TLii [] Meureudu – Pagi itu, Senin 13 April 2026, suasana di ruang rapat Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Pidie Jaya terasa berbeda. Tidak ada seremoni besar, tidak pula kemewahan. Namun, di balik kesederhanaan ruangan itu, tersimpan sebuah awal—awal dari harapan, perubahan, dan arah baru.
Baru beberapa hari sejak dilantik pada 8 April 2026, Saifuddin, M.Pd tak memilih menunggu. Ia datang dengan langkah pasti, membawa satu hal yang tak terlihat, namun terasa kuat: tekad.
Rapat perdana itu dibuka oleh Moh. Iqbal, SKM, M.Kes. Satu per satu pejabat dan ASN telah hadir—tiga kepala bidang, Kasubbag Keuangan, Kasubbag Umum dan Kepegawaian, hingga seluruh pegawai. Semua duduk, menunggu arah yang akan ditentukan.
Saat Saifuddin mulai berbicara, ruangan seakan hening. Kata demi kata yang keluar bukan sekadar formalitas jabatan, melainkan cerminan beban amanah yang kini ia pikul.
“Alhamdulillah, saya diamanahkan oleh Bapak Bupati untuk memimpin Badan Kesatuan Bangsa dan Politik ini…”
Kalimat itu sederhana. Namun di baliknya, ada tanggung jawab besar—bukan hanya memimpin, tetapi menyatukan.
Ia tidak berbicara panjang tentang target angka atau program teknis. Ia memulai dari hal yang paling mendasar—kekompakan.
“Saya sangat berharap kepada bapak dan ibu semua… kita harus kompak. Kita harus solid. Kita harus saling menguatkan.”
Nada suaranya tegas, namun hangat. Bukan perintah, melainkan ajakan.
Di tengah berbagai tantangan birokrasi, ia sadar satu hal: tanpa kebersamaan, tak ada program yang benar-benar berjalan.
“Kerja sama, kerja ikhlas, dan kerja tuntas… itu yang kita butuhkan,” lanjutnya.
Sejenak, suasana terasa lebih dalam. Bukan sekadar rapat awal, tetapi seperti pengingat—bahwa setiap tugas yang diemban bukan hanya soal kewajiban, melainkan pengabdian.
Hari itu, tidak ada keputusan besar yang diumumkan. Tidak ada gebrakan yang menggelegar. Namun justru di situlah letak kekuatannya—sebuah fondasi sedang dibangun.
Dari ruang rapat sederhana itu, Saifuddin memulai langkahnya. Perlahan, tapi pasti. Menyatukan, menggerakkan, dan menanamkan semangat baru.
Karena ia tahu, perubahan besar tidak selalu dimulai dengan langkah yang keras—tetapi dengan niat yang kuat dan hati yang searah.
Dan di hari itu, Kesbangpol Pidie Jaya mulai bergerak. ((JN)



































