TLii|Aceh|Aceh Utara — Penyaluran bantuan bagi korban bencana hidrometeorologi di Aceh terus berlanjut. Hingga Minggu (28/12/2025), bantuan untuk 17 kabupaten/kota terdampak banjir masih berdatangan dan dipusatkan melalui Posko Pelabuhan Krueng Geukuh, Kabupaten Aceh Utara.
Pantauan wartawan, berbagai jenis logistik berupa beras, mi instan, air mineral, minyak goreng, telur, ikan sarden, dan kebutuhan pokok lainnya disimpan sementara di gudang posko Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA). Bantuan tersebut kemudian didistribusikan menggunakan truk TNI dan kendaraan BPBD masing-masing kabupaten.
Salah satu bantuan datang dari PT Kencana Hijau Bina Lestari yang dikirim melalui jalur laut dan diserahkan langsung oleh Mayjen (Purn) TNI Sunarko, mantan Pangdam Iskandar Muda. Bantuan tersebut diprioritaskan untuk Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah (Takengon).
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBA, Abdul Aziz, S.H., M.Si., mengatakan penempatan bantuan di Pelabuhan Krueng Geukuh bersifat sementara karena belum dilakukan serah terima kepada pemerintah kabupaten/kota penerima.
“Bantuan ini tidak boleh berlama-lama di posko. Ini bantuan masyarakat dan harus segera didistribusikan,” kata Abdul Aziz.
Menurutnya, BPBA memprioritaskan wilayah terdampak parah seperti Aceh Tamiang, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Timur. Sementara daerah lain seperti Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Tenggara, dan Nagan Raya tetap mendapatkan distribusi bantuan secara merata.
Untuk Bener Meriah dan Aceh Tengah, penyaluran logistik hingga saat ini masih mengandalkan helikopter karena akses darat belum sepenuhnya pulih. Abdul Aziz menegaskan bahwa distribusi melalui jalur darat belum memungkinkan.
“Untuk daerah pegunungan, bantuan masih menggunakan helikopter. Jalur darat belum bisa ditembus secara normal,” ujarnya.
Memasuki fase tanggap darurat ketiga, BPBA mengakui kebutuhan pangan dan logistik bagi pengungsi belum mencukupi, mengingat luasnya dampak kerusakan di 17 kabupaten/kota. Selain pangan, kebutuhan lain seperti kasur, obat-obatan, dan hunian sementara juga masih menjadi persoalan.
BPBA juga mulai mempersiapkan kebutuhan pengungsi menjelang bulan suci Ramadhan, termasuk penyediaan hunian sementara dan jaminan pasokan pangan serta layanan kesehatan.
“Kalau bantuan pangan saat ini dibilang cukup, tentu belum. Yang penting jangan sampai pengungsi kelaparan,” tegas Abdul Aziz.
Ia memastikan seluruh bantuan yang didistribusikan memiliki data pendukung yang akurat dan diawasi ketat, dengan TNI berada di garis depan penyaluran logistik, terutama untuk distribusi udara.
Untuk satu kali penerbangan, helikopter membawa sekitar 500 kilogram logistik. Intensitas penerbangan disesuaikan dengan kesiapan bandara Malikussaleh, Rembele, dan Sultan Iskandar Muda.
BPBA menegaskan distribusi bantuan akan terus dilakukan secara bertahap hingga kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi dan akses wilayah terdampak kembali pulih.



































