Oleh Kang Juna | Reporter Seputar Gayo Lues – Blangpegayon, Minggu 29 Juni 2025
Di bawah langit biru pucat yang sesekali digores awan tipis, aroma tanah kering dan daun nangka matang menyergap udara pagi. Di sebuah kebun sederhana di daerah Blangpegayon, tampak tiga sosok bersandar santai di sebuah gubuk Kecil milik Pak Ucok. Mereka bukan sekadar petani musiman atau buruh harian yang tengah istirahat dari aktivitas mencangkul—mereka adalah potret wajah desa yang berpikir.
Hendra Gunawan, Presiden Mahasiswa STIT Syeh Saman Al-Hasan, hadir di sana bukan hanya sebagai mahasiswa liburan, tapi juga sebagai pemuda yang ingin melihat lebih dekat denyut kehidupan desa saat kemarau tiba. Bersamanya, Daliman, Humas kampus yang juga dikenal sebagai penggerak diskusi kampus ke kampung. Dan tentu saja, Bang Ucok, tuan rumah sekaligus pengamat diam-diam musim dan tanah di sekitarnya.
Perbincangan mereka terjepit di antara kesunyian jangkrik dan angin kering yang datang dari arah timur.
> “Minggu-minggu ini angin kemarau mulai terasa,” ucap Daliman, matanya menatap bukit yang mulai menguning. “Kadang sepoi-sepoi, kadang bikin ranting patah.”
Kemarau kali ini datang lebih awal dari siklus biasanya. Angin yang turun dari perbukitan Leuser bukan hanya membawa hawa panas, tapi juga potensi bahaya. Udara mengering, ilalang menjadi rapuh, dan beberapa kebun warga mulai terbakar tanpa sebab yang jelas. Kadang karena api sampah yang lupa dipadamkan. Kadang karena sebatang puntung rokok yang jatuh di sela kering rumput.
> “Sudah beberapa titik kebun warga yang terbakar,” tutur Hendra sambil menyesap kopi hitam. “Bukan disengaja, cuma karena abai. Tapi abai itu sekarang bisa setara musibah.”
Sebagai pemuda yang vokal di forum dan dekat dengan masyarakat, Hendra mencoba mengubah liburnya menjadi ruang refleksi. Ia datang bukan untuk memberi ceramah, tapi mendengar. Namun tetap saja, pikirannya penuh dengan gagasan tentang pertanian adaptif dan pengelolaan sumber daya air.
> “Petani kita masih banyak yang pakai pola lama. Tanam apa yang biasa ditanam, tanpa perhitungkan musim,” katanya.
“Sekarang, kita harus bisa baca musim seperti membaca buku. Salah tafsir, bisa gagal panen.”
Hendra menyarankan agar masyarakat mulai mempertimbangkan jenis tanaman yang tahan kekeringan, seperti umbi-umbian, kacang tanah, atau tanaman keras yang tidak butuh air setiap hari. Ia juga mendorong penggunaan irigasi tetes atau pemanfaatan embung desa yang selama ini kurang dimaksimalkan.
Di sela-sela bincang, terdengar musik dari headphone usang yang melingkar di leher Hendra. Playlist-nya campuran: lagu-lagu Gayo lama berpadu dengan instrumental klasik.
> “Di sini, angin dan suara jangkrik jadi bagian orkestra. Kebun itu semacam studio meditasi,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Namun bukan hanya perenungan dan idealisme yang dibawa Hendra. Ada juga kegelisahan nyata yang ia lihat di lapangan. Tentang warga yang membakar rumput karena ingin membersihkan ladang, tanpa sadar menyulut api yang kemudian tak bisa dikendalikan. Tentang sungai kecil yang mulai kering. Tentang anak-anak yang terbatuk karena udara yang lebih tipis dan debu yang beterbangan.
Daliman ikut menimpali, dengan gaya yang lebih tenang dan lirih:
> “Kemarau itu bukan musuh. Ia hanya meminta kita belajar hidup lebih ringan, lebih tahan, dan lebih tahu arah angin.”
Pernyataan itu seperti kutipan dari kitab bijak. Di tengah cuaca yang keras, muncul kalimat yang lembut tapi dalam maknanya. Kalimat yang tak lahir dari ruang ber-AC atau forum elite, tapi dari tanah yang diinjak, peluh yang menetes, dan musim yang dijalani.
Musim kemarau tahun ini ditandai dengan curah hujan yang rendah, suhu tinggi, dan kelembapan rendah—kombinasi klasik yang meningkatkan risiko kebakaran lahan dan gagal panen. Beberapa kecamatan di Gayo Lues mulai melaporkan titik api, dan masyarakat dihimbau untuk tidak membakar lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan kebakaran sekecil apa pun ke pihak berwenang.
Dalam konteks pertanian, para petani juga diimbau untuk:
Menghindari tanaman hortikultura yang boros air
Menerapkan sistem irigasi hemat air
Memaksimalkan penggunaan embung dan penampungan hujan
Mengolah tanah dengan teknik konservasi agar tetap menyimpan air
Di bidang kesehatan, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah penyakit yang sering muncul saat kemarau, seperti ISPA dan demam berdarah, akibat genangan air dan kualitas udara yang menurun.
Ketika jam bergeser ke siang, dan matahari mulai menajamkan sinarnya, perbincangan di gubuk kecil itu tak selesai begitu saja. Ia akan terus tumbuh, mengalir dari mulut ke mulut, dari satu kebun ke kebun lain.
Di tengah musim kering yang datang lebih cepat dan keras, Gayo Lues tidak hanya menyimpan cerita tentang panas dan kebakaran. Tapi juga cerita tentang kesadaran baru, pemuda desa yang bangkit, dan harapan yang tak mengering.
> “Musim boleh kering, tapi hati dan pikiran kita jangan ikut layu.”
– Hendra Gunawan
Semoga Gayo Lues tetap kuat, tetap bijak, dan tetap saling mengingatkan. Karena seperti musim, ujian akan selalu datang—tapi kita bisa memilih, apakah mau ikut terbakar, atau tumbuh di tengah keringnya tanah.



























