GAYO LUES – Perjuangan dua siswi asal Desa Kendawi, Kabupaten Gayo Lues, Jahra dan Novi, untuk menempuh pendidikan di tengah keterbatasan akhirnya mendapat perhatian hingga tingkat nasional. Kamis (06/08/2026).

Kisah keduanya sempat menjadi perhatian publik setelah diketahui harus melewati akses penyeberangan yang memprihatinkan untuk pergi dan pulang sekolah. Mereka harus melintasi jembatan gantung sederhana yang pada bagian aksesnya menggunakan kawat seling.
Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata tentang perjuangan anak-anak di pelosok daerah dalam mendapatkan hak pendidikan.
Meski harus menghadapi akses yang tidak mudah dan berisiko, Jahra dan Novi tetap memilih untuk bersekolah. Setiap langkah yang mereka tempuh menjadi bagian dari perjuangan untuk meraih cita-cita dan masa depan yang lebih baik.
Kini, perjuangan kedua siswi tersebut mendapat perhatian dari Wakil Presiden Republik Indonesia. Sebagai bentuk kepedulian, Jahra dan Novi menerima bantuan berupa tas dan sepatu.
Bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Jahra dan Novi, pemberian itu memiliki makna yang jauh lebih besar.
Tas yang diterima akan menemani buku dan perlengkapan sekolah mereka. Sementara sepatu akan menemani langkah keduanya dalam perjalanan menuju tempat menuntut ilmu.
Lebih dari itu, perhatian tersebut menjadi pesan bahwa perjuangan anak-anak di pelosok negeri untuk mendapatkan pendidikan tidak luput dari perhatian.
Kisah Jahra dan Novi sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah pembangunan yang terus berjalan, masih terdapat anak-anak yang harus menghadapi berbagai keterbatasan untuk bisa duduk di bangku sekolah.
Mereka tidak meminta kemewahan.
Mereka hanya ingin belajar.
Mereka ingin bersekolah dan memiliki kesempatan untuk meraih masa depan.
Untuk mewujudkan keinginan tersebut, Jahra dan Novi harus melewati akses penyeberangan yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa khawatir.
Kini, kisah keduanya memasuki babak baru. Dari sebuah jembatan sederhana yang sempat membuat publik terenyuh, muncul perhatian dan kepedulian yang diharapkan dapat memberikan semangat baru bagi kedua siswi tersebut.
Bantuan tas dan sepatu itu diharapkan tidak hanya menjadi perlengkapan sekolah, tetapi juga menjadi simbol bahwa setiap langkah anak-anak di pelosok negeri memiliki arti penting bagi masa depan bangsa.
Hari ini, Jahra dan Novi mungkin masih harus melewati jembatan sederhana untuk menuju sekolah.
Namun dari langkah kecil itulah, harapan besar sedang dibangun.
Harapan agar suatu hari nanti mereka dapat berjalan lebih jauh, meraih cita-cita, serta membawa nama baik Gayo Lues dan Indonesia (Red)





























