Kemarau Datang: Suara Pemuda Presma STIT Syeh Saman Gayo Lues Serukan Adaptasi dan Kewaspadaan

REDAKSI

- Redaksi

Minggu, 29 Juni 2025 - 16:04 WIB

50132 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Kang Juna | Reporter Seputar Gayo Lues – Blangpegayon, Minggu 29 Juni 2025

Di bawah langit biru pucat yang sesekali digores awan tipis, aroma tanah kering dan daun nangka matang menyergap udara pagi. Di sebuah kebun sederhana di daerah Blangpegayon, tampak tiga sosok bersandar santai di sebuah gubuk Kecil milik Pak Ucok. Mereka bukan sekadar petani musiman atau buruh harian yang tengah istirahat dari aktivitas mencangkul—mereka adalah potret wajah desa yang berpikir.

Hendra Gunawan, Presiden Mahasiswa STIT Syeh Saman Al-Hasan, hadir di sana bukan hanya sebagai mahasiswa liburan, tapi juga sebagai pemuda yang ingin melihat lebih dekat denyut kehidupan desa saat kemarau tiba. Bersamanya, Daliman, Humas kampus yang juga dikenal sebagai penggerak diskusi kampus ke kampung. Dan tentu saja, Bang Ucok, tuan rumah sekaligus pengamat diam-diam musim dan tanah di sekitarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perbincangan mereka terjepit di antara kesunyian jangkrik dan angin kering yang datang dari arah timur.

> “Minggu-minggu ini angin kemarau mulai terasa,” ucap Daliman, matanya menatap bukit yang mulai menguning. “Kadang sepoi-sepoi, kadang bikin ranting patah.”

Kemarau kali ini datang lebih awal dari siklus biasanya. Angin yang turun dari perbukitan Leuser bukan hanya membawa hawa panas, tapi juga potensi bahaya. Udara mengering, ilalang menjadi rapuh, dan beberapa kebun warga mulai terbakar tanpa sebab yang jelas. Kadang karena api sampah yang lupa dipadamkan. Kadang karena sebatang puntung rokok yang jatuh di sela kering rumput.

> “Sudah beberapa titik kebun warga yang terbakar,” tutur Hendra sambil menyesap kopi hitam. “Bukan disengaja, cuma karena abai. Tapi abai itu sekarang bisa setara musibah.”

Sebagai pemuda yang vokal di forum dan dekat dengan masyarakat, Hendra mencoba mengubah liburnya menjadi ruang refleksi. Ia datang bukan untuk memberi ceramah, tapi mendengar. Namun tetap saja, pikirannya penuh dengan gagasan tentang pertanian adaptif dan pengelolaan sumber daya air.

> “Petani kita masih banyak yang pakai pola lama. Tanam apa yang biasa ditanam, tanpa perhitungkan musim,” katanya.

“Sekarang, kita harus bisa baca musim seperti membaca buku. Salah tafsir, bisa gagal panen.”

Hendra menyarankan agar masyarakat mulai mempertimbangkan jenis tanaman yang tahan kekeringan, seperti umbi-umbian, kacang tanah, atau tanaman keras yang tidak butuh air setiap hari. Ia juga mendorong penggunaan irigasi tetes atau pemanfaatan embung desa yang selama ini kurang dimaksimalkan.

Di sela-sela bincang, terdengar musik dari headphone usang yang melingkar di leher Hendra. Playlist-nya campuran: lagu-lagu Gayo lama berpadu dengan instrumental klasik.

> “Di sini, angin dan suara jangkrik jadi bagian orkestra. Kebun itu semacam studio meditasi,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Namun bukan hanya perenungan dan idealisme yang dibawa Hendra. Ada juga kegelisahan nyata yang ia lihat di lapangan. Tentang warga yang membakar rumput karena ingin membersihkan ladang, tanpa sadar menyulut api yang kemudian tak bisa dikendalikan. Tentang sungai kecil yang mulai kering. Tentang anak-anak yang terbatuk karena udara yang lebih tipis dan debu yang beterbangan.

Daliman ikut menimpali, dengan gaya yang lebih tenang dan lirih:

> “Kemarau itu bukan musuh. Ia hanya meminta kita belajar hidup lebih ringan, lebih tahan, dan lebih tahu arah angin.”

Pernyataan itu seperti kutipan dari kitab bijak. Di tengah cuaca yang keras, muncul kalimat yang lembut tapi dalam maknanya. Kalimat yang tak lahir dari ruang ber-AC atau forum elite, tapi dari tanah yang diinjak, peluh yang menetes, dan musim yang dijalani.

Musim kemarau tahun ini ditandai dengan curah hujan yang rendah, suhu tinggi, dan kelembapan rendah—kombinasi klasik yang meningkatkan risiko kebakaran lahan dan gagal panen. Beberapa kecamatan di Gayo Lues mulai melaporkan titik api, dan masyarakat dihimbau untuk tidak membakar lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan kebakaran sekecil apa pun ke pihak berwenang.

Dalam konteks pertanian, para petani juga diimbau untuk:

Menghindari tanaman hortikultura yang boros air

Menerapkan sistem irigasi hemat air

Memaksimalkan penggunaan embung dan penampungan hujan

Mengolah tanah dengan teknik konservasi agar tetap menyimpan air

Di bidang kesehatan, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah penyakit yang sering muncul saat kemarau, seperti ISPA dan demam berdarah, akibat genangan air dan kualitas udara yang menurun.

Ketika jam bergeser ke siang, dan matahari mulai menajamkan sinarnya, perbincangan di gubuk kecil itu tak selesai begitu saja. Ia akan terus tumbuh, mengalir dari mulut ke mulut, dari satu kebun ke kebun lain.

Di tengah musim kering yang datang lebih cepat dan keras, Gayo Lues tidak hanya menyimpan cerita tentang panas dan kebakaran. Tapi juga cerita tentang kesadaran baru, pemuda desa yang bangkit, dan harapan yang tak mengering.

> “Musim boleh kering, tapi hati dan pikiran kita jangan ikut layu.”

– Hendra Gunawan

Semoga Gayo Lues tetap kuat, tetap bijak, dan tetap saling mengingatkan. Karena seperti musim, ujian akan selalu datang—tapi kita bisa memilih, apakah mau ikut terbakar, atau tumbuh di tengah keringnya tanah.

Berita Terkait

Residivis 6 Kali Beraksi Di Binjai Selatan, Pelaku Dibekuk Satreskrim Polres Binjai
Anggota DPRD Toba Dapil V lanjutkan Reses ke 3 tahun 2026 di kantor BUMDESma Kasih Sejahtera Laguboti
Truk Pengangkut Pasir Diduga Ilegal Dituduh Rusak Jalan APBD 2026 dan Cemari Udara di Siantar Tonga-Tonga II, Warga Bertindak Hentikan Sementara
Tagana Masuk Sekolah, 936 Siswa MIN 8 Banda Aceh Dibekali Mitigasi Gempa
Semarak HUT ke-25, Wakil Wali Kota Langsa M. Haikal Buka Turnamen Bola Voli Berhadiah Puluhan Juta Rupiah
Tebarkan Motivasi dan Harapan, Peserta Maganghub Bidang Psikologi Gelar Psikoedukasi Meaning of Life bagi WBP Rutan Labuhan Deli.
Bersihkan Kamar Hunian Hingga Lingkungan Sekitar, Lapas Pemuda Langkat Dukung Suasana Hunian Lebih Sehat dan Nyaman
Rutan Tanjung Gelar Ibadah Khidmat di Aula G.G Van Delft, Warga Binaan Nasrani Ikuti Doa Puji-Pujian dan Firman Tuhan

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 21:38 WIB

Residivis 6 Kali Beraksi Di Binjai Selatan, Pelaku Dibekuk Satreskrim Polres Binjai

Sabtu, 7 November 2026 - 20:42 WIB

Anggota DPRD Toba Dapil V lanjutkan Reses ke 3 tahun 2026 di kantor BUMDESma Kasih Sejahtera Laguboti

Sabtu, 7 November 2026 - 20:05 WIB

Truk Pengangkut Pasir Diduga Ilegal Dituduh Rusak Jalan APBD 2026 dan Cemari Udara di Siantar Tonga-Tonga II, Warga Bertindak Hentikan Sementara

Sabtu, 7 November 2026 - 16:47 WIB

Bersihkan Kamar Hunian Hingga Lingkungan Sekitar, Lapas Pemuda Langkat Dukung Suasana Hunian Lebih Sehat dan Nyaman

Sabtu, 7 November 2026 - 16:12 WIB

Cegah Kecelakaan, Polda Sumut Pasang Spanduk Imbauan Keselamatan Berlalu Lintas

Sabtu, 7 November 2026 - 14:39 WIB

Kapolda Sumut Turun Langsung Atur Lalu Lintas, Wujudkan Semangat Polisi Bersama Masyarakat

Sabtu, 7 November 2026 - 09:50 WIB

Gandeng PMI Deli Serdang, PTPN I Regional 1 Gelar Aksi Donor Darah di Tanjung Morawa Kumpulkan 90 Kantong dari 149 Pendaftar

Sabtu, 7 November 2026 - 04:30 WIB

Safari Kamtibmas, Kapolda Sumut Rangkul Pujakesuma Rawat Kebhinekaan dan Tolak Narkoba

Berita Terbaru