Algoritma Menguasai Arus Informasi, Pers Diuji di Simpang Zaman

REDAKTUR

- Redaksi

Kamis, 25 Desember 2025 - 09:23 WIB

5081 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Diskursus tentang masa depan pers kembali mengemuka seiring kian kuatnya pengaruh platform digital dalam menentukan arus informasi publik. Dalam diskusi “Kaleidoskop Media Massa 2025” yang berlangsung di Aula Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Selasa, 23 Desember 2025, para jurnalis, pengelola media, akademisi, hingga budayawan memotret satu kegelisahan yang sama: pers Indonesia tengah berada di persimpangan sejarah akibat supremasi algoritma.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Akhmad Munir, menyebut industri media nasional sedang menghadapi tekanan berlapis. Bukan hanya perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang kian berpindah ke platform digital, tetapi juga dominasi perusahaan teknologi global yang menguasai distribusi konten melalui algoritma. Dalam situasi ini, pers dinilai kehilangan banyak ruang yang sebelumnya menjadi domain utama media arus utama.

Munir berpandangan negara tidak bisa sepenuhnya lepas tangan. Menurut dia, diperlukan kebijakan yang mampu menjaga keberlangsungan ekosistem pers nasional agar tetap menjalankan fungsi demokratisnya. Namun, ia mengingatkan, keterlibatan negara harus dirancang secara hati-hati agar tidak berubah menjadi intervensi yang mengancam kemerdekaan pers.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Persaingan dengan media sosial disebut sebagai tantangan paling konkret. Kecepatan distribusi, kekuatan modal, serta algoritma yang dirancang untuk menarik perhatian publik membuat platform digital unggul dalam menjangkau audiens. Sementara itu, banyak perusahaan pers dinilai belum sepenuhnya siap beradaptasi, baik dari sisi teknologi, model bisnis, maupun kualitas sumber daya manusia.

Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto, menyoroti dampak tekanan finansial terhadap kualitas jurnalisme. Keterbatasan anggaran membuat banyak media tidak lagi mampu menempatkan koresponden di berbagai daerah. Akibatnya, liputan mendalam dan berbasis verifikasi semakin jarang ditemui. Pada saat yang sama, media sosial membanjiri ruang publik dengan informasi instan yang kerap abai pada prinsip akurasi.

Totok bahkan mengingatkan kemungkinan yang lebih ekstrem. Jika suatu saat platform media sosial mampu memenuhi standar verifikasi, konfirmasi, dan etika jurnalistik, maka posisi media arus utama akan menghadapi tantangan eksistensial yang jauh lebih berat.

Tekanan ekonomi juga disoroti Anggota Dewan Pakar PWI Pusat, Wahyu Muryadi. Ia memaparkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah media terpaksa menghentikan operasional karena tidak sanggup bertahan menghadapi perubahan teknologi dan penurunan pendapatan. Menurut Wahyu, opsi intervensi negara memang kerap muncul sebagai jalan keluar, namun menyimpan risiko besar berupa ketergantungan yang dapat menggerus independensi redaksi.

Dominasi algoritma menjadi perhatian khusus Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat, Agus Sudibyo. Ia menilai algoritma platform digital telah mengambil alih peran editor dalam menentukan informasi apa yang sampai ke publik. Nilai kepentingan publik kerap dikalahkan oleh logika popularitas dan keterlibatan pengguna. Upaya memperjuangkan hak penerbit atau publisher’s right yang diharapkan memberi keadilan ekonomi bagi media pun hingga kini belum menunjukkan hasil signifikan.

Di tengah nada kritis tersebut, suara yang lebih optimistis juga mengemuka. Ketua Dewan Pakar PWI Pusat, Dhimam Abror, mengingatkan bahwa sejarah pers selalu diwarnai kecemasan terhadap teknologi baru. Dari radio, televisi, hingga internet, semuanya pernah dianggap sebagai ancaman mematikan, namun pers tetap bertahan dengan beradaptasi. Kecerdasan buatan, menurut dia, bukanlah predator yang pasti menghancurkan, melainkan tantangan yang menuntut strategi cerdas.

Pandangan serupa disampaikan Effendi Gazali, anggota Dewan Pakar PWI Pusat. Ia menilai perkembangan kecerdasan buatan akan melahirkan dialektika baru dalam industri media. Ketimpangan yang tampak saat ini, kata dia, bukan akhir dari segalanya. Dalam jangka panjang, akan muncul keseimbangan baru yang membentuk ulang wajah media.

Dimensi kultural turut mewarnai diskusi melalui pandangan budayawan Sujiwo Tedjo. Ia menilai algoritma pada dasarnya bukan hal asing bagi manusia. Sejak lama, kehidupan sosial berjalan berdasarkan pola sebab-akibat yang serupa dengan prinsip algoritmik. Ketakutan berlebihan terhadap teknologi, menurut dia, justru menutupi persoalan utama, yakni bagaimana manusia mengendalikan dan memanfaatkannya.

Menutup rangkaian diskusi, Akbar Faisal menegaskan bahwa profesi wartawan sedang menjalani ujian besar di tengah disrupsi teknologi. Dalam kondisi ini, organisasi kewartawanan dinilai memiliki peran strategis untuk memperkuat kapasitas, etika, dan profesionalitas jurnalis. Dengan kemampuan beradaptasi dan integritas yang terjaga, ia meyakini pers masih memiliki ruang untuk bertahan dan tetap relevan, meski lanskap informasi terus berubah dengan cepat dan tidak selalu bersahabat. []

Berita Terkait

PTPN IV PalmCo Jadikan Kebun dan Pabrik Laboratorium Kesiapan Kerja, Serap Lebih dari 1.300 Peserta Magang
DIKPI Inisiasi Pembentukan Asosiasi Perguruan Tinggi Kajian Ilmu Kepolisian Indonesia untuk Memperkuat Ekosistem Keilmuan Kepolisian
Reformasi Rantai Pasok Lewat ADHARA, Kunci Naikkan Daya Saing Ekonomi Indonesia
Dilantik Cak Imin, Chaidir Toweren Resmi Jabat Ketua DPC PKB Kota Langsa
Efisiensi dan Digitalisasi Dorong Kinerja Pelindo, Arus Peti Kemas Naik 7 Persen
Dr. Tgk, H. Misnan: Rakyat Harus Dukung Kortas Tipikor Polri, Korupsi Musuh Bersama yang Wajib Diberantas
PTPN IV PalmCo Matangkan Pilot Project Kedelai, Dukung Percepatan Swasembada Pangan Nasional
Implementasi GCG, PT Prima Pengembangan Kawasan Pertanggungjawabkan Kinerja ke Pemegang Saham

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 01:48 WIB

Gigih Bertanding, Pegawai Lapaas Narkotika Samarinda Naik Podium Juara II Bulu tangkis

Rabu, 12 Agustus 2026 - 02:16 WIB

Meriahkan HUT RI Ke-81, Lapas Narkotika Samarinda Raih Juara 3 Lomba Tenis Meja Antar-UPT Pemasyarakatan Kaltim

Rabu, 12 Agustus 2026 - 02:10 WIB

Semarakkan HUT RI, Lapas Narkotika Samarinda Raih Juara 1 Perlombaan Catur Antar-UPT Pemasyarakatan Kaltim

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 21:40 WIB

111 PNS Resmi Dilantik, Kalapas Narkotika Samarinda Hadiri Pelantikan dan Pengambilan Sumpah PNS di Lingkungan Ditjenpas Kaltim

Jumat, 7 Agustus 2026 - 21:42 WIB

Tuntaskan Praktik Lapangan, Tiga Taruna Terima Pesan Pengabdian dari Kalapas Narkotika Samarinda

Kamis, 6 Agustus 2026 - 17:45 WIB

Peduli Kemanusiaan, Petugas Lapas Narkotika Samarinda Ikut Sukseskan Donor Darah dalam Rangka HUT Kemerdekaan RI ke-81

Selasa, 4 Agustus 2026 - 22:31 WIB

Budayakan Lingkungan Bersih, Petugas Keamanan Lapas Narkotika Samarinda Berikan Sosialisasi Pengelolaan Sampah

Jumat, 31 Juli 2026 - 20:14 WIB

Penuhi Hak Dasar Warga Binaan, Lapas Narkotika Samarinda Bagikan Pakaian dan Peralatan Mandi

Berita Terbaru