TLii | ACEH – Blangkejeren, 12 Juli 2025 – Suasana Sabtu Sore di Warung Taqi Ponsel, dekat Tugu Blangkejeren, terasa sedikit berbeda. Bukan cuma karena aroma kopi hitam yang mengepul, tapi karena hadirnya sosok yang tak asing bagi warga Gayo Lues: Tugu Blangkejeren jadi saksi bincang santai dua tokoh sentral Gayo Lues: H. Ibnu Hasym, mantan Bupati dua periode kini duduk di kursi DPRK Gayo Lues, yang tetap vokal soal pertanian daerah Bersama Kang Juna dari Seputar Gayo Lues serta Ramli Uring, eks Keuchik Uring yang kini menjabat sebagai Mukim Goh Lemu, Kecamatan Pining.
Di balik cangkir kopi dan aroma khas warung rakyat, obrolan mereka bukan basa-basi. Soal sawah, padi, dan alih fungsi lahan jadi topik utama—isu lama yang kini makin mendesak.
Pak Ibnu membuka memori saat ia masih menjabat Bupati pada 2006. Saat itu, Gayo Lues punya sekitar 8.000 hektare sawah aktif. Tapi sekarang? Hanya tinggal 4.200 hektare. Sisanya sudah berganti rupa: jadi pemukiman baru, lahan jagung, cabai, hingga hortikultura. Contoh nyatanya bisa dilihat di Kompleks Melati, kawasan Badak, dan Desa Sepang, ungkapnya.
Menurut kalkulasinya, satu hektar sawah menghasilkan rata-rata 4,2 ton padi. Dengan 4.200 hektar, total produksi mencapai 17.640 ton per tahun. Bila dikurangi 35% untuk kerugian pascapanen dan kebutuhan lain, hasil bersihnya sekitar 11.466 ton beras/tahun. Jumlah ini sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan 114.000 penduduk Gayo Lues, yang secara rata-rata mengonsumsi 6,25 kg beras per bulan per orang (atau sekitar 7.800 ton per tahun).
Artinya, kita ini surplus,” tegas Pak Ibnu.
“Secara hitung-hitungan, kita masih surplus. Tapi kenyataannya, beras kita malah terasa langka. Kenapa? Karena banyak petani menjual padi ke luar daerah,” kata Ibnu Hasym, sambil menyeruput kopi.
Namun, fakta di lapangan tak semanis hitungan di atas kertas. Banyak warga tetap membeli beras. Pasokan lokal kerap kosong.
Menurut Pak Ibnu, akar persoalan ada di sistem distribusi dan manajemen hasil tani. Tidak ada lumbung padi masyarakat yang aktif. “Dulu, tiap kampung punya keben—tempat penyimpanan padi. Sekarang? Hampir tak ada. Banyak Petani langsung jual habis, apalagi kalau harga luar lebih tinggi.”
Lahan pertanian pun mengalami alih fungsi masif. Banyak sawah dikonversi jadi pemukiman baru atau lahan holtikultura seperti jagung dan cabai. “Lihat saja kompleks Melati, kawasan Badak, sampai ke Sepang. Semua itu dulunya sawah,” ujar Pak Ibnu.
Di kampung Rempelam Pinang kecamatan Terangun, jejak sawah bahkan nyaris tinggal kenangan. Di beberapa daerah Bencana alam di beberapa titik turut mempercepat konversi ini.
Ia menekankan pentingnya pemerintah membeli gabah langsung dari petani untuk menyiapkan cadangan pangan daerah. “Bangun lagi lumbung-lumbung padi di desa. Aktifkan BUMDes atau koperasi tani sebagai penyerap hasil panen.”
Ibnu pun menyarankan solusi konkret: Pemerintah daerah harus turun tangan membeli dan menampung padi masyarakat, Buat skema penampungan hasil panen, jadi petani tidak tergoda menjual ke luar.”
Minimal bangun dua lumbung padi dengan anggaran Rp2 miliar per unit. “Jangan banyak-banyak, dua saja cukup sebagai percontohan,” ujarnya lugas.
Di tengah tantangan pangan, Ibnu Hasim mengingatkan bahwa warga yang kini tergolong sejahtera adalah mereka yang punya lahan komoditas ekspor: cokelat, sere wangi, getah tusam, dan nilam. Diversifikasi tetap penting, namun bukan berarti melupakan kebutuhan pokok seperti beras
Ramli Uring, sebagai Mukim Goh Lemu, ikut angkat bicara. Di wilayahnya, khususnya Desa Uring Kecamatan Pining, masyarakat hidup cukup sejahtera berkat sere wangi, getah, dan sawah seluas 100 hektare. Tapi bukan berarti tanpa masalah.
Menurutnya, kawasan persawahan Atu Belah sangat membutuhkan perhatian pemerintah. “Irigasi dan parit sawah kami sudah lama butuh perbaikan. Harapan kami, pemerintah daerah bisa segera turun tangan,” ucap Ramli.
Di akhir bincang-bincang, dua tokoh ini sepakat bahwa pertanian adalah jantung Gayo Lues, tapi kini sedang dalam ancaman serius. Lahan menyusut, sistem penyimpanan lemah, dan pengelolaan air belum maksimal. Padahal, kekayaan petani tak hanya dari padi, tapi juga sere wangi, coklat, tusam, dan nilam.
“Kalau dibiarkan, Gayo Lues bisa jadi tanah subur yang kehilangan identitasnya. Kita perlu tumbuh, tapi jangan lupa akar,” pungkas Ibnu Hasym dengan nada reflektif.
Kang Juna – Reporter Seputar Gayo Lues
Ngopi boleh, tapi lupa sawah jangan.


































