Saman Jadi Perhatian Serius: Dari Warisan Dunia, Perlu Terobosan Baru untuk Generasi dan Ekonomi Gayo Lues

REDAKSI

- Redaksi

Selasa, 19 Agustus 2025 - 13:48 WIB

50199 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TLii | ACEH | Blangkejeren | Selasa, 19 Agustus 2025 – Seni tari Saman kembali menjadi perhatian serius di Kabupaten Gayo Lues. Sejak ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO, Saman tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Gayo, tetapi juga simbol identitas Aceh di panggung internasional. Namun, setelah pengakuan itu, muncul tantangan baru: bagaimana menjadikan Saman sebagai sumber manfaat nyata, khususnya bagi para seniman dan masyarakat Gayo Lues.Tantangan Akses dan Terobosan Baru

Dalam bincang-bincang santai bersama Kang Juna di Dinas Pariwisata Gayo Lues, Syamsul Bahri, S.Pd, M.AP, Dewan Pakar Saman sekaligus Plt. Kepala Dinas Perindagkop, menegaskan bahwa akses seniman terhadap kegiatan nasional maupun internasional masih sangat terbatas. Menurutnya, ruang tersebut penting sebagai pintu besar agar Saman tampil lebih luas, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di kancah dunia.

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

> “Kalau kita ingin Saman benar-benar menjadi ikon daerah yang mendunia, maka sinergi harus dibangun. Tidak cukup hanya mengandalkan APBD, kita juga harus merangkul DPR RI, DPRA, Kementerian Pariwisata, Kementerian Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif, bahkan jaringan investor yang tertarik pada nilai budaya,” tegas Syamsul Bahri.

Ia menambahkan, momentum pameran dan festival budaya merupakan ajang strategis untuk memperkenalkan Saman di mata dunia. Lebih jauh lagi, kehadiran Saman dalam event internasional bisa membuka pintu investasi, mulai dari sektor pariwisata, perdagangan, hingga ekonomi kreatif.

 

Gagasan Saman Center

Syamsul Bahri juga mengingatkan kembali gagasannya sejak 2014 mengenai pembangunan Saman Center. Menurutnya, keberadaan pusat pengembangan, pelestarian, dan promosi budaya tersebut sangat penting sebagai wadah belajar, penelitian, hingga pertunjukan.

“Sudah lebih dari sepuluh tahun wacana ini berjalan, tetapi belum terealisasi. Padahal, Saman Center bisa menjadi pusat kebudayaan yang mendukung promosi pariwisata sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” ungkapnya.

 

Kekhawatiran Generasi Muda

Di sisi lain, Plt. Kepala Dinas Pariwisata Gayo Lues, Mursyidi, menyuarakan keprihatinannya terhadap semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap Saman.

“Padahal Saman sudah diakui UNESCO, tetapi ironisnya, banyak anak muda justru kurang memahami bahkan tidak tahu makna filosofis tarian ini. Jika tidak segera diatasi, lambat laun Saman bisa terancam punah,” jelasnya.

Senada dengan itu, Kabid Kebudayaan, Sabirin, menekankan pentingnya memperkenalkan nilai-nilai di balik gerakan dan syair Saman. Menurutnya, Saman bukan sekadar seni tari, tetapi juga sarana pendidikan karakter, kebersamaan, dan spiritualitas masyarakat Gayo.

> “Generasi muda perlu dikenalkan bukan hanya pada gerakannya, tetapi juga filosofi yang ada di baliknya. Saman mengajarkan nilai persatuan, kebersamaan, dan ketaatan yang menjadi ruh masyarakat Gayo,” ujarnya.Menjaga Adat, Menjaga Identitas

Sementara itu, Kasat Pol PP Gayo Lues, Syabri, menegaskan bahwa kelestarian adat istiadat adalah fondasi utama menjaga kekuatan Saman.

“Saman lahir dari adat Gayo. Kalau adat sudah mulai pudar, maka Saman pun kehilangan rohnya. Karena itu, menjaga adat sama pentingnya dengan menjaga Saman,” kata Syabri.

 

Harapan Bersama

Bincang-bincang ini menyimpulkan satu hal: pelestarian dan pengembangan Saman membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, seniman, DPR RI, kementerian terkait, hingga lembaga internasional harus bersinergi.

Harapan terbesar adalah agar Saman Center segera terealisasi sebagai pusat budaya yang tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membuka jalan bagi kesejahteraan masyarakat Gayo Lues. Dengan demikian, Saman tidak hanya menjadi warisan dunia yang diakui, tetapi juga sumber kehidupan dan kebanggaan yang terus tumbuh dari generasi ke generasi.

 

(Kang Juna – Reporter)

Berita Terkait

Pilkades Toba 2027: Persiapan Terlambat, Anggaran Belum Jelas, Aturan Masih Menggantung
Lapas Singkawang – Disdikbud Singkawang Sparring Badminton, Perkuat Sinergi dan Kebugaran
Kalapas Pemuda Langkat Kunjungi Polres Langkat, Bahas Strategi Antisipasi Gangguan Kamtib
Bank Aceh Salurkan Zakat Perusahaan Rp11,94 Miliar
Pemerintah Aceh Salurkan Buffer Stock Penanggulangan Bencana, Tiga Daerah Terima Bantuan Rp5,38 Miliar
Pulang Kampung, Kombes Carlie Syahputra Ditunjuk Jadi Kabidpropam Polda Aceh
Transformasi Kinerja Pemasyarakatan, Kalapas Narkotika Samarinda Hadiri Sertijab Kepala LPKA Tenggarong
Target 2027: Bapas Palangka Raya Siapkan Diri Menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 00:58 WIB

Bank Aceh Salurkan Zakat Perusahaan Rp11,94 Miliar

Selasa, 1 September 2026 - 23:33 WIB

Pemerintah Aceh Salurkan Buffer Stock Penanggulangan Bencana, Tiga Daerah Terima Bantuan Rp5,38 Miliar

Selasa, 1 September 2026 - 13:52 WIB

Peserta PKPPM Gelombang II IAIN Takengon Disambut Hangat Masyarakat Kampung Pantan Nangka

Selasa, 1 September 2026 - 10:20 WIB

3 BHAYANGKARA BERPRESTASI DI PIDIE JAYA DAPAT PENGHARGAAN, KAPOLRES: TERUS BERIKAN YANG TERBAIK

Selasa, 1 September 2026 - 09:37 WIB

Berkas P-21, Dua Tersangka Narkotika Pidie Jaya Dilimpahkan ke Kejaksaan

Senin, 31 Agustus 2026 - 23:20 WIB

7 Urus Surat Pengadilan, 20 Lulus Administrasi Baitul Mal Gayo Lues: Pansel Sebut Bisa Diganti SKCK

Senin, 31 Agustus 2026 - 21:09 WIB

Baitul Mal Aceh Gandeng Rumah Zakat Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Kelompok Usaha

Senin, 31 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Bantah Isu TV Donasi Bencana, Mantan Kalapas Blangkejeren Layangkan Hak Jawab dan Somasi ke Habaraya News

Berita Terbaru

BMA Sebut Muzaki Terbesar di Aceh

ACEH

Bank Aceh Salurkan Zakat Perusahaan Rp11,94 Miliar

Rabu, 2 Sep 2026 - 00:58 WIB