Foto: Jack Libya, Juru Bicara KPA Pusat
TLii || BANDA ACEH – Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat, Jack Libya, menyoroti pernyataan Jusuf Kalla (JK) terkait kericuhan yang terjadi saat peringatan Hari Damai Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada 15 Agustus 2026.
Jack Libya menilai pernyataan JK, yang merupakan salah satu tokoh penting dalam proses perdamaian Aceh melalui Perjanjian Helsinki 21 tahun silam, perlu dicermati secara serius.
Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan keberlanjutan perdamaian Aceh serta pelaksanaan kesepakatan antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
“Jusuf Kalla sebagai salah satu inisiator dan pemegang peran penting perdamaian Aceh lewat Perjanjian Helsinki 21 tahun lalu di Finlandia, dalam komentarnya terhadap kericuhan yang terjadi saat peringatan Hari Damai 15 Agustus 2026 di Masjid Raya Baiturrahman, seperti mencoba berlepas tangan terhadap apa yang sudah diperjanjikan Indonesia dalam Perjanjian Helsinki,” kata Jack Libya, Minggu (16/8/2026).
Jack mengatakan, hingga kini masih terdapat sejumlah butir dalam kesepakatan Helsinki yang dinilai belum sepenuhnya direalisasikan. Salah satunya berkaitan dengan keadilan bagi korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Aceh.
Karena itu, ia meminta kericuhan yang terjadi saat peringatan Hari Damai Aceh tidak serta-merta dipandang sebagai konflik horizontal antarmasyarakat Aceh.
“Jika kericuhan itu memang antar sesama Aceh seperti disinyalir JK, tentu setiap hari akan terjadi kericuhan di Aceh, bukan hanya saat Hari Damai Aceh 15 Agustus seperti kemarin,” ujarnya.
Menurut Jack, peristiwa tersebut seharusnya menjadi momentum untuk melihat kembali berbagai persoalan yang masih dirasakan masyarakat Aceh, termasuk mantan kombatan GAM, terkait implementasi Perjanjian Helsinki.
“Ini artinya ada ketidakpuasan masyarakat Aceh, termasuk mantan kombatan GAM, terhadap apa yang sudah diperjanjikan Indonesia di Helsinki terhadap Aceh,” katanya.
Jack juga menyayangkan pernyataan JK yang dinilai berpotensi menimbulkan persepsi berbeda mengenai kondisi perdamaian Aceh.
“Sayang sekali sebagai salah satu inisiator perdamaian Aceh berkomentar seperti ini dan JK kelihatan mendapat informasi sampah dari Aceh,” pungkas Jack Libya.*[]





























