TLii|SUMUT|SIANTAR, Acara Fun Run “Agak Lari Kelen” yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Pematangsiantar pada 10 Agustus 2025 yang lalu membuat sejumlah lembaga dan Kelompok etnis Simalungun merasa geram dan menuding walikota Wesly Silalahi telah melakukan penistaan Etnis Simalungun.
Pasalnya, pada acara tersebut memakai adat Toba bukan adat istiadat Simalungun, padahal Kota Pematangsiantar adalah tanah leluhur etnis Simalungun.
Ketua Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun Anthony Damanik mengatakan kalau mereka sudah mengirimkan surat kepada DPRD Kota Pematangsiantar terkait perbuatan yang telah dilakukan oleh Wesly Silalahi sebagai Walikota Pematangsiantar.
“Kita sudah melayangkan surat ke DPRD untuk meminta agar segera membentuk Panitia Khusus Penistaan Etnis Simalungun,” ucapnya Jumat 31 Oktober 2025 di kedai kopi Horja Jalan Wandelvad Kelurahan Proklamasi Kecamatan Siantar Barat Kota Pematangsiantar.
Ketua Komite Nasional Pemuda Simalungun (KNPSI) Jam Wiserdo Saragih mengatakan akan melakukan aksi yang mengharuskan mereka turun ke jalan (demo) karena di duga Walikota tidak lagi menghargai Etnis Simalungun.
Disebutkannya, bahwa walikota Pematangsiantar di duga tidak menyukai etnis Simalungun, sebab setiap di undang di acara Simalungun, walikota tidak pernah hadir.
Ketua Ikatan Keluarga Islam Simalungun (IKEIS) Lisman Saragih upaya yang dilakukan oleh Pemko Pematangsiantar pada acara menghilangkan identitas etnis Simalungun.
“Peristiwa penistaan ini sudah terjadi berulang kali,” katanya sembari mengatakan bahwa etnis Simalungun adalah etnis yang terbuka, tidak membeda-bedakan, namun saking baiknya malah diinjak-injak.
Juni Saragih, Ketua Demi Bangsa Simalungun (Demban) mengaku akan menyiapkan massa dari berbagai daerah di Sumatera Utara untuk melakukan aksi turun ke jalan.
“Kita akan panggil dari Medan, Deli Serdang, Tebing Tinggi dan kota lainnya untuk melakukan aksi,” pungkasnya. (Juin)


































