
TLii|Aceh|Aceh Utara— Bantuan logistik untuk korban bencana hidrometeorologi di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah (Takengon) tiba di Pelabuhan Krueng Geukuh, Aceh Utara, Minggu (28/12/2025). Bantuan tersebut disalurkan oleh PT Kencana Hijau Bina Lestari dan selanjutnya akan didistribusikan ke wilayah terdampak melalui Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA).
Bantuan diserahkan oleh Mayjen (Purn) TNI Sunarko kepada Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBA, Abdul Aziz. Logistik masih tersimpan dalam peti kemas dan berisi kebutuhan pokok bagi pengungsi banjir, di antaranya beras, mi instan, minyak goreng, gula pasir, makanan siap saji, popok balita, dan pembalut wanita.
Sunarko menyatakan, berdasarkan pemantauannya di lapangan, dampak banjir di sejumlah kabupaten di Aceh tergolong sangat luas dan memerlukan penanganan jangka panjang. Ia menilai kerusakan akibat banjir kali ini melampaui kerusakan bencana besar sebelumnya karena tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga menghancurkan sumber penghidupan masyarakat.
“Korban selamat bukan hanya kehilangan rumah, tapi juga kebun, alat kerja, dan mata pencaharian. Setelah air surut, kebutuhan hidup mereka justru semakin besar,” kata Sunarko kepada wartawan media timeline.inews. investigasi
Menurutnya, pendistribusian bantuan ke Bener Meriah dan Takengon masih menghadapi kendala serius akibat rusaknya infrastruktur jalan. Jalur darat hanya dapat dilalui dalam jumlah terbatas menggunakan sepeda motor dan kendaraan roda empat jenis off-road, sementara sebagian wilayah masih terisolasi.
Sunarko menegaskan distribusi logistik ke dua kabupaten tersebut saat ini sangat bergantung pada transportasi udara. Ia menilai pemerintah perlu memastikan pengerahan helikopter, pesawat Hercules, dan pesawat angkut ringan benar-benar berjalan efektif sesuai arahan Presiden.
“Kalau mengandalkan jalur darat, pasokan logistik sangat terbatas. Helikopter menjadi kunci, tetapi akses jalan tetap harus segera diperbaiki agar distribusi tidak berlarut-larut,” ujarnya.
Ia juga mendorong pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten untuk segera mempercepat perbaikan jalan yang longsor dan terputus dengan mengerahkan alat berat dalam jumlah besar. Bahkan, ia menyarankan agar perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Aceh turut dilibatkan untuk membantu membuka kembali jalur darat yang telah terputus hampir satu bulan.
Selain logistik pangan, Sunarko mengingatkan pentingnya pendataan kerusakan secara akurat, mencakup rumah warga, lahan pertanian, perkebunan, serta sarana produksi nelayan. Menurutnya, penentuan jumlah bantuan harus berbasis data pemerintah daerah, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa.
“Bupati, camat, dan kepala desa yang paling tahu berapa kebutuhan riil masyarakat, apakah dihitung per hari, per minggu, atau per bulan,” katanya.
Adapun bantuan yang diserahkan meliputi beras 5 ton, mi instan 500 dus, minyak goreng 80 dus, gula pasir, sarden kaleng, rendang kemasan, telur puyuh, popok balita, serta pembalut wanita. Seluruh bantuan tersebut direncanakan akan segera didistribusikan ke wilayah Bener Meriah dan Takengon melalui mekanisme BPBA dan koordinasi dengan BNPB..

































