Bincang Hangat di Warkop Reda Kuning 2: Ridwan Tamara dan Sang Reporter Bahas Ekonomi Kerakyatan Petani di Kutacane

REDAKSI

- Redaksi

Sabtu, 7 Juni 2025 - 22:17 WIB

50251 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TLii | Aceh |Kutacane — Sabtu, 7 Juni 2025, Suasana malam di Warkop Reda Kuning 2, Kecamatan Bambel, Kutacane, Aceh Tenggara, tampak lebih hidup dari biasanya. Di tengah gelas-gelas kopi yang mengepul dan obrolan warga yang bersahutan, malam itu menjadi saksi perbincangan hangat antara Para Tokoh Gayo Aceh Tenggara yang peduli pada nasib masyarakat tani di wilayah ini: Kang Juna, jurnalis lokal yang Humanis dikenal dengan reportase sosialnya yang membumi, dan Ridwan Tamara, Ahmad dan Sultan Mahdi, tokoh masyarakat Gayo di Aceh Tenggara yang vokal memperjuangkan aspirasi petani.

Obrolan yang berlangsung santai namun sarat makna ini menyoroti realitas keseharian petani di Aceh Tenggara—sebuah wilayah agraris yang bertumpu pada hasil pertanian seperti padi dan jagung. Namun di balik kehijauan ladang dan hasil panen yang tampak stabil, tersembunyi tekanan ekonomi yang terus menghimpit para petani kecil.

Menurut Ridwan, situasi petani saat ini bisa dikatakan masih dalam taraf “normal”. Harga komoditas seperti padi, jagung, kakao, dan hasil tani lainnya relatif stabil. “Istilah orang sini, nanam padi dan jagung masih ‘rata jadi’—nggak gagal panen, hasilnya masih masuk akal,” ungkapnya sambil menyeduh kopi panas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun di balik kestabilan itu, ada cerita getir. Biaya produksi pertanian melonjak drastis. Harga pupuk, pestisida, dan obat-obatan pertanian membebani petani kecil. “Dulu, satu parah padi—sekitar 180 kilogram—nilainya bisa ditukar dengan satu mayam emas atau seekor kambing indukan. Sekarang? Jangankan kambing, buat beli pupuk aja kadang nggak cukup,” ujarnya sambil terkekeh pahit.

Ridwan menyadari, harga emas memang mengikuti fluktuasi nilai tukar dolar. Tapi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa daya beli petani tidak ikut naik. “Sekarang harga padi di kisaran Rp1.500.000 per parah, kambing indukan Rp2.500.000, sementara emas sudah tembus Rp5 juta lebih per mayam. Keseimbangan masa sekarang sudah nggak relevan lagi,” ujarnya.

Kondisi makin sulit ketika harga kebutuhan pokok seperti minyak goreng, gula, dan tepung ikut meroket. “Hasil panen mungkin stabil, tapi biaya hidup naik terus. Itulah yang bikin ekonomi sosial petani makin rapuh,” tambahnya.

Ridwan berharap ada intervensi nyata dari pemerintah, terutama dalam bentuk subsidi yang menyentuh langsung kebutuhan dasar petani: bibit, pupuk, dan obat-obatan. “Kalau pemerintah bisa menekan harga input pertanian lewat subsidi atau regulasi harga, itu sangat membantu,” ujarnya.

Meski ia mengakui bahwa efisiensi anggaran atau realisasi kegiatan pemerintah belum terlalu terasa tahun ini di tingkat akar rumput, harapan masyarakat tetap besar. “Kami ngerti pemerintah banyak beban. Tapi setidaknya beri kami alat untuk bertahan. Jangan biarkan kami bertani dalam sunyi,” ucapnya.

Kang Juna menutup obrolan malam itu dengan pertanyaan reflektif, “Jadi ke depan, kita harus bagaimana?”

Ridwan hanya tersenyum tipis. “Yang penting tetap menanam,” katanya pelan. “Tapi suara petani jangan sampai hilang. Karena kami menanam bukan hanya untuk hidup, tapi untuk negeri ini terus bertumbuh.”

 

Reporter: Kang Juna
Editor: Redaksi Jejak Desa
Foto: Warkop Reda Kuning 2, Bambel – Sabtu malam (7/6)

 

Berita Terkait

Isteri Gubernur, Marlina Muzakir Turun ke Dapur TAGANA, Ikut Bungkus Nasi untuk Korban Banjir Aceh Selatan
Ops Patuh Toba 2026, Sat Lantas Polres Pelabuhan Belawan Gelar Ramp Check Angkutan Umum
KAI Sumut Perkuat Mitigasi Risiko Cuaca, Utamakan Keselamatan dan Kenyamanan Pelanggan 358 Pohon Dipangkas, 1.650 Meter Saluran Air Disiapkan untuk Antisipasi Cuaca Ekstrem
Sinergi Rutan Tanjung dan Kemenag Wujudkan Pembinaan Kepribadian Optimal Berkelanjutan Tanamkan Keimanan Kedamaian Perubahan Positif
Kalapas Kelas IIA Binjai Mochamad Mukaffi Hadiri Kunker Kapolda Sumut Irjen Sonny Irawan di Mako Polres Binjai
Tingkatkan Kepedulian Kesehatan, Lapas Narkotika Samarinda Latih 58 WBP Menjadi Kader Kesehatan
Perkuat Sinergi Keamanan, Kalapas Narkotika Samarinda Kunjungi Polresta Samarinda
Rapat Koordinasi Pembentukan Panitia Susun Rangkaian Kegiatan Bahas Teknis Agar Tertib Khidmat Penuh Sukacita

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 21:06 WIB

Perkuat Sinergi Keamanan, Kalapas Narkotika Samarinda Kunjungi Polresta Samarinda

Senin, 2 November 2026 - 19:43 WIB

Lapas Narkotika Samarinda Perkuat Integritas dan Solidaritas Melalui Apel Pagi Senin

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 00:36 WIB

Lapas Narkotika Samarinda Gelar Sidang TPP, Bahas 34 Usulan Warga Binaan

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 00:29 WIB

Jumat Berkah, Lapas Narkotika Samarinda Salurkan 75 Kg Beras untuk Masyarakat RT 22 Samarinda Utara

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:26 WIB

Dukung Ketahanan Pangan, Lapas Narkotika Samarinda Panen Kangkung Hasil Pembinaan Kemandirian Warga Binaan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:19 WIB

Majelis Taklim Jadi Sarana Pembinaan Kepribadian Warga Binaan Lapas Narkotika Samarinda

Rabu, 28 Oktober 2026 - 23:14 WIB

Kalapas Narkotika Samarinda Ikuti Pelantikan Pimpinan Tinggi Kemenimipas dan Kick Off Hari Bakti ke-2 Tahun 2026 Secara Virtual

Rabu, 28 Oktober 2026 - 23:08 WIB

Peringati Hari Sumpah Pemuda ke-98, Lapas Narkotika Samarinda Kobarkan Semangat Patriotik, Gigih, dan Berempati

Berita Terbaru