TLii |ACEH TENGGARA | KUTACANE – Sejumlah warga mempertanyakan pengelolaan Kolam Balai Benih Ikan (BBI) milik Dinas Perikanan Kabupaten Aceh Tenggara yang dinilai terkesan diabaikan dan tidak terurus.
Kolam BBI yang terletak di Desa Lawe Bekung, Kecamatan Badar, terlihat sebagian besar mengering dan ditumbuhi rumput liar. Berdasarkan pantauan media ini, dari puluhan petak kolam yang ada, hanya beberapa petak yang masih berisi air dan ikan dengan berbagai ukuran. Sementara sebagian lainnya tampak kering dan bahkan dimanfaatkan warga sekitar untuk mengambil rumput sebagai pakan ternak.
Abdullah Gafar, warga Aceh Tenggara yang juga pemerhati perikanan air tawar, mengaku kecewa melihat kondisi tersebut.
> “Sangat miris melihat kolam milik pemerintah dibiarkan mengering dan ditumbuhi rumput. Padahal di depan kantor Dinas Perikanan ada aliran Kali Bulan yang jaraknya hanya beberapa meter. Kalau dinas saja tidak mampu mengelola kolam di depan mata, bagaimana mau mendorong masyarakat untuk bertani ikan,” ujarnya.
Balai Benih Ikan (BBI) Aceh Tenggara dibangun dengan anggaran yang tidak sedikit. Fasilitas ini diperuntukkan untuk penyediaan stok benih ikan air tawar seperti ikan mas, nila, mujair dan jenis lainnya, sekaligus sebagai tempat pembenihan dan pendederan ikan.
Namun menurut sumber yang layak dipercaya, kondisi sebagian besar kolam yang mengering telah berlangsung cukup lama dan terkesan dibiarkan. Padahal, apabila dikelola secara optimal, BBI dinilai berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh Tenggara.
Jupri Yadi, salah seorang aktivis di Kutacane, menilai kondisi tersebut mencerminkan lemahnya manajemen di tubuh Dinas Perikanan.
> “Kolam itu sudah ada sejak lama, tinggal dikelola. Tapi faktanya beberapa petak mengering bahkan menjadi lokasi warga mengambil rumput. Ini menunjukkan pengelolaan yang tidak maksimal,” ujarnya.
Kondisi tersebut dinilai bertolak belakang dengan julukan Aceh Tenggara sebagai daerah Minapolitan, yang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil ikan air tawar di Aceh. Sejumlah pihak meminta Bupati dan Wakil Bupati melakukan evaluasi terhadap kinerja Dinas Perikanan serta menempatkan tenaga profesional di bidang perikanan untuk memimpin dan membenahi sektor tersebut.
Penjelasan Kadis Perikanan
Kepala Dinas Perikanan Aceh Tenggara, Firmansyah, S.TTP, saat dikonfirmasi pada Minggu (15/2/2026), membenarkan bahwa banyak petak kolam di BBI Lawe Bekung yang kosong dan kering.
Menurutnya, kondisi tersebut disebabkan rusaknya saluran intake akibat banjir beberapa waktu lalu.
“Perbaikan saluran sudah kami usulkan ke pemerintah provinsi dan pusat, namun sampai saat ini belum ada tindak lanjut,” jelasnya.
Ia juga menyebut keterbatasan anggaran menjadi kendala utama dalam pemeliharaan sarana dan prasarana. Bahkan, gaji tenaga teknis dan tenaga layanan dasar BBI disebut belum terbayarkan selama tiga bulan pada tahun 2025.
“Untuk sementara, indukan ikan dipindahkan ke kolam lain yang masih bisa difungsikan. Tahun 2026 ada kegiatan melalui dana pokok pikiran dewan untuk mendukung perbaikan,” pungkasnya. (madiansyah).




































