TLii | ACEH | GAYO LUES | BLANGKEJEREN –
Puluhan warga di Kabupaten Gayo Lues terlihat mengantre panjang untuk mendapatkan gas elpiji 3 kilogram di salah satu pangkalan di Blangkejeren. Antrean tersebut telah berlangsung sejak pagi hari, dengan tabung gas berjajar rapi di badan jalan sebagai penanda giliran warga. Kondisi ini menjadi gambaran nyata perjuangan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga di tengah keterbatasan pasokan.

Pantauan di lokasi menunjukkan antrean didominasi oleh ibu rumah tangga. Sejak pagi, warga berdiri atau duduk di sekitar tabung gas sambil menunggu giliran. Meski harus menunggu berjam-jam, antrean tetap berlangsung tertib, mencerminkan kesabaran masyarakat dalam menghadapi keterbatasan.

Gas elpiji 3 kilogram merupakan kebutuhan vital bagi sebagian besar keluarga di Gayo Lues. Bagi masyarakat dengan penghasilan terbatas, gas bersubsidi ini menjadi satu-satunya sumber energi untuk memasak. Tanpa gas, aktivitas dapur terhenti dan kebutuhan makan keluarga ikut terganggu. Karena itu, warga rela mengorbankan waktu dan aktivitas sejak pagi demi memastikan dapur tetap bisa digunakan.
Sejumlah warga mengungkapkan bahwa kondisi antrean seperti ini bukan kali pertama terjadi. Namun dalam beberapa waktu terakhir, antrean dinilai semakin panjang. Distribusi gas elpiji yang belum stabil disebut sebagai pemicu utama, terutama karena wilayah Gayo Lues masih berada dalam masa kedaruratan bencana alam.
Diketahui, hingga Sabtu, 03 Januari 2026, Kabupaten Gayo Lues masih berstatus masa kedaruratan bencana alam yang telah ditetapkan sejak 26 November 2025. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap akses transportasi dan distribusi logistik ke wilayah ini.
Salah satu penyebab utama terganggunya pasokan gas elpiji adalah terputusnya Jalan Lintas Blangkejeren–Cane akibat longsor di Wilayah Tangsaran dan Wilayah Tetumpun, Kecamatan Putri Betung. Longsor di dua titik tersebut menyebabkan akses jalan tertutup, sehingga mobil pengangkut gas elpiji tidak dapat masuk ke Kabupaten Gayo Lues.
Terputusnya jalur vital tersebut membuat distribusi kebutuhan pokok, termasuk gas elpiji 3 kilogram, tidak berjalan normal. Dampaknya kini dirasakan langsung oleh masyarakat, salah satunya melalui antrean panjang gas elpiji yang harus dihadapi sejak pagi hari di sejumlah pangkalan.
Di tengah kondisi tersebut, solidaritas antarwarga tetap terlihat. Mereka saling menjaga antrean, memastikan tabung masing-masing aman, serta mengingatkan giliran tanpa menimbulkan keributan. Namun antrean yang memanjang hingga ke badan jalan tetap menimbulkan kekhawatiran, baik dari sisi keselamatan maupun kelancaran lalu lintas.
Warga berharap selama masa kedaruratan bencana ini, perhatian terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat dapat ditingkatkan. Mereka juga berharap akses Jalan Lintas Blangkejeren–Cane segera dapat dipulihkan, sehingga distribusi gas elpiji kembali lancar dan pasokan dapat mencukupi kebutuhan masyarakat tanpa harus melalui antrean panjang.
Kondisi ini menjadi potret nyata bagaimana dampak bencana alam tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga berimbas langsung pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat sehari-hari. Antrean gas elpiji di Gayo Lues menjadi simbol kesabaran warga sekaligus harapan akan percepatan pemulihan pascabencana. (Wiraepick)



































