Cucu Sultan Aceh: Peringatan 665 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua Oleh Utusan Sultan Aceh.

SAMSUL EDI, S.HUT., M.Kv

- Redaksi

Jumat, 8 Agustus 2025 - 00:52 WIB

20300 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cucu Sultan Aceh: Peringatan 665 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua Oleh Utusan Sultan Aceh.

Cucu Sultan Aceh: Peringatan 665 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua Oleh Utusan Sultan Aceh.

TLII>>Cucu Sultan Aceh Darussalam yang juga Pemimpin Darud Donya, Cut Putri, mengatakan bahwa Papua merupakan negeri yang secara geografis berjarak cukup jauh dari Aceh.

 

“Namun siapa sangka, ratusan tahun lalu para leluhur Aceh telah lebih dulu mengarungi luasnya lautan untuk menjalin persaudaraan dengan saudara kita di Papua”, ungkap Cut Putri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Cucu Sultan Aceh: Peringatan 665 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua Oleh Utusan Sultan Aceh.

Para Sultan Aceh terkenal kerap mengirimkan para Ulama untuk berdakwah dan menyebarkan Islam secara damai ke nusantara dan seluruh kawasan Asia Tenggara, salah satunya ke kawasan terujung nusantara, yang karena jauhnya, dikenal dengan sebutan Negeri di Balik Bulan, yaitu Papua.

 

Cucu Sultan Aceh ini menuturkan, bahwa Islam masuk ke Tanah Papua oleh ulama dari Kerajaan Samudra Pasai Aceh bernama Syekh Abdul Gaffar pada 24 Ramadhan 761 Hijriah, bertepatan 8 Agustus 1360 Masehi.

 

Syekh Abdul Gafar dari Aceh mendarat pertama kali di Pulau Was Papua, dan berlanjut ke Kampung Gar Distrik Furwagi, Fakfak Papua Barat pada 8 Agustus 1360 Masehi, bertepatan dengan 24 Ramadhan 761 Hijriyah. Dari sini, Islam mulai tersebar penuh damai ke seluruh Tanah Papua.

Cucu Sultan Aceh: Peringatan 665 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua Oleh Utusan Sultan Aceh.

Cut Putri menerangkan bahwa dibanding kedatangan bangsa kolonial, agama Islam telah lebih awal tiba di Tanah Papua dibawa dari Tanah Rencong Aceh, yang didakwahkan langsung oleh ulama Aceh utusan Sultan Aceh

 

Dakwah Islam oleh Sultan Aceh di Papua kemudian disusul oleh kedatangan para mubaligh lainnya dari nusantara seperti dari Makassar, Maluku (Seram), dan Maluku Utara (Ternate, Tidore, Bacan) melalui jalur perdagangan, termasuk dari Arab dan Persia. Ajaran Islam kemudian otomatis terinternalisasi dalam sistem kerajaan (petuanan) di Papua sejak ratusan tahun

 

Fakta sejarah ini diungkap dalam seminar yang diselenggarakan di Fakfak Papua Barat pada awal tahun 2025, dalam rangka penentuan Titik Nol Masuknya Islam di Papua.

Cucu Sultan Aceh: Peringatan 665 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua Oleh Utusan Sultan Aceh.

“Usaha penentuan ini telah diperjuangkan selama puluhan tahun. Resminya tahun 2005 diadakan seminar Majelis Muslim Papua di Asrama Haji di Jayapura yang dilanjutkan riset dan penelitian, kemudian diadakan seminar Sejarah Masuknya Islam bertepatan kegiatan MTQ II Papua Barat di Fakfak tahun 2008, dan terakhir seminar di Fakfak pada 11 Januari 2025, yang akhirnya resmi menetapkan fakta sejarah ini”, terang Cut Putri yang turut hadir di Papua.

 

Fakfak kemudian ditetapkan sebagai Titik Nol Masuknya Islam di Papua.

 

Cucu Sultan Aceh ini menuturkan bahwa di Fakfak ada kearifan lokal yang dikenal dengan istilah “Satu Tungku Tiga Batu”. Keragaman agama dan budaya digambarkan sebagai sebuah tungku yang ditopang oleh tiga buah batu.

 

Tungku merupakan simbol dari kehidupan, sedangkan tiga batu adalah simbol dari Anda, Saya dan Dia yang menghubungkan perbedaan baik agama, suku, dan status sosial dalam satu wadah persaudaraan. Batu juga melambangkan kekuatan atau penopang yang kuat.

 

Tiga batu juga menggambarkan tiga agama besar di Papua, yakni Katolik, Islam, dan Kristen. Maka ketiganya harus terus bersatu dan tidak boleh ada yang terpisah agar tungku yang ditopang di atasnya tidak jatuh dan tumpah.

 

“Artinya Keragaman agama dan budaya lah yang justru semakin menguatkan persaudaraan antar sesama”, terang Cut Putri.

 

Di Papua juga terawat baik makam kuno ulama penyebar Islam asal Aceh, artefak masjid kuno yang dibangun oleh ulama Aceh masa lalu, Al Qur’an-Al Qur’an kuno, alat-alat ibadah kuno, dan artefak lainnya

 

Juga masih tersimpan apik Al Qur’an- Al Qur’an kuno Samudera Pasai peninggalan masa Kerajaan Aceh, yang merupakan salah satu Al Qur’an tertua Aceh yang masih terjaga dengan baik.

 

“Sebagaimana halnya Aceh, Papua juga pernah beberapa kali dilanda tsunami purba. Kita bersyukur bahwa dalam keadaan alam tersebut, bukti-bukti sejarah masuknya Islam di Papua tetap terjaga lestari dan terlindungi”, ujar Cucu Sultan Aceh yang juga Perekam Video Amatir Tsunami Aceh tahun 2004 yang terkenal ke seluruh dunia.

 

Pelestarian ini tak lepas juga dari peranan para Raja-Raja di Papua, yang menjaga warisan Aceh dan bukti2 sejarah Islam secara turun temurun di tanah Papua. Para Raja-Raja inilah yang kemudian menjaga terlaksananya agama Islam di masyarakat Papua hingga kini.

 

Untuk itu Cucu Sultan Aceh Cut Putri sangat berterima kasih kepada para Raja dan keturunannya di Papua.

 

“Untaian terima kasih dan penghormatan tertinggi kami kepada para Raja di Papua dan keturunannya yang mulia, yaitu di Fakfak : Kerajaan Fatagar, Kerajaan Atiati, Kerajaan Rumbati, Kerajaan Pattipi, Kerajaan Wituar, Kerjaaan Sekar, dan Kerajaan Arguni. Di Kaimana : Kerajaan Namatota dan Kerajaan Komisi. Juga Kerajaan Waigeo, Kerajaan Salawati, Kerajaan Misool, dan Kerajaan Batanta di Raja Ampat” hormat Cucu Sultan Aceh yang lahir di Raja Ampat Papua ini.

 

Cucu Sultan Aceh juga berterima kasih khusus kepada Majelis Rakyat Papua (MRP) dan segenap tokoh Papua, yang mendukung penuh kegiatan penentuan Titik Nol Masuknya Islam di Papua.

 

“Aceh dan Papua juga mengalami pengalaman yang sama yaitu sama-sama mengalami situasi konflik bersenjata yang menguras darah dan air mata. Ini membuat kita menjadi saudara senasib sepenanggungan. Aceh selalu diterima oleh Papua, demikian juga sebaliknya”, tutur Cucu Sultan Aceh kelahiran Papua yang tumbuh besar dalam suasana konflik Papua dan konflik Aceh ini.

 

“Semua fakta sejarah ini semakin menguatkan keterhubungan kita, betapa eratnya persatuan kita. Jarak Sabang sampai Merauke terasa dekat karena hangatnya persaudaraan yang telah terjalin bahkan sejak ratusan tahun lalu. Salam kami Aceh Darussalam untuk Rakyat dan Bangsa Papua. Aceh dan Papua, katong basodara (kita bersaudara)”, tutup Cucu Sultan Aceh.

Berita Terkait

SMK Negeri 1, 2, dan 3 Banda Aceh Tekankan Pondasi Akhlak dan Karakter
Kebakaran Lahan di Leupung Aceh Besar, BPBD Bergerak Cepat Padamkan Api
Lapas Kelas I Medan Perkuat Pembinaan Keagamaan Dengan Perayaan Thaipusam Dan MoU
Tingkatkan Profesionalisme ASN, Kakanwil Ditjenpas Kaltim Resmi Lantik 13 Pegawai
Integritas Jadi Fokus Utama, Kalapas Narkotika Langkat Pimpin Apel Awal Bulan
Lapas Narkotika Langkat Intensifkan Kontrol Keliling untuk Cegah Gangguan Kamtib
Lapas Kelas IIA Binjai Teken Komitmen Bersama dan Pakta Integritas Tahun 2026
Satukan Tekad Menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani Rutan Tanjung Pura Tandatangani Pakta Integritas dan Komitmen Bersama Pembangunan Zona Integritas WBK–WBBM

Berita Terkait

Sabtu, 31 Januari 2026 - 21:01 WIB

Dukung Pemulihan Warga Binaan, Tim Binadik Lapas Narkotika Samarinda Ikuti Pelatihan Konselor Adiksi

Sabtu, 31 Januari 2026 - 20:55 WIB

Tingkatkan Kesadaran Kesehatan, Dokter Lapas Narkotika Samarinda Sosialisasikan Tata Cara Minum Obat yang Benar

Kamis, 29 Januari 2026 - 09:40 WIB

Dukung Pemulihan Warga Binaan, Tim Binadik Lapas Narkotika Samarinda Ikuti Pelatihan Konselor Adiksi

Selasa, 27 Januari 2026 - 12:57 WIB

Implementasikan Arahan Presiden & 15 Program Aksi Menteri Imipas Kalapas Narkotika Samarinda Jalin Kerja Sama Dapur Sehat MBG

Senin, 26 Januari 2026 - 14:38 WIB

Cegah Pelanggaran Disiplin, Kalapas Narkotika Samarinda Sampaikan Larangan Judi Online Beserta Sanksinya

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:35 WIB

Bangun Soliditas Dan Hidup Sehat, Lapas Narkotika Samarinda Laksanakan Jalan Santai Bersama

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:58 WIB

Dukung Konservasi Sumber Air, Kalapas Narkotika Samarinda Bersama Jajaran Bersihkan Area Sekitar Lapas

Rabu, 21 Januari 2026 - 20:51 WIB

Dorong Pembinaan Berbasis Vokasi, Kalapas Narkotika Samarinda Jalin Koordinasi dengan BPVP Samarinda

Berita Terbaru

Pemerintahan

Petugas Haji Aceh Dibekali Diklat, Wagub: Layani Jamaah dengan Hati

Selasa, 3 Feb 2026 - 00:27 WIB