TLii >> Pidie Jaya __ Lumpur masih mengering di sudut-sudut rumah warga Pidie Jaya, Aceh. Di beberapa gampong terdampak banjir bandang akhir 2025, bau tanah basah bercampur sisa genangan masih terasa. Tenda-tenda darurat berdiri di halaman dan tepi jalan, menandai bahwa bencana itu belum sepenuhnya berlalu bagi sebagian warga.
Dua bulan lebih setelah banjir, kehidupan berjalan dalam jeda. Air bersih belum menjangkau semua rumah. Aktivitas ekonomi belum pulih. Sebagian warga masih bolak-balik dari tenda ke rumah, membersihkan lumpur yang mengeras di lantai, dinding, dan perabot yang tersisa.
Pada 27 Januari 2026, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya memperpanjang status tanggap darurat untuk kelima kalinya. Keputusan itu diambil karena penanganan darurat belum selesai dan kebutuhan dasar masyarakat terdampak masih harus dipenuhi. Alat berat terus bekerja membersihkan sisa material banjir. Relawan masih datang dan pergi.
Di balik upaya pembersihan itu, tanda-tanda dampak lain mulai tampak. Pepohonan di pekarangan warga menguning. Daunnya rontok sebelum waktunya. Pohon melinjo, durian, dan bambu—tanaman yang selama ini menopang ekonomi keluarga—tak bertahan dari rendaman air dan timbunan lumpur tebal saat banjir bandang menerjang.
Bagi warga gampong, pohon-pohon itu adalah tabungan hidup. Dari hasil panen musiman, mereka menutup kebutuhan harian dan biaya sekolah anak. Ketika tanaman produktif mati, sumber penghidupan ikut terputus. Pemulihan pun tak lagi sekadar membersihkan rumah, tetapi juga memulihkan masa depan.
“Rumah bisa dibersihkan. Tapi pohon yang mati harus ditanam ulang,” kata seorang warga. Ia tahu, menunggu pohon kembali berbuah berarti menunggu bertahun-tahun.
Bencana ini perlahan berubah wajah. Dari darurat kemanusiaan menjadi ancaman ekonomi jangka panjang. Ketika tenda-tenda kelak dibongkar dan bantuan darurat dihentikan, warga masih harus berhadapan dengan kehilangan penghasilan dan ketidakpastian.
Situasi ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dan pusat. Selain membangun hunian sementara dan memperbaiki infrastruktur dasar, pemulihan ekonomi masyarakat terdampak menjadi kebutuhan mendesak. Bantuan bibit, pendampingan usaha, dan program pemulihan mata pencaharian menentukan apakah warga dapat benar-benar bangkit.
Banjir Pidie Jaya telah surut. Namun bagi warganya, bencana belum selesai. Lumpur mungkin bisa dibersihkan, tetapi jejak kehilangan—di pekarangan, di kebun, dan di kehidupan—masih menunggu dipulihkan. (JN)



































