
GAYO LUES, ACEH – Hampir satu tahun pascabencana, penderitaan masyarakat Kampung Uyem Beriring, Kecamatan Tripe Jaya, Kabupaten Gayo Lues, belum juga berakhir. Di tengah janji pemulihan dan tanggung jawab pemerintah terhadap masyarakat terdampak bencana, warga justru masih harus bertaruh nyawa untuk mendapatkan akses yang layak dan aman.
Pemandangan memilukan terjadi pada Sabtu (31/10/2026). Jenazah seorang warga Kampung Uyem Beriring terpaksa diseberangkan menggunakan perahu karet menuju pemakaman umum Kampung Pasir yang berada di seberang sungai. Proses penyeberangan berlangsung penuh risiko. Sejumlah warga yang menyaksikan bahkan sempat histeris melihat kondisi berbahaya yang harus dilalui demi mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
Sudah hampir setahun, tetapi akses belum juga pulih. Sampai kapan masyarakat harus menunggu?
Peristiwa ini bukan sekadar persoalan sulitnya menyeberangi sungai. Ini adalah potret nyata lambannya pemulihan infrastruktur pascabencana yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Ketika akses penghubung tidak tersedia, masyarakat bukan hanya kesulitan membawa hasil pertanian dan memenuhi kebutuhan pokok. Bahkan dalam situasi paling menyedihkan sekalipun, mereka masih harus menghadapi ancaman keselamatan.

Jembatan Pernah Dibangun, Kini Roboh Diterjang Arus
Sebelumnya, jembatan penghubung di wilayah tersebut pernah dibangun oleh TNI. Namun, jembatan itu hanya bertahan beberapa bulan sebelum akhirnya roboh diterjang derasnya arus sungai.
Sejak saat itu, masyarakat kembali menghadapi persoalan akses yang belum terselesaikan. Hampir satu tahun berlalu, tetapi solusi permanen yang benar-benar menjamin keselamatan warga belum juga dirasakan.
Pertanyaan pun muncul: mengapa akses vital yang menyangkut kehidupan masyarakat di wilayah terpencil belum mendapatkan penanganan yang memadai?
Apakah kondisi masyarakat yang jauh dari pusat kota membuat persoalan mereka tidak menjadi prioritas? Apakah pemerintah harus menunggu video viral atau jatuhnya korban berikutnya sebelum mengambil tindakan nyata?
Jangan Tunggu Viral, Baru Pemerintah Bergerak
Seorang warga Kampung Uyem Beriring, Amaluddin, menyampaikan keluhannya melalui pesan WhatsApp. Ia mengungkapkan bahwa masyarakat telah lama berjuang menghadapi keterbatasan akses sejak bencana melanda wilayah mereka.
“Kampung kami mungkin tidak terkenal, letaknya jauh dari kota. Video orang tua menyeberangi jembatan tali sempat viral di media sosial. Namun, pernahkah kita membayangkan bagaimana jika yang diseberangkan adalah hasil tani, kebutuhan pokok, atau barang lainnya?” tulis Amaluddin.
Ia juga mengungkapkan bahwa kondisi saat ini jauh lebih menyedihkan. Salah seorang warga meninggal dunia, dan masyarakat harus mengantarkan jenazah dengan perahu karet serta pengamanan seadanya.
Dalam pesan yang sama, Amaluddin menegaskan bahwa masyarakat tidak meminta kemewahan.
“Kami tidak meminta kemewahan. Kami hanya ingin akses yang layak dan aman. Jangan sampai kampung kami hanya diperhatikan ketika videonya viral atau ketika ada korban,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menjadi tamparan keras bagi pihak-pihak yang memiliki tanggung jawab terhadap pemulihan pascabencana. Sebab, pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada wilayah yang mudah dijangkau, sementara masyarakat di pelosok harus terus bertahan dengan keterbatasan.
Pemerintah Harus Bertanggung Jawab
Kejadian ini seharusnya menjadi alarm serius bagi Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, Pemerintah Aceh, serta instansi terkait yang memiliki kewenangan dalam penanganan infrastruktur dan pemulihan pascabencana.
Masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar perhatian sesaat. Mereka membutuhkan langkah konkret, kepastian pembangunan, dan akses yang aman untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka bagaimana perkembangan penanganan akses Kampung Uyem Beriring, apa kendala yang dihadapi, serta kapan solusi permanen dapat direalisasikan.
Sebab, hampir satu tahun bukanlah waktu yang singkat bagi masyarakat untuk terus hidup dalam keterbatasan.
Jangan sampai tragedi penyeberangan jenazah ini hanya menjadi berita yang ramai sehari, kemudian dilupakan. Jangan sampai masyarakat kembali menjadi korban dari persoalan infrastruktur yang tak kunjung diselesaikan.
Di saat masyarakat harus bertaruh nyawa untuk mengantarkan jenazah, pemerintah tidak boleh sekadar menjadi penonton.
Di balik kampung yang jauh dari pusat kota, ada kehidupan yang berhak mendapatkan perhatian. Ada masyarakat yang menunggu kehadiran negara, bukan hanya melalui janji, tetapi melalui tindakan nyata.
Sampai kapan warga Uyem Beriring harus berjuang sendiri?
Catatan redaksi: Berita ini disusun berdasarkan informasi dan curhatan warga. Konfirmasi kepada pemerintah daerah dan instansi terkait diperlukan untuk memperoleh penjelasan mengenai kendala serta rencana penanganan akses tersebut.

































