TLii|Aceh|ACEH UTARA — Jejeran peci berwarna-warni langsung menyita perhatian di salah satu stan Kecamatan Syamtalira Aron dalam perhelatan Milad Samudera Pasai ke-800.
Beragam bentuk dan motif tersusun rapi di atas meja. Dominasi warna merah, hitam, kuning, serta corak geometris khas Aceh membuat produk yang dipajang tak sekadar menjadi pelengkap dekorasi.( Sabtu/12/09/2026).
Stan tersebut memperkenalkan Peci Dong Pasee, kerajinan yang membawa identitas lokal ke tengah pesta budaya dan sejarah Aceh Utara.
Kehadirannya menjadi menarik karena perayaan besar seperti Milad Samudera Pasai bukan hanya menghadirkan pertunjukan dan seremoni. Ruang yang tersedia juga dimanfaatkan untuk mempertemukan hasil karya warga dengan masyarakat yang datang dari berbagai daerah.
Bagi pelaku usaha kecil, keramaian semacam ini merupakan kesempatan berharga. Produk yang biasanya hanya dikenal di lingkungan sekitar mendapat kesempatan tampil di hadapan khalayak yang lebih luas.
Peci khas Pasee pun memiliki nilai lebih dari sekadar fungsi sebagai penutup kepala. Motif, warna, serta pengerjaannya merepresentasikan kekayaan kerajinan masyarakat Aceh yang terus dipertahankan.
Di stan Syamtalira Aron, nilai tradisi tersebut berpadu dengan aktivitas ekonomi.
Pengunjung dapat melihat langsung produk, bertanya mengenai jenis maupun model, sekaligus membawanya pulang sebagai buah tangan.
Momentum ini terasa semakin relevan ketika Aceh Utara tengah menggelar rangkaian Piasan Pase dalam memperingati 800 tahun Samudera Pasai.
Delapan abad sejarah tidak berhenti pada cerita masa lalu. Ia menemukan bentuk lain melalui karya masyarakat hari ini.
Peci Dong Pasee menjadi salah satu contohnya. Dari tangan perajin, warisan lokal diolah menjadi barang yang bisa digunakan, diperjualbelikan, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Di tengah hiruk-pikuk perayaan, tumpukan peci itu menyampaikan pesan sederhana: budaya akan tetap bernyawa ketika masyarakat tidak hanya mengenangnya, tetapi juga memproduksi dan menggunakannya.
Syamtalira Aron pun datang bukan sekadar membawa nama kecamatan. Mereka membawa karya warga untuk diperlihatkan di panggung perayaan sejarah terbesar di Aceh Utara.


































