“Tak Dapat Dana Bantuan Sosial, Geusyik Dituding Pilih Kasih dan Balas Jasa Politik”

- Redaksi

Rabu, 8 April 2026 - 02:50 WIB

50480 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_16908320

Oplus_16908320

Oleh : Jailani, S.Sos ( Wartawan Timelinesinews – Pidie Jaya)

 

Di setiap pengumuman daftar penerima bantuan—baik itu biaya stimulan pascabencana banjir maupun JADUP—selalu ada satu sosok yang paling sering menjadi sasaran: Geusyik Gampong. Ia bukan pengambil kebijakan di tingkat atas, bukan pula pemegang anggaran utama. Namun, ketika ada nama yang tak tercantum, dialah yang pertama kali dituding.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fenomena ini terus berulang. Harapan warga yang tidak terpenuhi berubah menjadi kekecewaan, lalu menjelma menjadi tuduhan. “Nama saya tidak ada,” menjadi awal dari kecurigaan yang sering kali berujung pada penilaian sepihak: Geusyik dianggap tidak adil, dituding bermain data, bahkan dicap hanya mengakomodasi mereka yang punya “orang dalam”.

Namun, kini muncul lapisan persoalan yang lebih rumit—prasangka politik yang menyelinap di tengah kehidupan sosial gampong. Tak sedikit warga yang beranggapan bahwa tidak masuknya nama mereka dalam daftar penerima bantuan disebabkan karena mereka “bukan tim sukses” saat pemilihan Geusyik dahulu. Sebuah asumsi yang pelan tapi pasti merusak kepercayaan, mengubah bantuan sosial menjadi seolah-olah balas jasa politik.

Padahal, tudingan seperti ini sering kali tidak berdasar, tetapi dampaknya sangat nyata. Ia menciptakan sekat-sekat tak kasat mata di tengah masyarakat. Warga mulai saling curiga, hubungan sosial merenggang, dan Geusyik berada di tengah pusaran yang sulit ia kendalikan.

Di salah satu gampong di Pidie Jaya, seorang Geusyik yang dikenal sabar dan dekat dengan warganya, akhirnya tak mampu lagi menahan tekanan. Setelah berulang kali menghadapi keluhan dan tudingan, ia dengan tegas menyampaikan:

“Jika memang ada bukti kami bermain data, silakan laporkan ke pihak berwajib.”

Kalimat itu bukan sekadar bantahan. Ia adalah ungkapan kelelahan, bahkan mungkin kekecewaan. Sebab di balik jabatan yang ia emban, ada tanggung jawab moral yang besar—melayani semua warga tanpa membedakan latar belakang, termasuk pilihan politik di masa lalu.

Realitasnya, proses penyaluran bantuan tidak sesederhana yang terlihat. Data harus melalui tahapan verifikasi berlapis, mulai dari tingkat gampong hingga instansi yang lebih tinggi. Geusyik hanya salah satu mata rantai dari sistem panjang tersebut. Namun, ketika hasilnya tidak sesuai harapan, seluruh proses itu seolah mengerucut pada satu titik kesalahan: Geusyik.

Di sinilah pentingnya keadilan dalam melihat persoalan. Menyandarkan semua kesalahan pada Geusyik, apalagi dengan membawa-bawa isu “bukan timses”, adalah bentuk penyederhanaan yang berbahaya. Ia tidak hanya melukai individu, tetapi juga merusak tatanan sosial yang selama ini dibangun di atas kebersamaan.

Bukan berarti Geusyik bebas dari kritik. Transparansi tetap mutlak diperlukan. Proses pendataan harus terbuka, komunikasi harus diperkuat, dan ruang klarifikasi harus selalu tersedia. Namun di sisi lain, masyarakat juga dituntut untuk lebih bijak—tidak mudah terjebak dalam prasangka, apalagi yang bernuansa politik.

Karena jika bantuan sosial mulai dipersepsikan sebagai alat balas jasa, maka yang runtuh bukan hanya kepercayaan kepada Geusyik, tetapi juga kepada sistem itu sendiri.

Geusyik hari ini berdiri di antara dua dunia: pengabdian yang ia jalankan dengan segala keterbatasan, dan tuduhan yang datang tanpa henti. Ia bukan sosok sempurna, tetapi juga bukan aktor tunggal dari segala kekurangan.

Yang ia hadapi bukan hanya soal data yang belum lengkap, tetapi juga prasangka yang terlanjur tumbuh.

Dan ketika prasangka lebih dipercaya daripada fakta, maka keadilan perlahan kehilangan tempatnya di gampong. ( ***)

Berita Terkait

‎Betungkah: Perlawanan Terhadap Kerusakan Alam Dari Pesisir Bangka
MBG: Mesin Ekonomi Desa, Strategi Ketahanan Nasional, dan Tantangan Tata Kelola Program Raksasa
Demokrasi di Bulan Suci Ramadhan
Meugang dan Ziarah: Mengikat Silaturahmi Hingga ke Alam Kubur
Ricky (Direktur Perumdam TS) : PAM/PDAM Juga Korban Bencana yang Harus Dipulihkan di Gayo Lues
Kontroversi Lambang Aceh Dinilai A-Historis dan Sarat Polemik
Ketika Bencana hidrometeorologi Gayo Lues Dijadikan Alasan Menambah Utang ASN
‎Melawan Lupa, Merawat Kelekak: Seruan untuk Generasi Bangka ‎

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 16:35 WIB

Kalapas Pimpin Penyematan Kenaikan Pangkat Petugas Lapas Narkotika Samarinda

Minggu, 12 April 2026 - 20:01 WIB

Penguatan Organisasi, Pejabat Baru Kalapas Narkotika Samarinda dan Jajaran Eselon IV  Resmi Dilantik Kakanwil Ditjenpas Kaltim

Jumat, 10 April 2026 - 21:21 WIB

Bazar Karya Warga Binaan, Lapas Narkotika Samarinda Tampilkan Produk Unggulan Dalam Semarak Hari Bhakti Pemasyarakatan

Kamis, 9 April 2026 - 20:43 WIB

Semarak Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62, Lapas Narkotika Samarinda Gelar Aksi Bersih Puskesmas Pembantu Bayur

Senin, 6 April 2026 - 20:33 WIB

Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62, Kalapas Lapas Narkotika Samarinda Gandeng BNN Tegaskan Komitmen Bersih Narkoba melalui Tes Urin

Senin, 6 April 2026 - 20:25 WIB

Pengukuhan Satops Patnal Kaltimtara, Lapas Narkotika Samarinda Siap Wujudkan Pelayanan PRIMA dan Kedisiplinan Petugas

Sabtu, 4 April 2026 - 10:33 WIB

Peringatan Jumat Agung, Warga Binaan Kristen dan Katolik Lapas Narkotika Samarinda Beribadah dengan Hikmat

Jumat, 3 April 2026 - 10:13 WIB

Pendekatan Spiritual Jadi Kunci, Warga Binaan Ikuti Rehabilitasi Mandiri di Lapas Narkotika Samarinda

Berita Terbaru

Oplus_131072

KALIMANTAN SELATAN

Panen Sawi di Rutan Tanjung, Bukti Nyata Pembinaan Kemandirian Warga Binaan

Sabtu, 18 Apr 2026 - 21:29 WIB