TLii | ACEH | Gayo Lues – M. Riko, salah satu aktivis muda Gayo Lues, menanggapi keras pernyataan anggota DPR Aceh dari Daerah Pemilihan (Dapil) VIII, Rijaluddin, SH, MH, yang sebelumnya mengkritik keberadaan pabrik pengolahan getah pinus di Gayo Lues. Rabu (06/08/2025).
Dalam pandangannya, Riko menilai bahwa pernyataan Rijaluddin bukan hanya minim solusi, namun juga tidak berdasar dan cenderung memperkeruh situasi di tengah upaya masyarakat dan pihak-pihak terkait membenahi tata kelola industri hasil hutan non-kayu tersebut.
“Alih-alih menghadirkan solusi konstruktif yang bisa memperkuat posisi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, beliau justru menyampaikan narasi yang provokatif dan menyederhanakan persoalan kompleks yang sedang dihadapi warga Gayo Lues,” ungkap Riko dalam keterangannya.
Sebelumnya, dalam sebuah pernyataan yang beredar di media, Rijaluddin menyebut bahwa aktivitas pabrik getah pinus di Gayo Lues tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat dan bahkan menyebut kabupaten ini sebagai “ladang eksploitasi”. Pernyataan ini menuai reaksi dari sejumlah pihak, termasuk aktivis dan mahasiswa yang selama ini mengawal isu-isu lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Riko menegaskan bahwa meskipun terdapat sejumlah catatan kritis terhadap pengelolaan pabrik dan praktik perusahaan, namun perlu pendekatan yang solutif dan berbasis data. Ia menilai sikap seorang legislator seharusnya mendorong perbaikan regulasi, memperkuat posisi tawar masyarakat, dan mendorong transparansi serta akuntabilitas perusahaan—bukan malah memproduksi pernyataan yang bisa memperbesar konflik horizontal maupun menciptakan ketegangan antara masyarakat dengan pelaku usaha.
“Jika memang ada ketimpangan atau pelanggaran dalam praktik perusahaan, maka yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mendorong audit lingkungan, mengevaluasi izin, serta membentuk tim pengawas independen. Bukan menyampaikan opini sepihak tanpa data, yang justru berpotensi menggiring opini publik ke arah yang keliru,” tambah Riko.
Lebih lanjut, Riko juga mempertanyakan komitmen Rijaluddin selama menjabat sebagai anggota legislatif. Menurutnya, publik Gayo Lues belum melihat adanya langkah nyata yang diambil Rijaluddin untuk memperjuangkan regulasi atau program perlindungan hutan dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan secara konkret.
“Kami berharap para wakil rakyat tidak hanya aktif di media, tetapi juga hadir secara langsung di tengah masyarakat, menggali informasi dari akar rumput, dan turut merancang solusi kebijakan. Karena sejatinya, pengawasan dan advokasi harus dilakukan dengan pendekatan sistemik, bukan sekadar retorika,” tegasnya.
Riko juga menyampaikan bahwa masyarakat Gayo Lues saat ini membutuhkan kehadiran negara melalui regulasi yang adil, edukasi berkelanjutan kepada masyarakat pengelola hutan, serta penguatan koperasi dan kelompok tani getah pinus yang mandiri. Ia mengajak semua pihak, termasuk DPR Aceh, untuk tidak menjadikan isu ini sebagai panggung politik semata, tetapi sebagai panggilan untuk menyelamatkan hutan dan masa depan masyarakat Gayo Lues. (red).


































