TLii|Aceh|JAKARTA — Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, S.E., M.M., memenuhi undangan Menteri Agama Republik Indonesia di Jakarta, Kamis (11/6/2026). Kehadiran Bupati yang akrab disapa Ayahwa tersebut untuk mewakili Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), yang berhalangan hadir.
Dalam pertemuan strategis itu, Ayahwa membawa sejumlah agenda penting, mulai dari aspirasi pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional, laporan kerusakan infrastruktur keagamaan pasca-banjir, hingga pengembangan kawasan bersejarah Samudra Pasai.
“Alhamdulillah, hari ini saya berkesempatan bersilaturahmi langsung dengan Menteri Agama Republik Indonesia mewakili Bapak Gubernur Aceh. Kami menyampaikan salam hormat dari Bapak Gubernur serta menitipkan harapan besar dari masyarakat agar pelaksanaan MTQ Nasional mendatang dapat diselenggarakan di Provinsi Aceh,” ujar Ayahwa.
Selain menyampaikan agenda provinsi, Bupati Ayahwa memanfaatkan kesempatan itu untuk melaporkan kondisi terkini sektor pendidikan dan fasilitas keagamaan di Kabupaten Aceh Utara yang mengalami dampak serius akibat bencana banjir beberapa waktu lalu.
Berdasarkan data yang dipaparkan Bupati Ayahwa kepada Menang, banjir merusak puluhan madrasah yang mengakibatkan proses belajar mengajar belum berjalan normal. Fasilitas pendidikan yang terdampak meliputi 15 unit Raudhatul Athfal (RA), 13 unit Madrasah Ibtidaiyah (MI), 10 unit Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan 7 unit Madrasah Aliyah (MA).
Tidak hanya fasilitas pendidikan formal, kerusakan masif juga melanda sarana ibadah dan lembaga pendidikan non-formal (dayah/pesantren) di berbagai wilayah Aceh Utara, masing-masing 205 unit masjid, 213 unit dayah/pesantren, 267 unit meunasah (surau), dan 1.309 unit balai pengajian.
“Akibat kondisi tersebut, proses belajar mengajar dan aktivitas keagamaan di beberapa tempat belum dapat berjalan normal. Kami sangat mengharapkan perhatian dan dukungan berupa rehabilitasi dari Kementerian Agama, mengingat penanganan sarana pendidikan dan fasilitas keagamaan ini berada di bawah kewenangan Kemenag,” tuturnya.
Di hadapan Menteri Agama itu, Bupati Aceh Utara juga mengangkat isu penting lain terkait pelestarian sejarah Islam. Ia mengingatkan kembali bahwa Aceh Utara merupakan situs bersejarah tempat masuknya Islam pertama di Nusantara melalui peradaban Kerajaan Samudra Pasai.
Disampaikan Ayahwa, saat ini, kawasan Monumen Samudra Pasai dinilai masih membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah pusat agar nilai historisnya tidak pudar.
“Pemkab Aceh Utara berharap lahan yang telah kami siapkan di sekitar kawasan monumen dapat dimanfaatkan untuk pembangunan pesantren. Kita ingin kawasan sejarah Samudra Pasai ini kembali hidup dan bangkit sebagai pusat pendidikan sekaligus syiar Islam di Nusantara,” kata Ayahwa.
Dalam momen itu, Bupati Ayahwa secara resmi menyampaikan undangan kepada Menag untuk melakukan kunjungan kerja langsung ke Bumi Malikussaleh. Kehadiran Menag diharapkan dapat meninjau langsung tingkat kerusakan fasilitas keagamaan dan pendidikan di lapangan guna mempercepat langkah penanganan.



























