Rupiah Terjun Bebas: Bukti ‘Ekonomi Pancasila’ Masih Sebatas Dongeng Pengantar Tidur Penguasa

PUTRI RAHMAWATI

- Redaksi

Senin, 8 Juni 2026 - 15:54 WIB

50111 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(foto istimewa sang penulis)

TIMELINES INEWS INFESTIGASI
‎
‎Angka di papan bursa valas tak pernah bohong, tapi ia sering kali bisu terhadap penderitaan di akar rumput. Pekan ini, nilai tukar rupiah menembus batas psikologis yang mengerikan: Rp18.028 per dolar AS. Di Jakarta, para birokrat dan bankir mungkin sibuk meramu rumusan moneter untuk menenangkan pasar. Namun di pesisir Bangka Belitung dan pelosok daerah lainnya, angka tersebut diterjemahkan menjadi realitas yang jauh lebih brutal: ancaman kelaparan, matinya mesin kapal nelayan, dan hancurnya daya beli masyarakat kecil.
‎
‎Kita seperti sedang dipaksa memutar ulang kaset usang sejarah kebangsaan. Pada 1966, rezim Orde Lama tumbang karena hiperinflasi yang merampas piring makan rakyat, memicu jerit perlawanan “Turunkan Harga” dalam Tritura. Tiga dekade kemudian, krisis moneter 1998 meruntuhkan Orde Baru saat dolar mengamuk. Kala itu, negara melakukan dosa fatal dengan memilih menggelontorkan dana talangan triliunan rupiah demi menyelamatkan bank dan konglomerat, sementara rakyat kecil dibiarkan saling sikut demi sekarung beras.
‎
‎Hari ini, di tengah masa transisi pemerintahan, pola pemiskinan struktural itu kembali mengintai. Negara lagi-lagi tergagap merespons badai ekonomi global, sementara kaum marjinal langsung ditempatkan di garda terdepan sebagai peredam kejut dari krisis.
‎
‎Mari kita singkap apa yang sesungguhnya terjadi di perairan dan pasar-pasar tradisional. Ketika nilai dolar meroket, beban operasional langsung membengkak tak masuk akal. Harga bahan pokok yang bergantung pada impor merambat naik. Di sektor maritim, harga suku cadang mesin, material jaring, hingga ongkos logistik mencekik leher nelayan tradisional dan Anak Buah Kapal (ABK). Upah riil mereka tergerus habis hanya untuk menutup biaya melaut yang tak lagi sebanding dengan hasil tangkapan.
‎
‎Ironisnya, di saat yang sama, industri ekstraktif berskala raksasa yang mengeduk kekayaan alam dan mengapalkan komoditasnya ke luar negeri justru sedang berpesta pora menikmati selisih kurs. Ketimpangan ini semakin telanjang di wilayah kepulauan. Ruang tangkap nelayan kian menyempit terdesak oleh tata ruang pesisir yang sarat kepentingan oligarki pertambangan, dan kini, satu-satunya alat produksi mereka pun dilumpuhkan oleh inflasi.
‎
‎Rakyat kecil dikepung dari dua arah: ruang hidupnya dirampas, daya belinya dihancurkan.
‎
‎Membiarkan kemiskinan struktural merajalela adalah bentuk pengingkaran terhadap konstitusi dan nilai kemanusiaan. Dalam perspektif teologi Al-Ma’un, agama bahkan menjadi sebuah kedustaan jika kita berpaling dari kaum mustadhafin mereka yang tertindas secara sistemik. Gerakan mahasiswa yang berkemajuan tidak memiliki pilihan lain selain menolak diam dan berdiri menjadi tameng bagi kelompok paling rentan ini. Keadilan sosial bukan sekadar pajangan teks dalam lambang negara, melainkan kewajiban mutlak pemerintah untuk memastikan setiap warga negaranya bisa makan layak esok hari.
‎
‎Sudah waktunya pemerintah mencopot kacamata kuda makroekonomi. Respons terhadap anjloknya rupiah tidak boleh mandek pada intervensi pasar valas atau otak-atik suku bunga di atas kertas. Negara harus segera turun ke bawah: tebar jaring pengaman sosial yang masif, pastikan pasokan sembako aman tanpa perm”Rupiah Terjun Bebas: Bukti ‘Ekonomi Pancasila’ Masih Sebatas Dongeng Pengantar Tidur Penguasa”‎
‎
‎Angka di papan bursa valas tak pernah bohong, tapi ia sering kali bisu terhadap penderitaan di akar rumput. Pekan ini, nilai tukar rupiah menembus batas psikologis yang mengerikan: Rp18.028 per dolar AS. Di Jakarta, para birokrat dan bankir mungkin sibuk meramu rumusan moneter untuk menenangkan pasar. Namun di pesisir Bangka Belitung dan pelosok daerah lainnya, angka tersebut diterjemahkan menjadi realitas yang jauh lebih brutal: ancaman kelaparan, matinya mesin kapal nelayan, dan hancurnya daya beli masyarakat kecil.
‎
‎Kita seperti sedang dipaksa memutar ulang kaset usang sejarah kebangsaan. Pada 1966, rezim Orde Lama tumbang karena hiperinflasi yang merampas piring makan rakyat, memicu jerit perlawanan “Turunkan Harga” dalam Tritura. Tiga dekade kemudian, krisis moneter 1998 meruntuhkan Orde Baru saat dolar mengamuk. Kala itu, negara melakukan dosa fatal dengan memilih menggelontorkan dana talangan triliunan rupiah demi menyelamatkan bank dan konglomerat, sementara rakyat kecil dibiarkan saling sikut demi sekarung beras.
‎
‎Hari ini, di tengah masa transisi pemerintahan, pola pemiskinan struktural itu kembali mengintai. Negara lagi-lagi tergagap merespons badai ekonomi global, sementara kaum marjinal langsung ditempatkan di garda terdepan sebagai peredam kejut dari krisis.
‎
‎Mari kita singkap apa yang sesungguhnya terjadi di perairan dan pasar-pasar tradisional. Ketika nilai dolar meroket, beban operasional langsung membengkak tak masuk akal. Harga bahan pokok yang bergantung pada impor merambat naik. Di sektor maritim, harga suku cadang mesin, material jaring, hingga ongkos logistik mencekik leher nelayan tradisional dan Anak Buah Kapal (ABK). Upah riil mereka tergerus habis hanya untuk menutup biaya melaut yang tak lagi sebanding dengan hasil tangkapan.
‎
‎Ironisnya, di saat yang sama, industri ekstraktif berskala raksasa yang mengeduk kekayaan alam dan mengapalkan komoditasnya ke luar negeri justru sedang berpesta pora menikmati selisih kurs. Ketimpangan ini semakin telanjang di wilayah kepulauan. Ruang tangkap nelayan kian menyempit terdesak oleh tata ruang pesisir yang sarat kepentingan oligarki pertambangan, dan kini, satu-satunya alat produksi mereka pun dilumpuhkan oleh inflasi.
‎
‎Rakyat kecil dikepung dari dua arah: ruang hidupnya dirampas, daya belinya dihancurkan.
‎
‎Membiarkan kemiskinan struktural merajalela adalah bentuk pengingkaran terhadap konstitusi dan nilai kemanusiaan. Dalam perspektif teologi Al-Ma’un, agama bahkan menjadi sebuah kedustaan jika kita berpaling dari kaum mustadhafin—mereka yang tertindas secara sistemik. Gerakan mahasiswa yang berkemajuan tidak memiliki pilihan lain selain menolak diam dan berdiri menjadi tameng bagi kelompok paling rentan ini. Keadilan sosial bukan sekadar pajangan teks dalam lambang negara, melainkan kewajiban mutlak pemerintah untuk memastikan setiap warga negaranya bisa makan layak esok hari.
‎
‎Sudah waktunya pemerintah mencopot kacamata kuda makroekonomi. Respons terhadap anjloknya rupiah tidak boleh mandek pada intervensi pasar valas atau otak-atik suku bunga di atas kertas. Negara harus segera turun ke bawah: tebar jaring pengaman sosial yang masif, pastikan pasokan sembako aman tanpa permainan kartel, dan berikan subsidi langsung yang menyentuh urat nadi operasional nelayan serta pekerja informal.
‎
‎Jangan sampai kabinet saat ini mengulang dosa masa lalu: merawat elite di tengah badai, sementara rakyat kecil dibiarkan tenggelam.
‎
Sayied Agiel Yusuf
Mahasiswa Unmuh Babel.ainan kartel, dan berikan subsidi langsung yang menyentuh urat nadi operasional nelayan serta pekerja informal.
‎
‎Jangan sampai kabinet saat ini mengulang dosa masa lalu: merawat elite di tengah badai, sementara rakyat kecil dibiarkan tenggelam.
‎
Sayied Agiel Yusuf
Mahasiswa Unmuh Babel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berita Terkait

Di Balik Tangisan Anak Pencuri Ayam, Ada Keresahan Pemilik Ayam Aduan Juara dan PR Besar Penegakan Hukum
INGKAR JANJI DALAM HUBUNGAN ASMARA: BISAKAH CINTA DIGUGAT?
Politik Santun, Menang Tanpa Balas Dendam
Kekosongan Kepemimpinan di Bangka Barat Bukan Soal Jabatan, Tetapi Hilangnya Keberanian Memimpin.
Pers Pilar Keempat Demokrasi: Masihkah Menjadi Penjaga Kebenaran?
“Tak Dapat Dana Bantuan Sosial, Geusyik Dituding Pilih Kasih dan Balas Jasa Politik”
‎Betungkah: Perlawanan Terhadap Kerusakan Alam Dari Pesisir Bangka
MBG: Mesin Ekonomi Desa, Strategi Ketahanan Nasional, dan Tantangan Tata Kelola Program Raksasa

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:13 WIB

KORMI Lhokseumawe mengadakan Turnamen Tenis 78 PASANGAN IKUT MERIAHKAN BOOMING OLAHRAGA TENIS

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:46 WIB

Tingkatkan Kebugaran dan Kekompakan, Pegawai Rutan Labuhan Deli Latihan Fisik melalui Mini Soccer

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:50 WIB

Kapolres Pematangsiantar Bersama Jajaran Gelar Sholat Jumat Keliling, Pererat Silaturahmi dan Ajak Warga Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:46 WIB

Sat Lantas Polres Pematangsiantar Edukasi TK Tertib Berlalu Lintas Sejak Usia Dini 

Jumat, 16 Oktober 2026 - 22:02 WIB

Program Tumbuh Bersama,PT Pelindo Regional I Dorong Peningkatan Kualitas SDM melalui Pembangunan Sekolah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:40 WIB

Bapas Palangka Raya Gali Kesiapan Lingkungan, Dukung Keberhasilan Reintegrasi Sosial Klien Pemasyarakatan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:31 WIB

Berdalih Pematangan Lahan, Galian Tanah Urug Diduga Ilegal Tetap Berjalan: Warga Curigai Ada “Tameng” dan Permainan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:29 WIB

Kepala Bapas Theo Adrianus Tegaskan Pelayanan Optimal Kedepankan Profesionalisme dan Nilai Kemanusiaan Kondisi Khusus

Berita Terbaru