TLii | ACEH | Blangkejeren, 20 Juni 2025 — Di tengah hawa sejuk perbukitan Logon Hill Kampung Jawa, Gayo Lues, terselip satu sesi bincang santai yang jauh dari kesan basa-basi. Jumat pagi itu, menjelang dimulainya Rapat Koordinasi Pemetaan Program Pemberdayaan Masyarakat yang digelar oleh BNNK Gayo Lues, sejumlah tokoh penting dari lintas sektor berkumpul dalam suasana informal tapi sarat makna.
Bertempat di Logon Hill Glamping & Eatery, Pengacara Muda Gayo Lues Abuadin Syah, S.H., CMP, Kepala BNNK Gayo Lues Fauzul Imam, dan Kepala Dinas DP3AP2KB Gayo Lues Sartika Mayasari, STTP dan Kaban Kesbangpol Roni Ismunandar duduk semeja bersama awak media Seputar Gayo Lues. Tanpa rundown resmi, mereka terlibat dalam perbincangan terbuka tentang dua masalah yang terus menggerogoti daerah: kejahatan seksual dan penyalahgunaan narkoba.
Salah satu isu paling mencolok yang mencuat dalam obrolan itu adalah maraknya kekerasan seksual di Gayo Lues. Abuadin Syah menggarisbawahi bahwa kasus-kasus yang sebelumnya hanya bisa dilihat di layar kaca kini telah menjadi kenyataan di desa-desa pelosok. “Peningkatan aktivitas di ruang online ternyata jadi salah satu pemicu ledakan kasus pelecehan dan kekerasan seksual. Hari ini, yang dulu kita anggap cerita televisi, sekarang hadir di depan mata,” ujarnya.
Lebih lanjut, Abuadin menyoroti masalah stigma sosial yang justru menyudutkan korban. Pertanyaan seperti “bajunya gimana?” atau “kenapa mau berdua?” masih sering dilontarkan, mencerminkan mentalitas masyarakat yang belum berpihak pada korban.
“Dengan adanya Qanun Jinayah dan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual, korban kini mulai berani bersuara. Tapi sayangnya, penegakan hukum masih jauh dari kata efektif. Dicambuk 45 kali tidak cukup untuk menimbulkan efek jera bagi pelaku,” tegasnya. Ia mendorong aparat penegak hukum untuk mengimplementasikan Pasal 46 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 secara maksimal—termasuk vonis penjara dan denda berat jika perlu.
Sartika Mayasari, Kepala DP3AP2KB, hadir dengan perspektif empatik. Ia menekankan pentingnya pendampingan psikologis bagi korban, bukan sekadar proses hukum. pihaknya bekerja sejak awal pendampingan hingga korban pulih secara psikologis.
> “Kami hadir dari awal sampai korban pulih. Luka batin seringkali lebih dalam dari luka fisik,” ucapnya lirih namun tajam.
Ia juga mengusulkan agar pelaku kejahatan seksual menjalani tes urine, mengingat kemungkinan keterlibatan narkoba dalam memengaruhi perilaku mereka. “Kalau pelaku berada di bawah pengaruh zat, maka pendekatan hukum perlu adaptif. Tapi jangan jadikan itu alasan untuk meringankan hukuman,” katanya tegas.
Sartika menyerukan pentingnya kerja sama lintas sektor—hukum, kesehatan, pendidikan, hingga tokoh adat dan agama—untuk membangun sistem perlindungan yang menyeluruh. “Ini soal masa depan anak-anak kita, dan soal martabat perempuan Gayo Lues.”
Sementara itu, Kepala BNNK Gayo Lues, Fauzul Imam, mengungkap fakta mencengangkan: 90 persen pelaku tindak kriminal di Gayo Lues adalah pengguna narkoba.
> “Narkoba itu gerbang kehancuran. Ia membuka pintu pada kekerasan sosial, seksual, dan keretakan moral dalam keluarga. Hari ini, kita hadapi kasus yang melibatkan orang tua dan anak kandung. Ini alarm besar,” tegas Fauzul.
BNNK telah bergerak aktif melalui program Workshop Ketahanan Keluarga Anti Narkoba di berbagai desa. Program ini mempertemukan orang tua dan anak dalam forum terbuka, untuk membangun komunikasi dua arah sebagai benteng awal pencegahan.
“Kalau komunikasi dalam keluarga runtuh, maka pengaruh negatif akan masuk. Saat terjadi kejahatan yang melampaui akal sehat, kita wajib tes urin pelakunya. Ini penting untuk penegakan hukum berbasis bukti ilmiah,” tegasnya
Sebagai langkah konkret, BNNK Gayo Lues berencana menjalin kemitraan strategis dengan DP3AP2KB melalui MoU kerja sama dalam program P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba). Tujuannya: memperkuat daya tahan sosial masyarakat dari hulu ke hilir.
Perbincangan yang awalnya tak terencana ini justru menelurkan banyak gagasan dan sorotan tajam tentang wajah gelap kejahatan sosial di daerah. Reporter Seputar Gayo Lues yang hadir menyaksikan langsung, mencatat bahwa Logon Hill hari itu menjadi bukti bahwa solusi bisa lahir dari ruang-ruang informal, ketika hati nurani para pemangku kepentingan dipertemukan di atas secangkir kopi dan udara segar.
Reporter: Tim Redaksi
Editor: Seputar Gayo Lues Media Network
Lokasi: Logon Hill Glamping & Eatery, Kampung Jawa, Blangkejeren
Tanggal: 20 Juni 2025



























