TLii|Aceh|ACEH UTARA — Perayaan Milad ke-800 Samudera Pasai dan Aceh Utara tidak hanya berlangsung di panggung utama. Deretan stan dan anjungan yang mengisi kawasan kegiatan ikut menjadi etalase yang memperlihatkan wajah pembangunan daerah.
Salah satunya stand Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Aceh Utara, seperti terlihat dalam dokumentasi kegiatan. Dengan balutan ornamen khas Aceh dan dominasi warna merah, stand tersebut tampil mencolok di tengah kemeriahan piasan delapan abad Samudera Pasai.
Di bagian dalam, pengunjung disuguhi sejumlah informasi dan visual yang berkaitan dengan program serta kiprah perangkat daerah. Konsep itu membuat stand tidak sebatas tempat menerima tamu, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan kerja pemerintah kepada masyarakat.
Perayaan tahun ini memang dikemas cukup besar. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menggelar rangkaian kegiatan selama sepekan, dengan pusat kegiatan di kawasan Lapangan Landing, depan Kantor Bupati Aceh Utara. Sejumlah stan pameran turut disiapkan untuk menyemarakkan momentum tersebut.
Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil sebelumnya menegaskan, peringatan 800 tahun Samudera Pasai semestinya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum tersebut, menurutnya, harus menjadi pengingat terhadap perjalanan sejarah, adat, budaya, serta warisan peradaban yang ditinggalkan para indatu.
Pesan itu menjadi relevan ketika berbagai dinas ikut membawa wajah pembangunan ke dalam arena perayaan. Jika sejarah Samudera Pasai menjadi akar yang dibanggakan, maka pembangunan hari ini adalah bagian dari cerita yang sedang ditulis generasi sekarang.
Menariknya, kemeriahan 800 tahun tersebut juga dibarengi dengan berbagai kegiatan yang menyentuh aspek kebudayaan, lingkungan hingga penguatan pengetahuan sejarah. Pemerintah daerah, misalnya, menggelar kajian mengenai Kesultanan Samudera Pasai serta upaya konservasi kawasan makam bersejarah.
Bahkan, sebanyak 800 pohon ditanam di kawasan situs cagar budaya Kompleks Makam Sultanah Nahrisyah sebagai bagian dari rangkaian peringatan.
Dengan demikian, kemeriahan yang terpancar dari stand-stand pameran bukan sekadar soal dekorasi. Di balik lampu, ornamen dan berbagai materi yang dipajang, ada pesan yang ingin disampaikan: Aceh Utara tidak hanya ingin mengenang masa lalu, tetapi juga memperlihatkan apa yang sedang dikerjakan untuk masa depan.
Stand Dinas Perkim menjadi salah satu potret kecil dari semangat itu—membawa isu pembangunan permukiman dan kawasan tempat masyarakat hidup ke tengah perayaan sejarah besar yang sedang menjadi perhatian publik.
Delapan abad Samudera Pasai akhirnya bukan hanya tentang angka 800. Ia menjadi panggung untuk mempertemukan warisan masa lalu dengan wajah Aceh Utara hari ini.


































