TLii|Aceh|Aceh Utara — Rumah milik Jamaluddin, seorang jurnalis media online yang terletak di Dusun Matang Peut Sagoe, Desa Matang Seuke Pulot, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara mengalami kerusakan setelah bencana banjir bandang melanda kawasan tersebut pada 26 November 2025, dini hari lalu.
Sebagai mana diketahui, ketinggian air akibat banjir bandang di daerah itu mencapai 3,4 meter. Sebagian rumah warga yang berkonstruksi kayu hilang total dan sebagiannya lagi mengalami kerusakan sedang dan ringan. Banjir di desa itu juga menelan satu korban jiwa.
Warga desa itu terpaksa mengungsi ke beberapa rumah tetangga yang lebih tinggi. Ada juga yang mengungsi ke surau, dan sebagiannya bertahan di atap rumah. Selama 3 hari tanpa makanan dan minuman secara maksimal. Kondisi diperparah dengan hilangnya jaringan seluler disertai listrik padam hingga sebulan penuh.
Dalam keterangannya, Jamaluddin menyampaikan bahwa total kerugian yang ditimbulkan akibat banjir bandang tersebut mencapai Rp 35 juta. Jumlah itu meliputi isi rumah seperti perabotan, lemari, TV, pakaian, kulkas, AC, sepeda motor, peralatan elektronik lainnya dan kerusakan fisik rumah.
AC outdoor tenggelam dan jika diperbaiki kemungkinan memakan biaya sekitar Rp 1.000.000. Kemudian perbaikan kulkas sekitar Rp 700.000, kerugian pada sepeda motor Rp 10.000.000. Peralatan elektronik lainnya seperti penanak nasi, blender, TV, kipas angin, memang tidak dapat diperbaiki sama sekali.
Dapur rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu rusak dan peralatan dapur sebagiannya hilang. Jendela rumah juga rusak dan telah diperbaiki dengan biaya yang dimilikinya. Kemudian pakaian dirinya dan istrinya juga rusak terkena lumpur.
“Kalau saya jumlahkan secara real dan fakta mencapai 35 juta. Tapi walaupun demikian, saya tetap bersyukur karena Allah masih memberikan saya dan keluarga selamat dari musibah banjir ini,” kata Jamaluddin di kediamannya, Jumat 16 Januari 2026.
Jamaluddin berujar, kondisi rumah dan halamannya saat ini tidak lagi seperti sebelumnya. Dalam dan luar rumah penuh dengan lumpur pekat. Beberapa setelah banjir, ia berusaha membersihkan rumah dengan peralatan seadanya.
“Banjir ini benar-benar mengubah suasana. Halaman dan belakang rumah semuanya dipenuhi lumpur. Tanaman juga mati. Parit-parit semua tertimbun lumpur dan tidak dapat berfungsi. Sekarang sedikit hujan langsung tergenang karena tidak ada lagi saluran pembuangan,” ujarnya.



























