TLii | MEDAN | PT KAI PERSERO DIVRE I SUMUT
12/06/2026
TIMELINES INEWS INVESTIGASI, Medan, 12 Juni 2026 PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara mencatat volume angkutan petikemas mencapai 27.787 ton pada Mei 2026. Jumlah tersebut meningkat signifikan sebesar 109 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebanyak 13.265 ton.

Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan pertumbuhan tersebut menjadi indikator positif meningkatnya aktivitas logistik serta efisiensi distribusi arus barang di wilayah Sumatera Utara.
“Angkutan petikemas melalui kereta api terus menunjukkan tren yang baik. Hal ini mencerminkan peningkatan kepercayaan pelanggan terhadap layanan logistik berbasis kereta api yang mampu mendukung kelancaran distribusi barang dari dan menuju berbagai kawasan industri maupun pelabuhan,” ujar Anwar.
Menurutnya, salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan angkutan barang adalah optimalisasi konektivitas di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun. Jaringan perkeretaapian yang terintegrasi di kawasan industri berbasis kelapa sawit dan turunannya tersebut dinilai mampu mempercepat pergerakan logistik menuju pelabuhan tujuan.
Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Mei 2026, KAI Divre I Sumatera Utara telah mengangkut sebanyak 130.013 ton petikemas.
Anwar menjelaskan, penggunaan moda kereta api memberikan dampak signifikan dalam mengurangi beban lalu lintas di jalan raya. Satu kontainer bermuatan 42 ton yang diangkut menggunakan kereta api setara dengan kapasitas dua unit truk tronton.
“Rata-rata setiap hari KAI Divre I Sumut mengoperasikan 54 gerbong petikemas. Artinya, operasional ini mampu mengurangi kepadatan jalan raya dari potensi kemacetan hingga 108 truk tronton per hari,” jelasnya.
Selain membantu mengurai kemacetan, pemanfaatan kereta api sebagai moda angkutan barang juga menjadi solusi strategis di tengah dinamika harga bahan bakar minyak (BBM), karena memiliki kapasitas angkut massal yang lebih besar dan efisien.
Dari sisi lingkungan, kereta api juga dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan angkutan jalan raya. Berdasarkan data Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), emisi karbon kereta api berkisar antara 15 hingga 30 gram CO₂ per ton-kilometer, jauh lebih rendah dibandingkan angkutan truk yang menghasilkan sekitar 60 hingga 120 gram CO₂ per ton-kilometer.
“Kami optimistis angkutan logistik berbasis kereta api di Sumut akan terus berkembang. KAI akan terus meningkatkan keandalan layanan guna mendukung kebutuhan pelaku usaha sekaligus mewujudkan ekosistem distribusi barang yang efisien dan ramah lingkungan,” tutup Anwar.
(***)



























