TIMELINES iNEWS Investigasi | ACEH BESAR — Tradisi Hari Meugang yang selama puluhan tahun menjadi momen puncak perputaran ekonomi masyarakat Aceh, khususnya sektor pangan, tahun ini justru menghadirkan ironi.
Suasana puncak Meugang menjelang Ramadhan 1447 Hijriah di Pasar Induk Lambaro Aceh Besar tampak jauh lebih sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sejumlah pedagang daging mengaku salah memprediksi lonjakan pembeli. Keluhan pun mengemuka, lantaran jumlah pembeli berkurang drastis, sementara biaya operasional tetap berjalan.
Ditempat yang sama Ferry Lapak Daging Dikawasan Jalan Lingkar Pasar Induk yang ditemui Media TLii menyebutkan, sepinya pembeli pada hari puncak Meugang dipicu oleh banyak faktor yang saling berkaitan.
Salah satu yang paling dirasakan adalah pelaksanaan operasi pasar oleh pemerintah yang menjual daging dengan harga di bawah pasaran.
“Operasi pasar ini sangat terasa dampaknya. Harga daging dijual lebih murah dari harga kami di pasar, sehingga pembeli lebih memilih ke sana. Akhirnya, pasar tradisional jadi sepi,” ujarnya.
Faktor kedua yang tak kalah berpengaruh adalah melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih akibat Bencana Banjir Longsor Tahun yang lalu membuat warga terutama Ibu Rumah Tangga lebih memilih Kebutuhan Utama/Mendesak dalam membelanjakan kebutuhan Meugang.
Selain itu, masih kuatnya persepsi bahwa harga daging selalu melonjak saat puncak Meugang membuat sebagian besar masyarakat memilih membeli daging lebih awal.
“Sekarang banyak yang beli dua hari sebelumnya. Mereka takut harga mahal, padahal di hari puncak justru kami turunkan harga karena pembeli sepi,” tambahnya.
Pantauan wartawan TLii di sejumlah titik penjualan daging, seperti Keutapang, Pasar Ulee Kareng, dan Pasar Induk Lambaro, memperlihatkan kontras penjualan yang cukup tajam.
Pada Selasa (18/2/2026) atau H-2 Ramadhan, rata-rata pedagang yang memotong dua ekor sapi mampu menjual habis dagangannya sejak pagi hingga sore, dengan harga berkisar Rp160 ribu hingga Rp170 ribu per kilogram.
Namun kondisi berbeda terjadi pada Rabu (H-1 Ramadhan). Harga awal daging sapi dipatok Rp160 ribu per kilogram, namun karena pembeli tak kunjung ramai, pedagang terpaksa menurunkan harga menjadi Rp150 ribu bahkan Rp140 ribu per kilogram hingga sore hari.
Pedagang Grosir Daging yang cukup senior juga pedagang tetap di Pasar Induk Lambaro, H. Safwan, yang juga menjabat sebagai Kepala Gampong Reuloh, Kecamatan Ingin Jaya, mengungkapkan bahwa penjualan masih tergolong normal pada Meugang Kantor—istilah masyarakat Aceh untuk dua hari sebelum puasa.
“Dua hari sebelum puasa kami sembelih tiga ekor lembu, sekitar 300 kilogram daging, dan itu habis terjual dengan harga Rp160 ribu per kilogram,” jelas H. Safwan.
Namun pada H-1 Ramadhan, situasinya berubah. “Stok kami hari ini sama seperti kemarin, tapi sampai sore masih tersisa sekitar setengah. Pembeli sudah terpencar karena menjamurnya Lapak penjualan daging di luar pasar,” katanya.
Selain operasi pasar dan perubahan pola belanja masyarakat, penurunan omzet pedagang daging di wilayah Kabupaten Aceh Besar juga dipengaruhi oleh penyaluran bantuan daging sapi bagi warga terdampak banjir pada 26 November 2025 lalu. Sekitar 7,2 ton daging bantuan Presiden Prabowo disalurkan ke 10 kecamatan Aceh Besar Terdampak.
“Kalau masyarakat sudah dapat bantuan daging, otomatis mereka tidak lagi membeli di pasar, Ini sangat berpengaruh,” ujar salah satu pedagang.
Keluhan serupa disampaikan Bangcut, pedagang daging asal Desa Reuloh. Ia mengaku, meski dua ekor sapi dengan total sekitar 300 kilogram daging miliknya terjual habis, dampak operasi pasar tetap terasa signifikan.
“Daging sapi kami jual Rp170 ribu per kilogram, daging kerbau Rp180 ribu. Tulang rusuk Rp80 ribu sampai Rp100 ribu per kilogram,” jelasnya.
Tak hanya pedagang daging, pedagang sembako pun merasakan imbas Meugang yang lesu.
Zajuli, pedagang grosir sembako di kawasan Pasar Induk Lambaro, mengatakan omzet pada hari Meugang tahun ini menurun karena masyarakat sudah mencicil belanja sejak H-3 bahkan sepekan sebelumnya.
“Harga sembako relatif stabil, Daya Beli Masyarakat Berkurang, tidak ada kenaikan signifikan,” tegasnya.
Sementara itu, pedagang sayur Tgk. Fikri memastikan harga sayur-mayur masih berada pada kondisi normal. Cabai merah dijual Rp40 ribu per kilogram, cabai hijau Rp35 ribu, cabai nano-nano Rp50 ribu, cabai rawit Rp25 ribu, dan tomat Medan Rp20 ribu per kilogram. Meski harga stabil, ia mengakui omzet tidak seramai Meugang tahun-tahun sebelumnya. [Yahbit]





































