Dari Gerbang Kampus Bukit Indah, Mahasiswa Unimal Gaungkan Seruan “Indonesia Krisis”

- Redaksi

Selasa, 23 Juni 2026 - 12:17 WIB

50117 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TLii|Aceh|Lhokseumawe, 22 Juni 2026 – Aliansi Mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal) menggelar Mimbar Bebas di depan Gerbang Kampus Bukit Indah (BI) pada Senin (22/06/2026) dengan mengusung tema “Indonesia Krisis”.

 

Kegiatan ini merupakan bentuk kegelisahan sekaligus perlawanan moral mahasiswa terhadap berbagai persoalan bangsa yang semakin hari semakin menunjukkan krisis keberpihakan terhadap rakyat. Aksi mimbar bebas yang di dalamnya berisi orasi, puisi, musik, dan teater yang silih berganti di tampilkan oleh mahasiswa Unimal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Di tengah gencarnya narasi keberhasilan pembangunan yang terus dipertontonkan kepada publik, realitas yang dirasakan masyarakat justru menunjukkan hal yang berbeda. Ketimpangan sosial semakin melebar, eksploitasi sumber daya alam terus berlangsung, ruang demokrasi menghadapi berbagai ancaman, korban bencana masih menunggu kepastian, dan berbagai kasus kekerasan seksual di kampus belum mendapatkan penyelesaian yang berkeadilan. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang menghadapi krisis yang tidak dapat ditutupi dengan angka-angka pertumbuhan ekonomi maupun slogan-slogan politik.

 

Melalui mimbar bebas ini, mahasiswa menegaskan bahwa kampus tidak boleh berubah menjadi ruang yang membungkam kritik. Kampus harus tetap menjadi benteng akal sehat, tempat lahirnya keberanian intelektual, dan pusat perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan. Ketika banyak pihak memilih diam demi kenyamanan dan keamanan posisi masing-masing, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk tetap berdiri bersama rakyat dan menyuarakan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.

 

Dalam aksi tersebut, Aliansi Mahasiswa Unimal menyoroti berbagai persoalan yang dinilai mendesak untuk segera diselesaikan.

 

Salah satunya adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang hingga saat ini masih menyisakan banyak pertanyaan terkait efektivitas, transparansi, pengawasan, serta prioritas penggunaan anggaran negara.

 

Mahasiswa menilai bahwa program yang menggunakan anggaran besar tidak boleh dijalankan sekadar untuk kepentingan pencitraan politik, sementara berbagai kebutuhan mendasar masyarakat di sektor pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masih belum terpenuhi secara maksimal.

 

Aliansi Mahasiswa Unimal juga secara tegas menolak keterlibatan Universitas Malikussaleh dalam pengelolaan Program MBG. Kampus bukanlah instrumen politik dan bukan pula badan pelaksana proyek pemerintah. Kampus memiliki mandat utama untuk menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa menolak pelibatan kampus dalam program tersebut di tengah masih banyaknya persoalan akademik dan kebutuhan mahasiswa yang belum terselesaikan.

 

Selain itu, mahasiswa juga menyerukan agar militer kembali fokus pada tugas pokoknya sebagai alat pertahanan negara dan tidak semakin masuk ke ranah sipil. Reformasi 1998 telah mengajarkan bahwa demokrasi hanya dapat tumbuh ketika supremasi sipil ditegakkan. Segala bentuk upaya yang berpotensi mengembalikan dominasi militer dalam urusan sipil harus dikritisi secara serius karena dapat menjadi ancaman bagi perjalanan demokrasi yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan besar.

 

Di sektor lingkungan, mahasiswa mengecam praktik eksploitasi sumber daya alam yang terus terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

 

Kekayaan alam yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan rakyat justru semakin sering menjadi sumber konflik, kerusakan lingkungan, dan penderitaan masyarakat.

 

Hutan dibabat, sungai tercemar, pesisir dirusak, dan ruang hidup masyarakat dikorbankan atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi. Mahasiswa menegaskan bahwa pembangunan yang menghancurkan lingkungan bukanlah pembangunan, melainkan bentuk perampasan masa depan generasi mendatang.

 

Mahasiswa juga mendesak pemerintah untuk mempercepat penyelesaian berbagai persoalan pasca bencana di Aceh. Hingga hari ini masih terdapat masyarakat yang menunggu kepastian terkait pemulihan, rehabilitasi, dan pembangunan kembali fasilitas yang terdampak. Negara tidak boleh hadir hanya ketika bencana terjadi lalu menghilang ketika rakyat membutuhkan kepastian dan keadilan dalam proses pemulihan.

 

Tidak kalah penting, Aliansi Mahasiswa Unimal mendesak penyelesaian seluruh kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus secara transparan, adil, dan berpihak kepada korban. Kampus yang gagal melindungi mahasiswanya dari kekerasan adalah kampus yang sedang kehilangan fungsi kemanusiaannya. Tidak boleh ada upaya menutupi kasus demi menjaga citra institusi. Tidak boleh ada kompromi terhadap pelaku. Keadilan bagi korban harus menjadi prioritas utama.

 

Aliansi Mahasiswa Unimal menegaskan bahwa enam persoalan yang disuarakan dalam mimbar bebas ini bukanlah isu yang berdiri sendiri. Seluruhnya merupakan gambaran dari krisis yang lebih besar, yaitu krisis keberpihakan negara terhadap rakyat.

 

Ketika kebijakan lebih sibuk melayani kepentingan kekuasaan daripada kebutuhan masyarakat, ketika alam terus dieksploitasi demi keuntungan segelintir pihak, ketika demokrasi mengalami kemunduran, ketika korban bencana dan korban kekerasan seksual terus menunggu keadilan, maka mahasiswa memiliki kewajiban untuk bersuara.

 

Melalui mimbar bebas ini, Aliansi Mahasiswa Unimal menyerukan kepada seluruh mahasiswa agar tidak menjadi generasi yang apatis dan hanya menjadi penonton sejarah. Perubahan tidak pernah lahir dari sikap diam. Perubahan lahir dari keberanian untuk berpikir kritis, bersuara lantang, dan bergerak bersama rakyat melawan segala bentuk ketidakadilan.

 

“Ketika ketidakadilan dinormalisasi, maka perlawanan menjadi kewajiban. Ketika suara rakyat diabaikan, maka mahasiswa harus berbicara lebih keras. Indonesia sedang menghadapi krisis keberpihakan, krisis keadilan, krisis lingkungan, dan krisis demokrasi. Karena itu, satu-satunya pilihan adalah bergerak. Indonesia krisis, bergeraklah!” Saatnya Revolusi!!

Berita Terkait

Rutan kls I Labuhan Deli Ikuti Pelantikan Pimti dan Kick Off Hari Bakti Kemenimipas.
Wabup Toba: Kita Butuh Generasi Patriotik, Gigih, dan Berempati untuk Indonesia Maju
Apresiasi diberikan pada Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 Kabupaten Langkat atas Kontribusi Pembinaan Masyarakat
Lapas Pemuda Kelas III Langkat Peringati Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 Usung Tema Patriotik Gigih Berempati
Lapas Perempuan Medan Ikuti Uji Petik Pengumpulan Data Terkait Usul Perubahan Pidana
Kalapas Endang Sriwati Pimpin Upacara Bacakan Amanat Menpora Erick Thohir Jaga Api Persatuan Kolaborasi dan Inovasi Indonesia Maju
Upacara Sumpah Pemuda ke-98 di Langsa, Patriotisme dan Persatuan Jadi Pesan Utama
Semangat Sumpah Pemuda, BNNP Aceh Ungkap Ladang Ganja Seluas 18 Hektare di Aceh Utara

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:06 WIB

Lapas Perempuan Kelas IIA Pekanbaru Ikut Dukung Komitmen Pengamanan Pembinaan WBP dan Pencegahan Gangguan Kamtib

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:27 WIB

Lapas Perempuan Kelas IIA Pekanbaru 26 Oktober 2026 Pastikan WBP Bersih dari HP Ilegal Wujudkan Lapas Aman Tertib

Jumat, 23 Oktober 2026 - 19:35 WIB

Kalapas Endang Sriwati Dampingi Kegiatan Bersama Ibu Asuh dan Petugas Klinik Wujud Pelayanan Humanis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 19:26 WIB

Lapas Perempuan Pekanbaru Komitmen Wujudkan Lingkungan Pemasyarakatan Sehat Aman dan Peduli Kesehatan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 19:45 WIB

Kalapas Endang Sriwati Hadiri Monev Capaian Kinerja Kanwil Ditjenpas Riau

Selasa, 20 Oktober 2026 - 16:54 WIB

Lapas Perempuan Pekanbaru Komitmen Kembangkan Program Pembinaan Berkelanjutan Bermanfaat Nyata

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:34 WIB

Lapas Perempuan Pekanbaru Komitmen Pelayanan Humanis dan Responsif Dukung Pembinaan

Senin, 12 Oktober 2026 - 06:40 WIB

Paminal Periksa Kombes Silvester Kasus PLN Batam Kini Disorot: KPK Harus Bertindak?

Berita Terbaru