TLii | MEDAN | PT KAI PERSERO DIVRE I SUMUT
30/08/2026
TIMELINES INEWS INVESTIGASI Labuhanbatu Utara, 30 Agustus 2026 Stasiun Padang Halaban di Desa Perkebunan Panigoran, Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhanbatu Utara, terus menunjukkan perannya sebagai simpul mobilitas masyarakat sekaligus penggerak perekonomian daerah.

Sepanjang Januari hingga Juli 2026, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara mencatat Stasiun Padang Halaban melayani 11.365 pelanggan, meningkat sekitar 20 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 9.450 pelanggan.

Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan keberadaan Stasiun Padang Halaban memiliki sejarah panjang yang tidak terlepas dari perkembangan kawasan perkebunan di Labuhanbatu Utara.
Stasiun tersebut resmi beroperasi pada 1937, bersamaan dengan rampungnya pembangunan jalur kereta api Kisaran–Rantauprapat.

Sejak awal, stasiun ini memiliki fungsi strategis dalam mendukung aktivitas perkebunan, khususnya untuk pengangkutan komoditas kelapa sawit dan karet.

“Hampir sembilan dekade berlalu, Stasiun Padang Halaban tetap menjalankan fungsinya menghubungkan kawasan perkebunan dengan pusat-pusat ekonomi seperti Rantauprapat, Kisaran, Tebing Tinggi, hingga Medan,” ujar Anwar.
Hingga kini, angkutan komoditas perkebunan yang masih dilayani dari Stasiun Padang Halaban berupa crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO) melalui jalur simpang menuju Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT SMART.
Namun, seiring meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat, fungsi stasiun turut berkembang. Dari yang sebelumnya lebih dikenal sebagai simpul logistik perkebunan, Stasiun Padang Halaban kini menjadi salah satu akses penting transportasi masyarakat.
Peran tersebut didukung oleh operasional enam perjalanan KA Sribilah Utama setiap hari yang berhenti di Stasiun Padang Halaban untuk melayani aktivitas naik dan turun penumpang.
Menurut Anwar, layanan kereta api tidak hanya memberikan akses transportasi yang aman, nyaman, dan tepat waktu bagi masyarakat sekitar, tetapi juga turut membuka akses terhadap potensi wisata yang ada di Labuhanbatu Utara.
Salah satu destinasi yang berada tidak jauh dari stasiun adalah jalur simpang menuju PKS PT SMART yang dikenal masyarakat sebagai Lorong Negeri atau Padang Halaban View. Kawasan tersebut memiliki daya tarik berupa jalur kereta api yang dinaungi pepohonan tua dan lebat hingga membentuk suasana seperti terowongan hijau.
“Sambil menunggu jalur tersebut kembali digunakan untuk melayani angkutan CPO dari PKS menuju ke stasiun, saat ini lokasi tersebut banyak digunakan oleh masyarakat sebagai destinasi wisata fotografi,” kata Anwar.
Meski layanan angkutan komoditas perkebunan melalui jalur tersebut terakhir tercatat aktif pada 2025 dan saat ini belum kembali beroperasi, KAI Divre I Sumatera Utara tetap melihat potensi pengembangan angkutan barang pada masa mendatang.
Kesiapan layanan perkeretaapian dan kebutuhan pengiriman komoditas menjadi peluang yang dapat terus dikembangkan untuk mendukung efisiensi distribusi logistik sekaligus pertumbuhan ekonomi daerah.
“Stasiun Padang Halaban adalah bukti nyata bagaimana perkeretaapian mampu bertransformasi dari sarana pengangkut hasil bumi menjadi jembatan mobilitas masyarakat sekaligus penopang distribusi logistik.
KAI Divre I Sumatera Utara berkomitmen untuk terus memperkuat dan mengoptimalkan peran strategis ini demi mendukung konektivitas serta pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara,” pungkas Anwar, Ungkapnya.
(***)





























