(Foto istimewa sang penulis Khairunnisa Kinur)
Penulis: Khairunnisa kinur, Mahasiswa PBI semester 3 Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Di lembah Hadramaut yang sunyi dan suci,
Tarim berdiri dengan doa yang tak pernah mati.
Tanahnya yang berdebu, namun cahaya iman,
Langitnya rendah, seakan merasa dekat dengan Allah.
Seribu wali berjejak di setiap sudut jalan,
Setiap Langkah mereka adalah dzikir yang kekal.
Masjid-masjid tua bersaksi dalam diam,
Tentang ilmu, sabar, dan akhlak yang terpelihara dalam salam.
Di Tarim, waktu yang terus berjalan dengan tasbih,
Setiap pagi disambut ayat-ayat suci, setiap malam ditutup istighfar yang bersih.
Bukan gemerlap dunia yang dicari di sini,
Tetapi hati yang lurus menuju Ilahi.
Para habib menanamkan cinta dalam ilmu,
Mengajarkan rendah hati sebagai jalan bertemu kerinduan.
Lisan mereka yang begitu lembut, Tetapi tegas pada kebenaran,
Menjadi cahaya bagi umat di setiap zaman.
Wahai Tarim, kota para pewaris nabi,
Namamu terukir dalam sejarah suci.
Meski jauh dari peta kekuasaan dunia,
Engkau dekat di hati pencari cahaya.



































