Warisan Leluhur (Indatu) Menjerit: Saatnya Generasi Muda Ambil Peran, Pemerintah Jangan Tutup Mata dan Tutup Telinga 

RAMAZANI

- Redaksi

Jumat, 10 April 2026 - 21:12 WIB

50372 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TLii|Aceh|Lhokseumawe — Di tengah gempuran globalisasi yang kian tak terbendung, warisan budaya bangsa seolah “menjerit” meminta perhatian. Generasi muda kini berada di garis depan sebagai penentu: apakah budaya leluhur akan tetap hidup atau perlahan hilang ditelan zaman. (Jum’at, 10/04/2026).

 

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Warisan budaya (cultural heritage) mencakup seluruh peninggalan bernilai yang diwariskan lintas generasi, mulai dari tradisi dan adat istiadat, bahasa daerah, hingga seni dan situs bersejarah. Di Indonesia, kekayaan ini tergambar dalam ragam budaya seperti batik, wayang kulit, Tari Saman, hingga seni bela diri khas Aceh, Silet Nanggroe, yang sarat nilai filosofi dan jati diri.

 

 

Amanat pelestarian budaya telah ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menempatkan masyarakat—terutama generasi muda—sebagai aktor utama dalam menjaga, mengembangkan, dan mempromosikan kebudayaan nasional.

 

 

Namun realitas di lapangan menunjukkan tantangan serius. Minimnya minat terhadap budaya lokal, kuatnya pengaruh budaya asing, serta kurangnya edukasi budaya di lingkungan pendidikan menjadi ancaman nyata bagi eksistensi warisan leluhur “Indatu”.

 

 

Ketua Umum Dewan PANDEKAR ATJEH BUSOE, Abu Siwah, menegaskan bahwa generasi muda tidak boleh kehilangan arah di tengah modernisasi.

 

 

“Budaya itu bukan sekadar warisan, tapi identitas kita. Anak muda Aceh tidak harus terkenal ke dunia dulu, tapi harus bangga dengan dirinya sendiri. Silet, adat, dan bahasa itu adalah pelindung bangsa. Di tangan generasi muda, budaya ini bisa tetap hidup atau justru hilang,” ujar Abu Siwah.

 

 

Dalam konteks kekinian, generasi muda dituntut tidak hanya menjadi pelestari, tetapi juga inovator dan promotor budaya. Upaya konkret dapat dilakukan dengan mempelajari bahasa daerah, aktif dalam kegiatan adat, hingga mengembangkan seni tradisional melalui pendekatan digital seperti media sosial dan platform kreatif.

 

 

Lebih dari itu, budaya harus dikemas ulang agar relevan dengan zaman. Kolaborasi antara budaya dan industri kreatif, penyelenggaraan event budaya yang modern, serta integrasi nilai-nilai budaya dalam sistem pendidikan menjadi langkah strategis yang harus diperkuat.

 

 

Abu Siwah kembali mengingatkan pentingnya menjaga akar budaya sebagai fondasi identitas.

 

 

“Jangan sampai kita sibuk mengikuti budaya luar, tapi lupa dengan akar sendiri. Budaya Aceh ini warisan leluhur ‘Indatu’ yang harus kita jaga, rawat, dan terus kita lanjutkan ke generasi berikutnya,” tegasnya.

 

 

Tak hanya generasi muda, perhatian serius juga ditujukan kepada pemerintah daerah dan pemangku kebijakan, termasuk Wali Nanggroe, agar tidak abai terhadap kondisi ini.

 

 

 

Pemerintah daerah dan Wali Nanggroe sebagai supremasi “otoritas tertinggi” dalam kearifan lokal diminta tidak menutup mata saat budaya lokal mulai tergerus, serta tidak menutup telinga terhadap persoalan peradaban dan kebudayaan Aceh. Dukungan nyata melalui kebijakan, anggaran, dan program berkelanjutan dinilai menjadi kunci agar warisan leluhur “Indatu” tetap hidup dan berkembang di tengah arus zaman.

 

 

Dengan pendekatan yang adaptif dan semangat yang kuat, generasi muda diharapkan mampu menjawab “jeritan” warisan leluhur. Sebab, di tangan merekalah nasib budaya bangsa ditentukan akan tetap berdiri tegak atau hilang tanpa jejak.

 

Silet Nanggroe Tiwah-Busoe Dewan Pendekar Atjeh.

Berita Terkait

STUDENT CELEBRATION DAY KARYA PRESTASI 2026: Wadah Kreativitas, Prestasi, dan Apresiasi Peserta Didik
Semester I 2026, Polres Simalungun Ringkus 69 Tersangka Kejahatan 3C dan Bongkar Perdagangan Satwa Dilindungi
Dari Masjid Jamik ke Stadion PJKA, Pelindo Regional 1 Rayakan 1 Muharram 1448 H Bersama Masyarakat Medan Utara
Sambut HUT Bhayangkara ke-80, Polda Sumut Gelar Bakti Kesehatan Donor Darah untuk Kemanusiaan
“Pengamanan Humanis Warnai Aksi Penyampaian Aspirasi Mahasiswa di Gedung DPRD Sumut”
Polres Simalungun Bongkar Perdagangan Satwa Dilindungi, 30 Kg Sisik Trenggiling hingga Kulit Beruang Madu Disita
Polres Pematangsiantar dan USI Penandatanganan MOU 
Tanam Ganja Dipot,Polres Pematangsiantar Amankan MH Dari Terminal Ex Sukadame 

Berita Terkait

Selasa, 16 Juni 2026 - 17:12 WIB

Semester I 2026, Polres Simalungun Ringkus 69 Tersangka Kejahatan 3C dan Bongkar Perdagangan Satwa Dilindungi

Selasa, 16 Juni 2026 - 16:29 WIB

Dari Masjid Jamik ke Stadion PJKA, Pelindo Regional 1 Rayakan 1 Muharram 1448 H Bersama Masyarakat Medan Utara

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:45 WIB

Sambut HUT Bhayangkara ke-80, Polda Sumut Gelar Bakti Kesehatan Donor Darah untuk Kemanusiaan

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:37 WIB

“Pengamanan Humanis Warnai Aksi Penyampaian Aspirasi Mahasiswa di Gedung DPRD Sumut”

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:25 WIB

Polres Pematangsiantar dan USI Penandatanganan MOU 

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:20 WIB

Tanam Ganja Dipot,Polres Pematangsiantar Amankan MH Dari Terminal Ex Sukadame 

Selasa, 16 Juni 2026 - 15:14 WIB

Pemilik Ganja 12,36 Gram Berhasil Diamankan Polres Pematangsiantar di jalan Merbou

Selasa, 16 Juni 2026 - 13:15 WIB

Lapas Padangsidimpuan Tanam Bibit Jagung di Lahan SAE sebagai Dukungan terhadap Program Ketahanan Pangan Nasional

Berita Terbaru