era modern. Kini, sebagian besar warga Spanyol hanya melakukan siesta pada akhir pekan atau selama musim panas, dan sebagian besar kalangan muda bahkan tidak lagi mempraktikkannya.

Budaya “eh leuho” di Sabang merupakan warisan lokal yang mencerminkan cara hidup masyarakat yang sangat terikat pada sejarah kota. Meskipun demikian, pandangan beragam dari para pengunjung menjadi bahan refleksi apakah budaya ini tetap relevan di masa modern atau justru perlu penyesuaian dengan gaya hidup masa kini.

( Reporter: Edy Marcell )

Berita Terkait

Baru Selesai Dibangun Sudah Retak, Proyek TKS Ratu Nahrisyah Rp801 Juta Jadi Sorotan
Kalapas Lakukan Trolling Blok Hunian Pastikan Keamanan Sekaligus Sapa Warga Binaan
Karutan Raymon Tegaskan Pembinaan Menyeluruh Penguatan Spiritual dan Dukungan Keluarga Jadi Motivasi WBP Berubah Lebih Baik Jalani Kehidupan Lebih Baik
Bupati Pidie Jaya Perjuangkan Penyelamatan 81 Situs Warisan Sejarah, Minta Dukungan Serius Kementerian Kebudayaan
Awali Pekan dengan Apel Pagi, Karutan Labuhan Deli Ajak Jajaran Bangun Kepedulian dan Integritas.
Mukarramah Fadhlullah Hadiri Pembinaan Pokja Bunda PAUD, Dorong Sinergi Pendidikan Anak di Aceh Tenggara
Aceh Punya Sejarah Kepahlawanan, Kepala BNNP Aceh Prihatin Sebagian Masyarakat Aceh Terlibat Jaringan Narkoba
Danlanud El Tari Bangun Generasi Tangguh NTT, Perkuat Asta Cita Menuju Indonesia Emas 2045

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 21:06 WIB

Perkuat Sinergi Keamanan, Kalapas Narkotika Samarinda Kunjungi Polresta Samarinda

Senin, 2 November 2026 - 19:43 WIB

Lapas Narkotika Samarinda Perkuat Integritas dan Solidaritas Melalui Apel Pagi Senin

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 00:36 WIB

Lapas Narkotika Samarinda Gelar Sidang TPP, Bahas 34 Usulan Warga Binaan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 00:29 WIB

Jumat Berkah, Lapas Narkotika Samarinda Salurkan 75 Kg Beras untuk Masyarakat RT 22 Samarinda Utara

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:26 WIB

Dukung Ketahanan Pangan, Lapas Narkotika Samarinda Panen Kangkung Hasil Pembinaan Kemandirian Warga Binaan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:19 WIB

Majelis Taklim Jadi Sarana Pembinaan Kepribadian Warga Binaan Lapas Narkotika Samarinda

Rabu, 28 Oktober 2026 - 23:14 WIB

Kalapas Narkotika Samarinda Ikuti Pelantikan Pimpinan Tinggi Kemenimipas dan Kick Off Hari Bakti ke-2 Tahun 2026 Secara Virtual

Rabu, 28 Oktober 2026 - 23:08 WIB

Peringati Hari Sumpah Pemuda ke-98, Lapas Narkotika Samarinda Kobarkan Semangat Patriotik, Gigih, dan Berempati

Berita Terbaru