TLii [] BANDA ACEH — Ketegangan yang sempat membayangi kepemimpinan di Kabupaten Pidie Jaya akhirnya mencair dalam satu malam penuh makna. Di bawah langit Banda Aceh, Kamis (2/4/2026), Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, mengambil langkah cepat dan tegas: mempertemukan dua tokoh penting yang sempat berselisih, Bupati Sibral Malasyi dan Wakil Bupati Hasan Basri.
Di rumah dinas Wakil Gubernur Aceh, suasana yang awalnya sarat ketegangan perlahan berubah menjadi hangat. Dalam balutan nuansa kekeluargaan, pertemuan dimulai dengan makan malam bersama—sebuah pembuka sederhana, namun sarat makna rekonsiliasi.
Namun di balik hidangan yang tersaji, tersimpan agenda besar: menyatukan kembali kepemimpinan Pidie Jaya.
Fadhlullah tak menunggu waktu lama. Sejak pagi hari, ia telah bergerak senyap namun pasti. Satu per satu pihak dipanggil, didengarkan, dan dipahami. Ia menemui Wakil Bupati Hasan Basri secara terpisah, menyerap kegelisahan yang selama ini terpendam. Siang harinya, giliran Bupati Sibral Malasyi menyampaikan pandangannya.
Sore menjelang, tokoh-tokoh masyarakat ikut dilibatkan. Suara-suara penyejuk dari para pemuka daerah menjadi bagian penting dalam merajut kembali benang yang sempat terurai.
Hingga akhirnya, malam menjadi saksi.
Dalam forum tertutup yang berlangsung intens, dialog demi dialog mengalir. Tak ada lagi sekat, tak ada lagi ego yang meninggi. Hanya ada keinginan untuk kembali berjalan seiring demi masyarakat.
Dan di titik itulah, semua berubah.
Kesepakatan damai tercapai.
Bukan sekadar jabat tangan, momen itu menjelma lebih dalam—Sibral Malasyi dan Hasan Basri saling berangkulan. Sebuah gestur sederhana, namun penuh arti: konflik telah usai, kebersamaan kembali dirajut.
Disaksikan langsung oleh Wakil Gubernur dan para tokoh masyarakat, momen tersebut menjadi simbol kuat bangkitnya kembali soliditas kepemimpinan di Pidie Jaya.
Fadhlullah menegaskan, langkah cepat ini bukan sekadar meredam konflik, melainkan memastikan roda pemerintahan tetap berjalan tanpa hambatan.
“Ini adalah upaya agar pembangunan tidak terganggu, dan pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan bahwa stabilitas adalah kunci. Tanpa persatuan, pembangunan akan pincang. Namun dengan kebersamaan, masa depan Pidie Jaya bisa melaju lebih kuat dan terarah.
Malam itu, Banda Aceh bukan hanya menjadi tempat pertemuan—tetapi menjadi saksi lahirnya kembali harmoni.
Dan dari sana, harapan baru untuk Pidie Jaya kembali menyala. (***)
Sumber: humas pijay


































