(Foto istimewa dari camera sang penulis Sri Wahyuni)
Penulis: Sri Wahyuni
Layar hari kembali menyala
menampilkan tawa yang asing
Di saat bising dunia
menutup luka di hatii
Aku belajar memakai topeng paling rapi hari ini
Menyembunyikan retak yang tak sempat kupahami sendiri.
Katanya, waktu adalah penyembuh paling hebat
Tapi detiknya terasa berat..
Aku hanya ingin berhenti sejenak,
Pada diri yang terus dipaksa untuk tidak menyerah.
Luka ini tidak berdarah, tapi rasanya terbelah
Seperti tenggelam di tengah laut yang paling dalam
Bukan benci yang tersisa, hanya lelah yang tersimpan
Mencoba memaafkan keadaan yang tak memberi jawaban
Kita semua hanya sedang belajar… menata pecah yang terserak.
Kadang ditanya “apa kabar?” terasa seperti ujian
Karena jujur itu pahit, dan bohong itu sandiwara yang membosankan
Lalu terjatuh di ruang sepi yang kita kunci dari dalam hati.
Mungkin sembuh bukan berarti kembali utuh seperti dulu
Mungkin sembuh adalah belajar hidup dengan bekas yang biru
Tak perlu terburu-buru, biarkan ia mengering dengan caranya
Sebab bunga yang patah pun, masih punya hak untuk berharga.
Pelan-pelan saja…
Hening ini bukan musuhmu.
Biarkan luka bicara, sebelum ia menjadi abu.


































