TLii [] PIDIE JAYA, ACEH – Senja perlahan merunduk di langit Meureudu, menghadirkan nuansa haru dalam sebuah pertemuan sederhana yang penuh makna. Di sudut sebuah warung kopi, tawa dan cerita berpadu, menghangatkan hati puluhan jurnalis yang selama ini lebih akrab dengan hiruk-pikuk lapangan daripada kebersamaan.
Sebanyak 35 jurnalis dari berbagai media di Pidie Jaya berkumpul dalam satu meja kebersamaan. Tak ada kemewahan, hanya secangkir kopi, hidangan sederhana, dan rasa rindu untuk saling menyapa setelah sekian lama dipisahkan oleh kesibukan dan tuntutan profesi.
Di tengah suasana itu, Owner Socollate Pidie Jaya, Irwan Ibrahim, berdiri dengan penuh kehangatan. Suaranya tenang, namun sarat makna.
“Terima kasih kepada rekan-rekan semua… akhirnya kita bisa duduk bersama seperti ini,” ucapnya lirih, seakan menyiratkan betapa momen tersebut telah lama dinantikan.
Rencana yang sempat tertunda oleh padatnya aktivitas, akhirnya menemukan jalannya di penghujung Ramadan. Bagi para jurnalis, yang kerap berjibaku dengan waktu dan peristiwa, momen ini terasa lebih dari sekadar buka puasa bersama—ini adalah ruang untuk bernapas.
Ingatan pun mengalir. Tentang hari-hari berat saat meliput bencana banjir bandang dan longsor, tentang langkah-langkah tergesa di tengah lumpur dan hujan, hingga kisah-kisah pilu yang pernah mereka saksikan.
Salah seorang jurnalis, Riski, tak mampu menyembunyikan rasa harunya.
“Biasanya kita bertemu dalam situasi penuh tekanan di lapangan. Hari ini… kita bisa tertawa bersama,” ujarnya, matanya berbinar.
Tak ada yang benar-benar mempermasalahkan apa yang tersaji di meja. Karena bagi mereka, malam itu bukan tentang makanan—melainkan tentang kebersamaan yang lama hilang.
Di antara canda, tawa, dan cerita yang bersahut-sahutan, waktu seakan berjalan lebih lambat. Malam di Meureudu menjadi saksi, bahwa di balik kerasnya profesi, para jurnalis juga merindukan kehangatan sederhana—duduk bersama, berbagi kisah, dan mengingat bahwa mereka tidak sendiri. ”((JN)


























