Sejarah Pembangunan Vihara Avalokitesvara di Banten

REDAKSI

- Redaksi

Sabtu, 25 Mei 2024 - 08:43 WIB

50166 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Vihara Avalokitesvara, di Kelurahan Pabean, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten.(Foto : TLii /Heru)

Vihara Avalokitesvara, di Kelurahan Pabean, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten.(Foto : TLii /Heru)

TLii >> Kota Serang – VIHARA Avalokitesvara terletak di Kampung Pamarican, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten. Avalokitesvara merupakan bahasa Sanskerta untuk Dewi Kwan Im yang diyakini suka menolong manusia dari berbagai kesulitan. Lokasi vihara itu sekitar 500 meter di sebelah utara Masjid Agung Banten dan Keraton Surosowan di Kawasan Banten Lama.

Sejarah pembangunan vihara ini berkaitan dengan Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Syarif Hidayatullah merupakan ayah dari Maulana Hasanudin, pendiri kerajaan Banten. Tokoh penyebar Islam di tanah Jawa ini memiliki istri yang masih keturunan kaisar Tiongkok bernama Putri Ong Tien. Melihat banyak pengikut putri yang masih memegang teguh keyakinannya, Sunan Gunung Jati membangun vihara pada tahun 1542.

Versi lain menyebutkan, vihara ini dibangun pada tahun 1652. Yaitu pada masa kejayaan kerajaan Banten saat dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Awalnya wihara itu dibangun di Kampung Dermayon, sekitar 500 meter di selatan Masjid Agung Banten.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut sejarawan Prancis, Claude Guillot dalam Banten, Sejarah dan Peradaban X–XII, kita hanya memiliki sumber tak jelas mengenai tempat-tempat ibadah orang Tionghoa. Padahal, Banten terkenal karena adanya kelenteng yang dijadikan Vihara Avalokitesvara. Jika sudah ada pada abad ke-17, pasti kelenteng ini disebut-sebut dengan jelas dalam sumber.

Sumber asing yang cukup meyakinkan menyebut tentang kelenteng adalah catatan J.P. Cortemunde yang menghadap Sultan Ageng Tirtayasa pada 1673. Dokter bedah asal Denmark itu menyebut “di Banten mereka memiliki kelenteng yang sangat megah, dengan gambar-gambar setan dari emas atau perak yang memiliki hiasan sangat indah tetapi sangat menakutkan… Mereka biasa mengizinkan para pemeluk agama Nasrani masuk dan melihat seluruhnya”.

Jadi hanya catatan ini yang menyatakan bahwa orang Tionghoa memiliki beberapa kelenteng di Banten tahun 1673,” tulis Guillot.

Sementara itu, terkait Vihara Avalokitesvara, sepasang sejarawan Prancis, Denys Lombard dan Claudine Salmon menyebutkan dalam penelitian mengenai masyarakat dan inskripsi Tionghoa di Banten, bahwa batu bertulis yang tertua di kelenteng itu dibuat tahun 1754. Sedangkan catatan pertama yang menyebutkan tentang kelenteng itu berasal dari tahun 1747, dan sumbernya berupa sebuah akta notaris yang menjelaskan adanya sebuah lahan di sebelah barat “Chineese Tempel”.

Sementara menurut buku Pemetaan Kerukunan Umat Beragama di Banten terbitan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Kementerian Agama, pada 1774, Sultan Banten (Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin, 1773–1799) menghadiahkan sebidang tanah, yang sekarang berdiri bangunan Vihara Avalokitesvara, atas jasa orang Tionghoa yang ikut melakukan ritual keagamaan saat terjadi wabah penyakit yang menyerang penduduk Banten. Wihara itu sampai sekarang berada di lingkungan permukiman penduduk yang beragama Islam.

Jenis penyakitnya tidak diketahui pasti. Namun, kemungkinan wabah sakit perut jika merujuk kepada wabah penyakit yang menyerang Cirebon pada 1772–1773 (dan 1805–1806) yang mengakibatkan seperempat penduduknya meninggal dunia. Sebelumnya, pada 1625, wabah penyakit pes membunuh sepertiga penduduk Banten.

Adapun ritual yang dilakukan orang Tionghoa itu adalah mengarak Patung Dewi Kwan Im.

Arsitektur Vihara

Gerbang dengan atap berhiaskan dua naga memperebutkan mustika sang penerang (matahari) menyambut pengunjung di pintu masuk sebelum pengunjung masuk lebih ke dalam vihara yang memiliki nama lain kelenteng Tri Darma ini.

Sebutan Klenteng Tri Darma diberikan karena vihara ini melayani tiga kepercayaan umat sekaligus. Yaitu Kong Hu Cu, Taoisme, dan Buddha. Walaupun diperuntukan bagi 3 umat kepercayaan namun bagi wisatawan yang beragama lain sangat diperbolehkan untuk berkunjung dan melihat bangunan yang saat ini termasuk dalam cagar budaya di Provinsi Banten ini.

Vihara Avalokitesvara memiliki luas mencapai 10 hektar dengan altar Dewi kwan Im sebagai altar utamanya. Di altar ini terdapat patung Dewi Kwan Im yang berusia hampir sama dengan bangunan vihara tersebut. Selain itu di sisi samping kanan dan kiri terdapat patung dewa-dewa yang berjumlah 16 dan tiang batu yang berukir naga.

Kelenteng yang pernah terbakar pada tahun 2009 ini juga memiliki ukiran yang menceritakan bagaimana kejayaan Banten Lama saat masih menjadi kota pelabuhan yang ramai. Terletak di samping vihara, ukiran ini juga menceritakan bagaimana vihara ini digunakan sebagai tempat berlindung saat terjadi tsunami beserta letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883.

Berita Terkait

Hadiri Maulid di Empat Gampong, Wali Kota Langsa Serukan Penguatan Iman dan Ukhuwah Islamiyah
Dapat Apresiasi Wali Murid, Kepala SMAN 1 Badar Agara Perkuat Strategi Sukseskan TKA 2026
Duo Nur Beruntung, Dua IRT Bawa Pulang Sepeda Listrik di Jalan Sehat KNPI Langsa
Tujuh Rumah Terbakar di Permata Punie, Dinsos Aceh Besar Salurkan Bantuan Masa Panik
Kakanwil Imigrasi Sumut Hadiri Pelantikan DPP Horas Bangso Batak, Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor
Bertabur Hadiah, Jalan Sehat Semangat Juara KNPI Langsa di CFD Diikuti Ribuan Warga
Satresnarkoba Polres Gayo Lues Amankan Pria di Kutapanjang, Sabu 0,07 Gram Disita
Danlanud El Tari Bangun Generasi Tangguh NTT, Perkuat Asta Cita Menuju Indonesia Emas 2045

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:47 WIB

Hadiri Maulid di Empat Gampong, Wali Kota Langsa Serukan Penguatan Iman dan Ukhuwah Islamiyah

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:13 WIB

Dapat Apresiasi Wali Murid, Kepala SMAN 1 Badar Agara Perkuat Strategi Sukseskan TKA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 - 16:12 WIB

Duo Nur Beruntung, Dua IRT Bawa Pulang Sepeda Listrik di Jalan Sehat KNPI Langsa

Minggu, 25 Oktober 2026 - 16:04 WIB

Tujuh Rumah Terbakar di Permata Punie, Dinsos Aceh Besar Salurkan Bantuan Masa Panik

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:47 WIB

Kakanwil Imigrasi Sumut Hadiri Pelantikan DPP Horas Bangso Batak, Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:36 WIB

Satresnarkoba Polres Gayo Lues Amankan Pria di Kutapanjang, Sabu 0,07 Gram Disita

Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Danlanud El Tari Bangun Generasi Tangguh NTT, Perkuat Asta Cita Menuju Indonesia Emas 2045

Minggu, 25 Oktober 2026 - 09:06 WIB

Dana Rutin Pengajian Orang Tua Desa Kutabaru Aceh Tenggara Tahun 2024 Disorot, Pj Pengulu Diminta Jelaskan Dugaan Gaji Belum Dibayarkan

Berita Terbaru